Persahabatan Sejati Che Guevarra dengan Cerutu

“Mengisap cerutu di kala senggang ialah sobat sejati bagi pejuang yang kesepian.” ~ Ernesto Guevarra

Bagi banyak orang, Ernesto Guevarra adalah seorang revolusioner sejati. Pilihannya untuk meninggalkan posisi nyaman di pemerintahan Kuba, tentu setelah kemenangan yang Ia raih dalam revolusi, jelas adalah bukti kebesarannya. Kembali ke jalur revolusi lebih memikat ketimbang jabatan menteri. Kebebasan dan kesejahteraan rakyat Amerika Latin adalah harga mati baginya.

Jalan revolusi yang dipilihnya memang membawa Che Guevarra pada akhir hidup yang tragis. Meski begitu adalah hormat yang Ia dapat dari jalan hidup yang penuh pengorbanan.

Hampir sama seperti Tan Malaka, jalan yang mereka pilih adalah jalan yang sunyi. Jalan yang penuh penderitaan dan kesepian. Bedanya, Che memiliki anak dan istri. Sementara Tan memilih hidup sendiri hingga akhir hayatnya.

Walau memiliki keluarga, boleh dibilang hidup Che tidak banyak dihabiskan dengan anak dan istrinya. Jalan revolusi yang mengharuskan dirinya hidup berpindah dan bergerilya membuatnya lebih banyak hidup sendirian dan bersama pasukannya. Sebuah jalan hidup berat bagi orang yang memiliki keluarga.

Untungnya Che memiliki satu teman baik di kala dirinya merasa kesepian. Tentu teman yang satu ini bukan Fidel Castro, rekan seperjuangan dalam melakukan revolusi. Kawan yang satu ini adalah cerutu yang selalu menemani di kala sepi dan rindu melanda.

Menurut Che, mengisap cerutu di kala senggang ialah sobat sejati bagi pejuang yang kesepian. Meninggalkan keluarga dalam jangka waktu bulanan hingga tahunan membuat seorang pejuang rentan memendam kerinduan. Di masa-masa seperti itulah cerutu bagi Che adalah teman yang selalu siap menemani dirinya.

Walau pernah kuliah kedokteran dan mengetahui kampanye negatif soal tembakau, Che tetap saja bersetia menghisap cerutunya. Sebagai kawan karib, Che tidak pernah menjelek-jelekkan sobat setianya. Ia bahkan semakin akrab dengan tembakau ketika memutuskan jalan untuk berada di jalan revolusi.

Perlu diketahui, pada awal perjuangannya Che sebenarnya ditempatkan sebagai tenaga medis. Namun karena ketangkasannya membuat strategi Ia kemudian bisa mendapatkan posisi terhormat sebagai pemimpin di barisan revolusi kuba. Tapi ya semua orang hanya mengingatnya sebagai pemimpin besar revolusi, bukan sebagai dokter atau tenaga medis.

Sebenarnya, Che bisa saja hidup bergelimang harta jika memilih zona nyaman dan bertahan jadi dokter. Tapi karena keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat, Ia memilih bergabung dalam jalur berbahaya dan penuh sepi di dalam barisan revolusi. Ia sadar, hidup masyarakat sudah teramat sulit. Kalau tidak ada yang berjuang, tak mungkin kesejahteraan didapat oleh mereka.

Mungkin karena kesadaran itu juga lah yang membuatnya tidak bisa membenci cerutu meski pernah menjadi dokter. Dari tembakau dan cerutu Kuba, banyak masyarakat menggantungkan hidupnya pada komoditas ini. Tidak mungkin Ia mengharapkan kehancuran pada komoditas yang menghidupi masyarakat yang dicintainya.

Kini, foto-foto Che banyak dipajang untuk menghormati perjuangannya. Potret dirinya beserta topi baret dan cerutu di mulut menjadi sebuah penanda tersendiri darinya. Jika melihat cerutu, pada pengagum Che pasti akan mengingat dirinya. Karena memang Che tidak bisa terpisah dari cerutu. Che tidak bisa dipisahkan dari dari sobat sejatinya.