Cerita Tentang Pekerja Keras yang Tetap Sehat dan Merokok di Usia Lanjut

Sejak November tahun lalu saya bekerja di sebuah pabrik yang terletak di daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Kebetulan, di departemen tempat saya diposisikan, saya mendapat atasan yang memiliki kebiasaan merokok. Kebetulan tadi pun harus saya tambah ketika tahu atasan saya ini tinggal berdekatan di lingkungan kosnya. Dengan begitu saya jadi mengenalnya lebih dekat.

Pak Narno, nama atasan saya itu, kini telah berusia 63 tahun. Walau telah terbilang sepuh untuk bekerja, tapi beliau masih menghisap rokok. Sudah kepala 6, masih bekerja dengan baik dan tetap merokok.

Biasanya Pak Narno hanya menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari. Merek andalannya adalah Gudang Garam Merah. Tapi sesekali Ia juga menghisap rokok Menara yang lebih “ringan”.

Meski berusia lanjut dan masih merokok Pak Narno tetap saja terlihat sehat. Ia tidak mengidap berbagai penyakit yang tertera pada bungkus rokok seperti jantung, kanker, atau impotensi. Keluhannya paling-paling hanya tak enak badan karena masuk angin, yang bisa disembuhkan dengan kerokan.

Suatu hari saat sedang ngobrol santai berdua, Ia mengatakan bahwa hidupnya pada masa lalu yang serba berkekurangan mungkin memberikan andil atas badan yang sehat hingga hari ini. Orang tuanya cuma buruh tani. Untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga, sehari-harinya Ia ikut bekerja apa saja setelah pulang sekolah.

Dari menjadi tukang batu, tukang aduk semen, kuli bangunan, hingga mencari rumput untuk hewan ternak tetangga. Jika libur sekolah, dirinya ikut membantu orang tuanya bekerja di ladang. Semuanya dilakukan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kerja keraslah yang menempa tubuhnya hingga membuat dia tetap sehat walau tetap merokok di usia tua.

Selain itu, Pak Narno juga menjaga pola hidupnya dengan seimbang. Ia tidak pernah telat makan, jam makannya amat teratur. Ia juga suka makan sayur serta buah dan membatasi jumlah gorengan serta daging yang ia konsumsi. Untuk urusan istirahat, Ia jarang sekali begadang. Pengecualian dilakukan hanya ketika ada pementasan wayang kulit yang memang disukainya sejak muda dulu. Dan yang membuat saya kagum, Ia selalu berjalan kaki baik saat berangkat maupun pulang kerja.

Bagi saya Pak Narno adalah bukti nyata bahwa rokok tidak semengerikan apa yang diceritakan berita. Kita sering diperdengarkan kalau rokok itu adalah pembunuh. Rokok itu adalah penyebab penyakit berbahaya seperti jantung, kanker paru, serta penyakit mematikan lainnya. Tapi nyatanya masih banyak orang-orang di sekitar kita yang masih sehat dan bugar meski berusia lanjut dan merokok.

Sebuah film dokumenter berjudul “Mereka yang melampaui waktu“ ikut menegaskan pendapat itu. Dalam film tersebut kita diperlihatkan dengan sosok-sosok seperti Pak Narno, bahkan dengan usia yang lebih senja. Jika Pak Narno yang saya kisahkan tadi berumur 60an maka dalam film tersebut, orang-orang yang diwawancarai telah berumur di atas 70an. Ada Mbah Aman,  Mbah Ponco, H. Misto Abdurrahman, Tju Njiat Fat yang masing-masing berumur 72, 80, 82, dan 81 tahun. Mereka semua masih sehat dan mampu melakukan berbagai aktivitas berat meskipun mereka berusia senja dan merokok sudah sejak lama.

Sekali lagi mereka telah memberikan bukti  kepada kita semua bahwa rokok bukanlah barang yang berbahaya serta mematikan. Asalkan kegiatan merokok kita imbangi dengan menjaga pola hidup yang seimbang, maka kesehatan masih bisa terjaga.

Jadi sudah berapa batang rokok yang anda hisap hari ini ?