Menilik Monumen Pengrajang Tembakau di Klaten

monumen pengrajang
foto: manisrenggo.klaten.info

Selain Museum Kretek di Kudus yang di dalamnya terdapat 1.195 koleksi mengenai sejarah kretek. Yang antara lain terdapat dokumentasi kiprah Nitisemito pendiri Pabrik Rokok Bal Tiga, terdapat pula diorama aktifitas produksi kretek, serta bahan dan peralatan tradisional rokok kretek. Yang dibangun pada tahun 1986 sebagai upaya pelestarian sejarah kretek di Kudus.

Tak ketinggalan yang masih berkenaan dengan kretek, yang merupakan produk kearifan lokal bangsa ini, adalah sebuah destinasi wisata di Surabaya, yaitu House of Sampoerna. Yang diisyaratkan pula sebagai salah satu ikon wisata dari kota yang kita kenal pula sebagai Kota Pahlawan. Yang pada kesempatan lalu sempat diulas pula di web kita tercinta ini.

Tidaklah berlebihan jika kita ulas monumen lain yang (lagi-lagi) menjadi ikon salah satu desa di Klaten. Monumen ini sedikitnya mengingatkan kita akan peran salah satu mata rantai dari produk kretek. Yakni tembakau rajangan dan petani pengrajangnya.

Tak heran jika monumen ini dinamai dengan Monumen Pengrajang Tembakau. Sebuah monumen yang menggambarkan aktifitas seorang petani tembakau yang tengah merajang tembakau dengan alat rajang tradisional. Monumen ini terdapat di desa Nangsri, Klaten. Nama desa Nangsri ini disebut-sebut sebagai akronim dari tenang dan asri.

Komposisi patung utama petani yang sedang merajang tembakau dengan “gobang” itu setinggi tak lebih dari tiga meter. Dengan latar belakang relief yang diukir apik untuk menggambarkan proses budidaya hingga pasca panen tembakau rajangan.

Untuk mengesankan warna tembakau, yang disebut-sebut juga sebagai “emas hijau”, pewarnaan monumen pun didominasi warna coklat keemasan, bahan utama patung tersebut adalah perunggu, sedangkan reliefnya dari semen.

Nangsri merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di wilayah kecamatan Manisrenggo, Klaten. Telah menjadi kawasan sentra produksi tembakau rajangan yang cukup tersohor di kabupaten Klaten. Manisrenggo memang menduduki ranking tertinggi di kabupaten Klaten, ditinjau dari beberapa aspek, mulai dari luas panen, jumlah produksi tembakau rajangan, serta petani dan pengusaha lokalnya.

Menurut data BPS 2011 luas panennya tercatat seluas 331,29 ha, jumlah produksi kering 198,774 ton, dan dengan jumlah petani 2.966 orang. Sedangkan luas desa Nangsri 200,40 ha, terdiri dari sawah 98,30 ha dan non sawah 102,10 ha. Jumlah penduduk berdasar SP 2010 adalah 4.004 jiwa, terdiri dari 2.229 jiwa perempuan dan 1.775 jiwa laki-laki. Tembakau untuk bahan baku rokok kretek ini diproduksi oleh desa Nangsri setiap tahun sekali.

Kawasan sentra produksi dengan luas puluhan hektar ini secara nyata telah menghantarkan sebagian besar masyarakatnya menjadi  petani jutawan sehingga membuat kehidupan mereka tenang. Konon ketenangan itu melahirkan gagasan kreatif untuk mencitrakan lingkungan desanya yang indah nan asri melalui monumen tersebut.

Monumen yang berlokasi di pertigaan sebelah utara Rumah Sakit Islam (RSI) Manisrenggo di pinggir jalan Prambanan–Manisrenggo yang strategis itu bersebelahan dengan gapura selamat datang jika kita masuk desa Nangsri dari arah selatan.

Menurut salah satu situsweb lokal, monumen ini dibangun sejak tahun 2011, rampung dan diresmikan pada tahun 2012. Kabarnya pembangunan monumen tersebut menghabiskan biaya tak kurang dari Rp.20.000.000 yang berasal dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHT) dan swadaya masyarakat.

Dibangunnya monumen didasari atas keinginan mengapresiasi peran kaum tani dan desa Nangsri sebagai sentra produksi tembakau rajangan. Seniman yang dipercaya membuat monumen adalah Pengging Hadi Suwiryo dari Tlogo, Prambanan.

Mungkin terbersit pertanyaan kritis dari kita atas penggunaan DBHCHT yang kerap ditengarai lebih dimanfaatkan pada peruntukkan manasuka, bahkan tak jarang di beberapa daerah hanya menjadi bancakan golongan tertentu saja. Tentu besaran nilainya pada tiap daerah berbeda-beda.

Dan pertanyaan yang muncul kemudian kenapa (DBHCHT) ini lebih diarahkan untuk membangun monumen pencitraan, dibanding untuk meningkatkan kualitas sektor pertanian. Bukankah lebih baik diwujudkan dalam bentuk lain yang lebih memakmurkan sumber daya ketimbang pada akhirnya monumen hanya menjadi spot untuk foto-foto belaka, karena apa coba?

(Visited 13 times, 4 visits today)