Keisengan Lawas Perokok Senior

Perokok-Senior
Perokok-Senior

Bagi anak tongkrongan Jakarta pada era 90-an yang merokok pasti sudah nggak asing lagi dengan keisengan bermain-main sama rokok dan bungkusnya. Jangan ditanya kenapa mesti ada keisengan di tongkrongan perokok pada masa itu. Yang pasti Isaac Newton dulu dapat ilham teori gravitasi bukan karena iseng nungguin apel jatuh juga.

Tahu kan kalau bungkus rokok itu ada plastik kemasan luarnya? Nah di kehidupan perokok yang lagi dirundung keisengan, plastik kemasan itu ditarik setengah keluar dan kemudian disundut sampai bolong. Lalu asap rokok dikebulkan ke dalam lobang sundutan. Selanjutnya asap rokok yang sudah penuh di dalamnya cuma buat diketuk-ketuk agar asapnya keluar dengan pola bulat. Selo banget kan, coba biar kenapa itu? Ehe…

Memang sih ada kecenderungan sebagian perokok senang menyaksikan asap rokok bekerja. Memainkan tarian yang diperulah angin. Apalagi suasana ruangan didukung cahaya lampu yang ‘blues’ banget. Ada sensasi yang menghibur saat asap rokok membentuk sesuatu yang unik. Bahkan pada penggarapan film genre tertentu, instrumen asap rokok betul-betul dikondisikan, kebutuhan efek artistik untuk menguatkan kesan pada pengadegan. Sensasi visual ini memiliki nilainya sendiri. Tiap penikmat punya penjelasannya masing-masing. 

Umumnya kesenangan semacam itu dilakukan perokok pada level ingin membunuh waktu. Waktu kok dibunuh. Yaiyalah, manusiawi kok. Setiap orang punya sisi homo ludensnya masing-masing. Ketimbang bermain-main dengan hukum dan kepentingan rakyat banyak, ya mending mainin bungkus ama asep rokok aja.

Selain mendapat penghiburan dari asap rokok, ada juga kehidupan ludik (berasal dari kata latin ludus berarti ‘permainan’) yang berlaku di kalangan perokok pada era itu. Era dimana gawai dan spinner belum menyibukkan tangan manusia modern. Apakah kegiatan budiman tersebut? Yak, tepat. Bermain judi dengan menebak angka yang terdapat pada belakang bungkus rokok. Yang seiring berubahnya kemasan, letak angka itu berpindah tempat ke bagia atas bungkus rokok.

Saat tulisan ini diketik, seorang kretekus cum seniman grafis andalan bangsa saya tanyakan terkait pengalamannya akan permainan itu. Bukan kebetulan memang kami pernah hidup di era yang sama.

“Yo nek Gudang Garam mesti 8 angkane.”

“Kok bisa, Lop?”

“Kediri itu menganut mitos dari Gunung Kawi.”

“Owh, angka keberuntungan.”

“Lha iyes.”

Dia juga bercerita singkat dari mana hal itu diketahuinya, juga soal fungsi colour bar yang terdapat pada bungkus Gudang Garam. Yang disebutnya sebagai kode untuk percetakan. Yang digunakan sebagai panduan untuk mencocokkan warna hasil cetakan dengan colour guide. Warna yang terdiri dari merah, hitam, biru, emas.

Konon kalau filter rokoknya digosok-gosokkan pada salah satu warna dapat mempengaruhi cita rasa rokok yang akan dihisap. Bagian ini menurut sumber yang lain, jika filternya digosok pada warna merah, rasa tembakaunya lebih tajam dan lebih keras dari biasanya. Dan kalau mau lebih kalem, kononnya tinggal digosokkan ke bagian warna emasnya. Rasa tembakaunya akan berubah lebih halus. Konon lho ya.

Dari dua gambaran keisengan itu, bisa kita simpulkan bahwa aktivitas merokok memiliki dimensi yang mencirikan zamannya. Jika dulu keisengan perokok masih bisa disalurkan melalui rokok dan bungkusnya. Tentu di masa kini keisengan itu sudah bukan lagi aktifitas yang lazim. Karena apa? Karena hal-hal yang ludik pada manusia kekinian telah tergantikan oleh berbagai medium baru.