Menanam Pohon Kehidupan, Menanam Rahmatan Lil ‘Alamin

orasi budaya Candra Malik
orasi budaya Candra Malik

HARI-HARI ini kita semakin sering mendengar kata Rahmatan Lil ‘Alamin didengungkan, terutama oleh orang-orang beragama Islam. Kata ini diambil dari Q.S. Al-Anbiya: 107 yang berbunyi, “Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘aalamiin”, yang artinya,” Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta raya.” Sungguh agung firman Allah ini dan sungguh besar tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkannya.

Kita? Ya, kita.

Allah, dalam ayat-ayat suci, menyebut DiriNya sendiri dalam empat panggilan. Tiga kata ganti subyek yang pertama adalah Aku, Engkau, dan Dia. Ketiganya bermakna tunggal. Yang keempat, Allah menggunakan Kami, namun bukan untuk menegasikan KetunggalanNya sendiri. Kata Kami diperuntukkan menegaskan keterlibatan utusan-utusan Allah dalam urusan-urusan tertentu. Ya, setiap urusan memang selalu disertai utusan. Juga dalam hal menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Ayat yang sangat populer ini memang dikhususkan untuk mengukuhkan dan mengokohkan kehadiran Muhammad SAW sebagai Sang Utusan, Rasulullah, untuk menjadi anugerah bagi semesta raya. Sangat jelas, Allah memilih redaksi rahmatan lil ‘alamin, bukan lil muslimin, bukan lil mu’minin, bukan lil mukhlishin, bukan pula lil muttaqin. Artinya, Nabi terakhir dan Rasulullah ini bukan hanya rahmat bagi orang Islam, orang beriman, dan seterusnya, tapi bagi kita semua.

Perkaranya kemudian, apakah tugas untuk menjadi rahmat bagi semesta raya ini berhenti hanya pada Muhammad bin Abdullah? Sepeninggal Beliau, apakah kemudian rahmatan lil ‘alamin ini hanya tinggal kenangan pula? Bukankah Risalah Islam, yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tetap terjaga selama-lamanya? Bukankah Muhammad telah mewariskan uswatun hasanah yang bahkan diteladani masyarakat dunia? Dan bukankah Muslim adalah umat terbaik?

Saya pribadi berpendapat bahwa umat Islam, yang bahkan merupakan umat terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab penuh dalam meneruskan dan memastikan kepenerusan tugas untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin ini. Dan, tak perlu berbicara jauh melintasi khilafiyah dan khilafah untuk menegaskan hal itu. Cukup kita sadari saja satu hal mulia di dalam Islam, yaitu thaharah. Bersuci. Inilah ritual yang mendasari sebagian besar, jika bukan seluruh, ritual Islam.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi disebutkan, “Ath- thahuuru syatrul iimaan. Bersuci itu sebagian dari iman.” Dalil ini menjadi teramat sangat kontekstual karena kita sama-sama tahu bahwa seluruh umat Islam di dunia diwajibkan untuk wudhu, atau memastikan dirinya terbebas dari hadats besar dan hadats kecil, sebelum mendirikan salat. Dan, kita juga sama-sama tahu, bahwa salat yang diwajibkan bagi umat Islam adalah lima waktu.

“Ash-shalaatu ‘alaa waqtihaa,” pesan Rasul Muhammad SAW. Jika setiap tiba waktu Isya, Subuh, Dhuhur, Ashar, dan Maghrib, umat Islam serentak memenuhi seruan untuk salat, berapa jumlah air yang digunakan untuk berwudhu? Adakah yang pernah nyata-nyata menghitungnya? Belum lagi jika ditambah lagi penggunaan air suci untuk setiap batal wudhu. Masih ditambah lagi untuk mandi besar seusai junub. Tak bisa dihitung lagi jika bahkan ada yang bertirakat menjaga wudhu.

Air adalah sumber kehidupan. Dan umat Islam menggunakan sumber kehidupan ini dalam skala teramat sangat besar sejak Muhammad SAW menerima perintahNya untuk salat lima waktu dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yakni 1,5 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Menjadi nyata bahwa Muhammad SAW, Risalah Islam, dan umat Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin jika mengambil peran yang nyata pula untuk menjaga air tetap mengalir di bumi dan air dari langit tidak menjadi air bah.

Krisis air di berbagai penjuru dunia kini menjadi tema yang teramat penting untuk tidak hanya dibicarakan. Air tanah terus menipis, pohon-pohon terus ditebangi, air hujan yang membawa rahmat dari langit justru semakin sering dituduh membawa banjir. Padahal, air mampat di mana-mana lantaran manusia sendiri yang sengaja atau tidak sengaja mengganjal saluran air dengan sampah-sampah dari buangan nafsu-nafsunya sendiri yang semakin tak terkendali. Manusia juga mencemari air.

