Menilik Sisi Ekonomi Cengkeh Selain untuk Industri Kretek

Cangkang-Cengkeh

Tak sebatas pada bunganya, gagang cengkeh juga punya nilai ekonomi tersendiri, nilai ekonomi cengkeh serupa dengan pala, tak hanya pada biji dan fulinya. Nilai permintaan terus naik seturut perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan manusia terhadap cengkeh dan produk turunannya. Selain sebagian besar cengkeh terserap untuk industri kretek.

Meski demikian, keadaan di Kepulauan Maluku belum banyak berubah, di negeri asal rempah yang pernah menjadi sasaran penjelajahan bangsa-bangsa Eropa ini. Di punggung Gunung Kie Besi, Pulau Makian, Provinsi Maluku Utara, terdapat kebun cengkeh dan pala yang cukup luas, Syahril (30) salah seorang petani setempat menyesalkan ketika melihat banyak daun cengkeh gugur dan tampak dibiarkan begitu saja. ”Seharusnya (daun) ini bisa jadi uang,” ujarnya.

Makian adalah satu dari lima pulau yang disebut sebagai daerah asal cengkeh (Eugenia aromatica). Para pakar tumbuhan menyatakan, sebelum disebar ke wilayah lain Nusantara dan dunia, cengkeh hanya tumbuh di Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan.

Syahril tahu bahwa daun dan tangkai cengkeh bisa diolah dan dijual dalam bentuk minyak. Minyak atsiri cengkeh adalah bahan obat-obatan, kosmetik, serta dibutuhkan industri makanan atau minuman. Namun, dia tak tahu bagaimana mengolahnya, berapa modalnya, ke mana menjualnya, dan yang paling krusial adalah tidak tahu kepada siapa harus bertanya.

Namun, seperti halnya Syahril dan petani lain di Makian, petani cengkeh di Ternate, Tidore, dan beberapa kabupaten di Pulau Halmahera juga hanya memanen bunga cengkeh. Selebihnya, seperti daun, tangkai, dan ranting, dibiarkan jatuh dan mengering di kebun.

Di Taboso, Kabupaten Halmahera Barat situasinya tidak jauh beda. Secara turun-temurun, hasil pala yang dimanfaatkan hanya biji dan fuli. Di luar itu, dibuang saja. Mayoritas petani di Taboso lebih menanam pala.

Menurut Peneliti di Dewan Atsiri Indonesia yang juga dosen Program Studi Teknologi Pertanian Universitas Khairun, Ternate, Indah Rodianawati, menyebutkan, selain bunga, nilai tambah cengkeh juga bisa diperoleh dari pengolahan gagang atau tangkai dan daun cengkeh menjadi minyak atsiri.

Minyak ini dipakai antara lain di industri farmasi dan kosmetik terutama karena aromanya. Selain itu, minyak cengkeh juga mempunyai komponen yang bernama eugenol yang memiliki sifat sebagai stimulan, anestetik lokal, antiseptik, dan antipasmodik. Kandungan itu pula yang memberi nilai khas pada produk kretek tentunya.

Nilai tambah gagang cengkeh naik 220 persen setelah diolah menjadi minyak atsiri. Minyak ini dapat diolah menjadi minyak gosok, sabun, serta minyak dan lilin untuk terapi aroma. Produk turunan minyak atsiri juga dibutuhkan untuk spa, kosmetik, makanan dan minuman, pengendalian hama, pakan ternak, bahkan obat bius ikan. Permintaan minyak atsiri cengkeh diperkirakan terus naik seiring dengan beragamnya aplikasi dan penemuan baru.

Pemanfaatan bagian lain dari tanaman rempah itu terbilang masih terbatas. Termasuk di Maluku Utara yang menjadi sentra utama cengkeh dan pala.  Sebagaimana produk rempah lainnya, cengkeh dan pala merupakan komoditas yang unik. Dalam perjalanannya, produksi cengkeh Indonesia pernah anjlok pada tahun 1996. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produksi turun drastis dari 90.007 ton tahun 1995 menjadi 52.903 ton tahun 1996, karena harga yang terlampau rendah dan serba tak pasti.

Ketika itu, kenang sejumlah petani di Ternate, harga cengkeh anjlok hingga Rp 1.500 per kilogram kering. Petani banyak yang menelantarkan tanamannya, bahkan menebang dan menggantinya dengan tanaman lain sehingga luas kebun turun drastis. Luas kebun mencapai 742.269 hektar tahun 1987, tetapi pada 2000 tinggal 415.598 hektar. Sebanyak 97 persen di antaranya merupakan perkebunan rakyat.

Pasca reformasi 1998 industri rokok dalam negeri kondisinya terus berkembang. Petani pun mengupayakan lagi kebunnya seiring dengan naiknya permintaan serta naiknya harga cengkeh. Luas kebun dan produksi cengkeh berangsur menggembirakan. Selama kurun tahun 2010-2016 saja produksi cengkeh naik 5,69 persen dari 98.387 ton menjadi 123.687 ton.

Saat ini Indonesia merupakan negara penghasil cengkeh terbesar di dunia. Selama kurun 2008-2012, produksi cengkeh Indonesia mencapai 79,8 persen produksi dunia yang rata-rata 404.582 ton. BPS mencatat, ekspor cengkeh Indonesia tumbuh 15,2 persen selama 2011-2015. Pada 2015, nilainya mencapai 824,37 juta dollar AS, tertinggi dibandingkan dengan komoditas rempah lain. Pengembangan cengkeh dan pala dinilai menjanjikan karena tren permintaan pasar demikian positif.

Stephen Tjora, Pemilik Usaha Dagang Makmur Jaya di Ternate, menyatakan optimismenya bahwa produksi cengkeh akan terus naik beberapa tahun ke depan. Selain muara utama cengkeh Maluku Utara adalah pabrik-pabrik kretek di Pulau Jawa. Dari Ternate, cengkeh kering dikapalkan menuju Surabaya atau Jakarta, sebagian melalui Manado atau Bitung di Sulawesi Utara. Produksinya ditaksir 10.000 ton per tahun.