Benar Bu, Rokok Lebih Bahaya dari Narkoba

merokok1

“Semua adil dalam perang dan cinta”. Spongebob, dalam serialnya pernah mengatakan itu. Atau Virus Sastra Budy, Rektor ICE, dalam Tri Idiots pun juga pernah. Tapi, saya tak sedang membahas makhluk kuning itu, atau kehidupan tiga sekawan Amir Khan dan dua kawannya yang memiliki mimpi terlampau ideal untuk seorang pelajar. Lha gimana enggak, wong untuk lulus aja sekarang saya masih kesusahan?

Ungkapan itu memang agak mengerikan untuk dijadikan pembenaran, tapi juga tak selamanya salah.

Biasanya, ungkapan itu memang sering kita dengar atau temukan dalam film-film dan dijadikan pembenaran atas dalih kecurangan dalam perseteruan. Dalam Tri Idiots, Virus Sastra Budy mengungkapkan itu di hadapan anak-anaknya saat Rancho (Amir Khan) dan dua kawannya, Raju dan Farhan tertangkap memasuki rumahnya tanpa izin saat tengah malam. Virus mengungkapkan itu dengan berniat melakukan kecurangan untuk menggagalkan ujian akhir Raju.

Perseteruan, hingga peperangan selaiknya memang diselesaikan dengan cara-cara adil dan bermartabat. Tapi, ungkapan itu seolah melegitimasi bahwa tak selamanya keadilan pantas diterapkan. The Litle Boy, dua bom nuklir yang dijatuhkan pada paruh akhir Perang Dunia ke-2 oleh tentara sekutu di dua kota di Jepang itu dipicu oleh penyerangan mendadak tentara Jepang ke pelabuhan Pearl Harbour. Sejak saat itulah, penggunaan bom nuklir dalam perang dilarang karena menabrak nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi standar etika dalam berperang.

Wali Kota Bontang, salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur, Neni Moerniaeni, baru-baru ini mengeluarkan statment yang hampir serupa. Katanya, “Merokok adalah satu hal yang memicu anak untuk mencoba narkoba. Awalnya coba-coba merokok, kemudian ketagihan. Akhirnya mulai narkoba. Makanya harus kita juga dan bina anak-anak dari sekarang. Kita beri perhatian dan pengawasan yang baik”.

Bagaimana logika itu dibangun?

Entahlah. Yang jelas, tentu saja ungkapan itu dibangun atas kebencian yang tak berdasar dan kesimpulan serampangan terhadap rokok. Ada premis-premis yang dilangkahi dan dibuang begitu saja. Begini misalnya, kalau mau bicara rokok itu memicu seseorang untuk mengonsumsi narkoba, harusnya dia juga bicara kalau ada beberapa fase lain yang terlewatkan. Pengawasan orang tua misalnya. Kalau situ mau repot searching penyebab terbesar anak-anak terjerat dalam lingkaran obat-obatan terlarang itu, maka keluarga broken home atau lemahnya pengawasan orang tua adalah penyebab terbesar.

Lagi, kalau saja pernyataan itu diterapkan dalam hal lain, apakah pernyataan Ibu Neni juga akan tetap konsisten? Kalau iya, seharusnya pembelian sepeda motor yang berlebihan dalam satu keluarga juga menjadi pemicu seorang anak masuk dalam geng motor dan semacamnya. Pula lembaga pendidikan seperti sekolah yang membuat seorang anak masuk dalam bergaulan bebas. Kenapa itu juga tak menjadi perhatian pemerintah kota atau daerah?

Pernyataan Neni soal rokok menjadi pemicu narkoba telah mengabaikan aspek-aspek lain dan tentu saja didasari atas kebencian yang tak berdasar kepada rokok.

Neni bukan orang pertama. Model kebencian macam itu sialnya hampir menjangkit sebagian para pemimpin daerah, yang bila bicara perkara rokok, mereka persis tidak menggunakan logika yang sehat dan berdasar. Dan, ya, boleh jadi mereka juga bagian dari penganut ideologi fasis serupa, “semuanya adil dalam perang dan cinta”. Akibatnya, bukan malah melakukan pembinaan secara sehat, ia malah menyatakan perang secara terbuka dengan masyarakatnya.

Nah, kalau kita perhatikan. Ini lama-lama pemerintah mengurangi konsumsi rokok di kalangan masyarakat tak ubahnya model pemerintahan fasis. Bahkan melebihi BNN mengurangi konsumsii narkoba. Lihat saja, kini spanduk-spanduk peringatan bahaya narkoba di jalan, bahkan lebih ramah ketimbang rokok, seperti misalnya spanduk dari BNN, “Mari selamakan anak bangsa dari bahaya narkoba”. Lalu bandingkan, “merokok membunuhmu”. Atau pernyataan Wali Kota Bogor yang ingin menyiksa perokok.

Ngeri, Jon!