Agar Kebersihan Toilet Terjaga dari Puntung Rokok

Merokok-di-Toilet

Merokok saat bertakhta di atas kakus sebetulnya bukanlah suatu keharusan. Namun bagi perokok yang memiliki kebiasaan semacam ini biasanya akan merasa ada satu rukun yang belum digugurkan jika tidak disertai ngebul. Boleh jadi rasanya ibarat berzikir tanpa tasbih. Bahkan ada orang yang merasa sulit keluar gelontoran hajatnya jika tidak sambil merokok. Untuk yang satu ini tentu kasuistik. Tidak melulu berlaku pada semua.

Jika ada orang kelewat pintar melempar pertanyaan tentang asal usul, siapa orang yang pertama kali mempopulerkan kebiasaan merokok sambil eek? Timpali saja pakai jawaban yang juga kelewat pintar, yang pasti sih lagu Indonesia Raya dipopulerkan pertama kali sama para peserta Kongres Pemuda 1928, bos. Meski sejarah mengabadikan satu nama untuk penciptanya, yaitu WR Supratman.

Tentu tidak semua pertanyaan tentang siapa harus dijawab dengan satu-dua nama. Habis belum ada juga sih yang mendaku atau mematenkan diri sebagai orang pertama yang ngebul saat plung. Orang Indian suku asli Amerika saja enggak ada tuh yang tercatat namanya sebagai orang pertama yang mempopulerkan kebiasan semacam itu. Oke kembali ke tajuk.

Pernahkah Anda merasa risi dengan kondisi WC atau kamar mandi bersama yang di sana-sini berserakan puntung rokok? Jika iya, berarti kita masih punya kewarasan yang sama. Menurut orang tua, untuk mengenali karakter maupun kepribadian seorang pemilik rumah lihat saja kamar mandi dan klosetnya.

Meski merokok di dalam toilet bukanlah kegiatan yang dilarang. Namun sebagai perokok beretika, menjaga kebersihan adalah bagian dari upaya kita menghargai kemajemukan. Dimulai dari menghargai instalasi milik bersama itu. Yakni dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Untuk itu yang pertama sekali, pastikan kepada pemilik atau pengurus toilet, bolehkah di toilet atau kamar mandi yang di dalamnya terdapat kloset itu kita buang hajat sambil merokok? Kalau sambil bikin status di medsos menyinyiri Tulus Abadi tentu tak perlu minta izin.

Yang kedua, dan penting untuk diperhatikan adalah ketersediaan tempat sampah di dalamnya. Jika Anda seorang pengusaha bisnis WC umum, atau baru ingin menapaki bisnis penyedia layanan WC umum. Haram hukumnya perabot kebersihan yang satu ini disepelekan. Jangan sampai lubang kloset jadi saluran membuang apa saja. Hora ilok jare Mbok Uwo. Pamali mun saur kolot di lembur Pasundan.

Iya sih, tidak sedikit perokok yang punya kebiasaan membuang puntung rokok di lubang kloset. Bagi sebagian kalangan itu suatu hal yang tabu. Tetapi bagi yang lain mungkin itu lumrah, wajar juga jika kemudian ada pikiran yang menginterupsi, “yaelah ngapain sih ngurusin puntung rokok orang, lagian semua masuk septic tank ini.” Katanya menganut asas adil sejak dalam pikiran. Mosok berlaku tertib buang puntung pada tempatnya saja malas.

Yang ketiga, jika memang tidak ada tempat sampah yang disediakan, sebaiknya Anda membawa asbak dari luar. Bilamana kondisi tidak mendukung, artinya tidak ada asbak. Iya kreatif sedikit, manfaatkan saja bungkus rokok yang sudah kosong atau gelas air mineral. Untuk nanti dibuang ke tempat sampah di luar toilet. Tidak terlalu sulit bukan mendedikasikan diri sebagai perokok beretika? Paling tidak iya dimulai dari diri sendiri. Dari sinilah kita belajar menghargai kemajemukan kita sebagai manusia merdeka. Merdeka atas hak mendisiplinkan diri.