Omnivora Perokok Berkisah

rokok_tahlilan

Sebut saja karena dari sebangsa omnivora, maka soal menghisap rokok pun saya termasuk pemangsa segala. Segala merek rokok lho ya. Misalnya, saat berkenan hadir pada acara tahlilan warga. Apa pun merek rokok di gelas yang tersuguh pasti saya comot. Jangan kira cuma sebatang dua batang, mau berfilter atau tidak, rejeki itu saya nikmati di tempat, tanpa ragu. Sambil diselingi ngobrol ngalor-ngidul dengan peserta tahlilan, yang rata-rata warga sekitar rumah dan lebih senior dari saya umurnya.

Satu hal yang berbeda, sejak sudah bekerja saya pantang mengantongi pulang rokok suguhan tahlilan. Bukan apa-apa, pertama, rokok saya di rumah juga masih ada, kedua, saya tahu ada yang lebih pantas untuk berlaku begitu. Lain hal semasa masih nganggur. Rokok tahlilan sungguh menyelamatkan.

Salah satu trik ekonomis dari perokok yang omnivora ini. Yang boleh ditiru boleh juga dinggap ter-la-lu. Saya memang sengaja tidak membawa rokok sendiri dari rumah, bagi orang yang punya kaca pandang bijak. Pastilah saya dituduh tipe perokok yang sangat memuliakan rejeki pemberian empunya hajat. Hehe. Iya dong, buat apa lagi coba rokok disuguhkan kalau bukan untuk dinikmati peserta tahlilan macam saya.

Lain hal kalau harus begadang di Pos Kamling untuk urusan ronda bergilir, iya bawa stok lebih dari satu bungkus mesti. Tebar bungkus pertama, lalu buka papan catur, sementara yang lain sudah melingkar main gaple, maka guyublah. Yang ada di pos ronda tidak semua perokok memang. Tetapi tidak ada secuil pun tuh air muka kebencian atau sikap alergi terhadap perokok.

Betul sekali, sob. Rokok adalah modal sosial. Kalau dulu, kretek bermerek 234, pada masa dimana saya pernah punya calon abang ipar seorang kretekus. Baru calon lho ya. Merek yang satu itu pastilah jadi semacam rokok sajenan pas wakuncar (waktu kunjung pacar), nge-date lah istilah kekiniannya.

Boleh saja, kalau itu disebut sebagai gratifikasi, tapi dulu itu belum ada KPK, dan yang saya pacari juga bukan dari keluarga pejabat negara. Ya kalee, gratifikasi cuma sebungkus doang. Terus mesti diusut dan jadi isu nasional. Soal nanti rokok gratifikasi itu dihisap atau dijadikan modal lain, misalnya buat modal ketemu calon mertuanya gitu, iya hora urus. Yang penting kan pacaran dengan adiknya lancar.

Ini sih saya blak-blakan saja ya, tapi jangan bilang ke siapa-siapa, saya dari dulu tidak mengistimewakan satu merek rokok pun, apalagi sampai mengidentik pada diri. Sebagaimana Slash gitaris gaek dengan rokok putihnya itu.

Meski orang bilang merek yang ini atau yang itu mantap luar biasa, bergengsi, dan gue banget, tetap saja yang mendaku begitu, saat rokok kebanggaannya habis, dan tak ada pilihan lain selain menghisap rokok yang ada di kalangan. Iya dia hisap juga rokok lainnya. Namun dalam urusan memuliakan orang dengan rokok, sebaiknya belikan rokok yang biasa orang itu hisap.

Gambaran ini bukan suatu hal baru di masyarakat kita. Memang kita ini omnivora kok. Ya sayuran, ya daging, ya buah-buahan, kacang-kacangan, masuk semua. Termasuk dalam hal merokok. Iya pernah merasa serba salah, pernah merasa serba benar juga.

Jika kita bicara soal identitas yang Indonesia punya, kretek jelas tak tergantikan. Mau itu berfilter atau tidak, orang luar pun mengakui aroma yang khas pada kretek. Yakni harum rempahnya. Maka coba saja perhatikan, ini sih berdasar pengalaman secuil yang saya dapat, di mana pun acara tahlilan atau selametan digelar. Pasti merek rokoknya tak jauh-jauh dari Gudang Garam Filter, Djarum Super, Dji SamSoe, atau Sampoerna Kretek. Sejak muncul jenis kretek mild tak jarang turut hadir di antaranya. Di kampung malah mbako, cengkeh,dan wur disuguhkan di piring untuk para tamu. Entah kenapa, kalau rokok putih alias non kretek, tidak pernah saya dapati di gelas acara tahlilan. Tahu nggak kenapa?

Jadi gini, negeri kita yang kaya akan nilai-nilai kearifannya memaknai persembahan bukan sebatas pemberian tanpa asas. Apalagi itu ditujukan kepada sesuatu yang disakralkan atau sosok yang dihormati. Tentu asasnya berdasar apa yang pantas dan disukai entitas penerimanya. Suatu persembahan yang bersifat aksiologis. Mengandung nilai guna dan kepantasan.

Apakah rokok putih tidak pantas tersuguh di gelas acara selametan? Iya pantas-pantas saja. Sebuah kepantasan itu tentu berakar pada nilai-nilai yang diyakini suatu masyarakat. Perlu diketahui lagi, kretek sudah lebih dulu diyakini memiliki nilai guna dibanding rokok putih. Dan kretek sudah menjadi sesuatu yang habituatif di masyarakat kita. Sudah menjadi bagian dari tradisi.