Merayakan Idul Fitri, Memaknai Silaturahmi Kretek

merokok
merokok

Kretek adalah sarana komunikasi. Begitu pun Idul Fitri bagi umat muslim sedunia. Keduanya adalah medium dan sarana bersilaturahmi. Saling kunjung mengunjungi, mempertautkan hati pada yang fitrah. Merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan seperti yang disyaratkan kitab suci, tentu tak sebatas merayakan kemenangan atas tunainya berpuasa selama sebulan. Merayakan Idul Fitri adalah menghikmati nilai-nilai kebersamaan.

Sejatinya silaturahmi juga tercermin pada kandungan kretek. Adalah sintesa tembakau dan cengkeh. Saling melengkapi. Terbalut dalam harmoni keIndonesiaan. Menjadi bagian dari suguhan penanda di meja lebaran. Tak ayal berkelindan di antara kudapan dan percakapan.

Kembali ke fitrah adalah berpulang pada pemaknaan hak sebagai cinta. Fitrah bangsa yang bermartabat tertampak pada kearifan sikap. Hal ini pula yang mestinya segera disadari antirokok. Mengingat kebiasaan mereka mempolitisir segala hal, termasuk Ramadhan sebagai bahan kampanye mereka.

Tidaklah keliru, jika di hari yang fitri antirokok menjadikannya sebagai sarana peningkatan kualitas penalaran. Menalar yang baik sebagai yang baik. Dan bukan sebagai proyek menzalimi kearifan budaya. Dengan didasari kejumawaan diri; bahwa aku lebih sehat, aku lebih salih, aku lebih baik dari yang merokok. Tentu tak elok, jika di hari lebaran masih saja kampanye kesehatan tentang bahaya rokok, sembari pula melahap segala yang berkolesterol tinggi atas nama aji mumpung.

Sudah sepatutnya kita belajar dari keragaman suguhan di atas meja lebaran. Bermacam-macam jenis kudapan, dari genre modern sampai genre tradisional nan khas. Semua ada. Pula kerabat maupun tetangga yang bertandang, apalagi itu perokok, setelah bermaaf-maafan, tak jarang setelah itu jika ingin berpanjang cakap seraya meletakkan rokok dari sakunya di atas meja.

Merayakan kebersamaan bukan melulu merayakan baju baru yang matching maupun sewarna. Kebersamaan pada hakikatnya adalah mempertautkan rasa, dan hal-hal yang lekat pada kedirian setiap orang. Membaurlah dengan gembira niscaya kebersamaan terbina.

Kretek non filter sah-sah saja bercakap-cakap dengan kretek berfilter, kretek mild sah-sah saja bercakap-cakap dengan kretek mentol. Yang lupa bawa rokok, ya sah-sah-sah saja mencabut dengan santun rokok yang tersuguh. Namun ketika hakku dan hakmu berbenturan. Ambillah sikap toleran. Utamakan hal-hal etik yang berlaku, tanpa harus membuat suasana jadi kaku.

Seperti yang sudah-sudah selepas hari kedua lebaran, tak sedikit orang berplesiran ke tempat-tempat wisata. Berbagai suku, warna baju, maupun potongan rambut, merayakan lebaran kedua-ketiga keluar dari lingkungan rumah. Ada yang ke kebun binatang, ke kebun raya, ke wahana air, ke wahana klangenan, dsb. Meleburkan segala yang tertunda ke ruang-ruang yang bisa merayakan kebersamaan.

Namun sebelum jauh bersilaturahmi ke tempat-tempat wisata, pastikan sudah kita tunaikan mengunjungi orang-orang yang kita hormati dan cintai. Orang tua dan guru. Memohon maaf atas segala tindak kezaliman kita, baik yang masih dalam pikiran, ucapan, maupun tindakan.

Memaknai yang hak sebagai cinta adalah menanggalkan segala ego dan kebencian yang terlanjur berkalang penat pada diri. Selanjutnya jangan pula kelewat, untuk meminta maaf kepada sebangsa senetizen, yang tanpa sadar kita zalimi sebab kedengkian kita sendiri dalam menilai sesama.

Selamat Idul Fitri dan selamat liburan, maaf lahir-batin kretekus sedunia.