Rokok-Oeloeng
Rokok-Oeloeng

Sekitar tahun 2000-an, industri kretek di Bojonegoro tercatat memasuki masa gemilangnya. Berdasar data dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, terdapat 114 pabrik kretek beroperasi di Kabupaten Bojonegoro. Namun, sebagian besar gulung tikar karena harga cengkeh yang melambung.

Tak ayal kini jumlah pabrik yang masih berproduksi bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar pabrik yang kini tinggal tujuh jumlahnya itu memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT), sisanya sudah menggunakan sistem Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Tujuh pabrik itu meliputi PR Kudu di Desa Canga’an, Kecamatan Kanor, PR Kopi di Desa Pekuwon, dan CV Oeloeng di Kecamatan Sumberrejo, Rodeo di Kecamatan Bojonegoro, 567 di Kecamatan Sumberrejo, PR 399 di Desa Ngemplak, serta PR Galan Desa/Kecamatan Baureno.

Dari tujuh pabrik itu, rokok kelobot CV Oeloeng adalah yang terbilang legendaris. Pabrik rokok itu didirikan pada 1946 oleh HM Sahlan, penduduk asli Kecamatan Sumbererejo. Dulu nama pabrik ini bernama RIM, singkatan dari Republik Indonesia Merdeka. Nama yang unik, bahkan boleh dikata memberi kesan revolusioner, kesan akan masa-masa kemerdekaan.

Menanam tembakau sudah seperti keharusan bagi ribuan petani di Kabupaten Bojonegoro. Datangnya kemarau basah yang berlarut adalah salah satu kendala bagi petani tembakau. Hal ini tak hanya dialami petani di Bojonegoro. Jika sudah begitu, biasanya petani terpaksa mengundur masa tanam. Namun bagi sebagian petani lain, curah hujan tinggi juga menguntungkan.

Dalam mengatasi persoalan curah hujan, umumnya petani di Bojonegoro akan membuat gulutan (semacam bedengan). Itu dilakukan agar tanaman tembakau yang hendak dipersiapkan tidak bacek atau mati terendam air.

Pak Karmo (65 tahun) salah satu petani yang mulai membuat bedengan tersebut di antaranya. Petani yang hidup di Desa Temayang, Kecamatan Temayang, itu sengaja mengawali nyeket (membuat bedengan) dari bekas lahan tanaman padi yang baru dipanennya.

Dia adalah satu dari puluhan petani di wilayah setempat yang berusaha menyiapkan lahan untuk tanam tembakau pada musim tanam berikutnya. Maklum, kawasan Kecamatan Temayang wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro bukan dataran rendah, sehingga jarang petani setempat bisa menanam padi lebih dari sekali.

Menurut pemerhati budaya, Mohamad Sobary, sejatinya tanaman tembakau menjadi salah satu penopang hidup bagi kalangan petani Nusantara sejak berabad silam. Tembakau bahkan menjadi salah satu komoditas andalan di Tanah Air. “Jadi menamam tembakau sudah menjadi tradisi petani kita,” terangnya.

Dalam kitab-kitab kuno, baik Negara Kertagama maupun Pararaton diketahui, masyarakat sudah mengonsumsi tembakau. Namun, untuk pelengkap mereka mengunyah sirih. Budaya kretek baru dimulai pada masa Mataram Islam. “Tak bisa dimungkiri, kretek itu identitas kita,” tandasnya.