Memang, thaharah tidak selalu dengan air. Bisa juga dengan tanah yang bersih. Tapi, itu justru mempertegas tugas mulia umat Islam sebagai pembawa rahmat bagi semesta raya, yaitu menjaga tanah dan air. Umat Islam memiliki tugas mulia untuk menjaga tanah air! Ya, tanah dan air tak pernah bisa dipisahkan, memang. Dari perkara thaharah saja, ternyata terbuka sangat lebar pintu gerbang untuk menjadi penerus kehadiran Rasulullah Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karena itulah, saya mengajak umat Islam pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya, untuk menanam pohon. Mari kita menanam pohon! Pohon adalah perwujudan paling nyata dari bersatunya tanah dan air. Bahkan, di dalamnya juga terkandung anasir udara dari oksigen di pagi hari dan nitrogen di malam hari, dan anasir api dari sinar dan panas matahari yang diserapnya dengan dedaunan. Dan, bukankah keempat anasir itu juga anasir dari diri manusia? Udara, air, api, tanah.

Maka, menanam tumbuhan di bumi kita sesungguhnya menanam kemanusiaan bagi diri kita sendiri. Menanam adalah mereproduksi kebahagiaan untuk anak cucu kita kelak. Menanam adalah bentuk perlawanan paling nyata terhadap tabiat merusak yang dicitrakan kepada manusia. Menanam adalah perlawanan terbesar melawan egositas kita sendiri, perang yang oleh Rasulullah Muhammad SAW disabdakan sebagai perang yang lebih besar dari Perang Badar.

Apalagi jika air adalah sumber kehidupan, maka pohon adalah kehidupan itu sendiri. Dalam ajaran Wahananing Dhat, pada Serat Wirid Hidayat Jati yang ditulis oleh Ronggowarsito, disebutkan bahwa yang paling awal Dia adakan adalah Hayyu, atau Hidup, atau yang oleh lidah Jawa dibaca Kayu, yaitu Sajaratul Yaqin, yang bermakna Pohon Kehidupan. Oleh karena itulah, menjaga tanah, air, tanah air, dan menanam pohon sama halnya meneladani af’al Allah yang menanam kehidupan.

Tidak hanya sampai di sini. Bahkan, Allah menggunakan pohon sebagai misal bagi kalimat thayyibah, atau perkataan yang baik, yang tentu saja dituturkan oleh lisan orang-orang yang baik pula. Dalam Q.S. Ibrahim: 24, Dia berfirman, “Tidakkah engkau perhatikan Allah telah membuat perumpamaan kalimat thayyibah seperti pohon yang baik, yang akarnya teguh (menghujam ke tanah) dan batangnya (menjulang) ke langit?” Betapa terlihat jelas kedudukan pohon yang tinggi.

Dan, dalam riwayat hidup manusia, kita juga semestinya menjaga pohon silsilah, kan? Pohon lagi, pohon lagi, pohon lagi. Kodrat kehidupan dari segala yang hidup, terutama manusia yang ditahbiskan untuk berperan utama sebagai pemimpin di muka bumi, khalifah fil ardli, adalah untuk menanam, merawat, menumbuhkan, dan melestarikan kehidupan itu sendiri, jika tidak menginginkan bangsa yang Allah muliakan dengan akal ini pada akhirnya punah gara-gara perbuatan bodohnya sendiri merusak bumi sebagai rumah.

Menanam pohon adalah menyambungkan dan menghubungkan antara yang di bumi dan yang di langit. Menanam pohon ialah menyambungkan dan menghubungkan antara yang di dunia dan di akhirat. Jika iman sebagai akar, agama sebagai pokok batang beserta dahan, ranting, dan daun, kemudian perbuatan baik sebagai buah dari pohon itu, bukankah tugas mulia untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin harus kita mulai dengan menanam pohon? Pun menjaga tanah dan air menjadi wajib.

Menjaga tanah air, sebagaimana menjaga tanah dan air, adalah keniscayaan bagi manusia. Ia yang dilahirkan oleh manusia, bertumpah darah di bumi manusia, lalu makan dan minum dari hasil bumi dan air tanah, bahkan kelak dikebumikan di bumi ini pula; yang dikremasi pun abunya akan kembali ke abu yang menyatu ke udara yang meliputi seisi bumi ini juga, tak bisa melepaskan diri dari kemutlakan untuk menjaga manusia dan kemanusiaannya. Maka, wajib bagi kita menanam Cinta.

 

Disampaikan dalam Orasi Budaya Tribute to Kretek “Menanam Adalah Melawan” di Hutan Kota Sanggabuana, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta, pada 31 Mei 2017.