Terkena Sanksi Larangan Merokok, Carlo Ancelotti Tetap Berjiwa Sportif

Ancelotti-merokok
Foto: img okezone

Carlo Ancelotti sang pelatih Bayern Munchen cum perokok ini layak diberi dua jempol. Apa pasal? Begini, terlalu sering saya mendengar celotehnya, maaf kalau agak menyinggung kamu yang suka mengait-ngaitkan dunia olahraga dan rokok—yang katanya perokok itu kalau berkarier di bidang olahraga sportivitasnya patut diragukan karena rokok bukan saja berbahaya buat kesehatan secara fisik juga berdampak terhadap mental. Ebuset dah. Itu sih jangankan perokok, yang bukan perokok juga punya potensi sama. Kebanyakan menyantap junk science mentah-mentah apa enggak bikin mabuk stigma jadinya? Keseringan melihat sebelah mata doang sih.

Sudah ah, saya cuma mau mengapresiasi sportivitasnya Don Carlo yang beberapa waktu lalu kena sanksi cukup ‘aneh’ dari Bayern Munchen. Di bawah komando direktur olahraga baru, Hasan Salihamidzic, Bayern Munchen memberi ‘sanksi’ melarang Carlo Ancelotti merokok selama berada di dalam event yang berkaitan dengan Die Roten.

Anehnya di mana? Nih ya buat kamu aja, rokok dan olahraga itu tak ada relasinya dengan mental terlebih lagi prestasi seseorang di bidang olahraga. Malah ada lagi yang aneh juga tuh, terdapat peraturan yang melarang keras sponsor rokok membiayai kegiatan olahraga. Memangnya kalau disponsori brand rokok lantas atlet maupun pelatih beserta penontonnya yang tidak merokok diwajibkan merokok gitu? Lantas terhasut jadi perokok berat semua gitu? Halah, kok sesat pikir gitu sih kamu.

Don Carlo salah satu contoh yang saya mau beberkan meski masih banyak juga sosok lain yang berprestasi dalam kariernya suka merokok. Nih ya, biarpun Ia dikenai sanksi ‘aneh’ itu, Don Carlo tidak serta merta menyangkal. Ia sadar kegiatan merokoknya itu terbilang salah tempat dan tidak pas waktunya. Kok bisa gitu? Lha iya, wong Don Carlo merokoknya masih di area lapangan. Karena menurut aturan baru, merokok di area lapangan dilarang keras. Jangan lantas dipikir Don Carlo ngebul joget-joget ke tengah lapangan lho ya. Don Carlo kedapatan merokok saat berada di spot pelatih, alias pinggir lapangan.

Namun, yang terpenting ditilik adalah dedikasinya sebagi pelatih alias figur yang dipandang. Ancelotti tidak lantas membantah aturan itu dengan semangat yang ngeyelan. Justru diterimanya dengan lapang dada. Secara gitu ya, kalau kata pepatah orang tua Melayu, makin tua makin berminyak. Makin berumur makin bijaklah menyikapi persoalan.

Larangan itu hanya ditekankan kepadanya selama berada pada ‘jam kerja’ dalam fasilitas Bayern Munchen, artinya selama pada waktu Ia sedang menjalankan tugasnya sebagai pelatih saja. Tak kurang. Dan Ia menyikapinya dengan sportif, “ini adalah hal baik untuk kesehatan. Istri saya senang.” Begitu komentarnya yang dikutip dari Marca.

Bicara soal prestasi, Carlo Ancelotti ini dulu sosok juru taktik kenamaan yang menghasilkan gelar juara Liga Champion untuk AC Milan dan Real Madrid. Namun, Bayern Munchen tetap tegas soal penerapan aturan baru terkait aktivitas merokok selama berada pada fasilitas mereka. Dan hal ini diterima serta dipahami dengan baik oleh Don Carlo.

Dalam kesaksiannya pada tahun 2010 lalu, dia menyatakan bahwa dirinya mulai merokok justru ketika menjadi pemain profesional. Mantan bintang AS Roma ini mengakui bahwa Ia merokok sejak umur 25 tahun, demi melawan masa-masa krisis saat mengalami cedera.

Puas dengan reaksi sang pelatih, Hasan Salihamidzic, memuji Ancelotti dengan menyatakan mantan juru taktik Chelsea dan PSG tersebut mampu menerima aturan baru yang diterapkan itu, lantas memujinya sebagai sosok profesional sejati.

Bayern Munchen sendiri memulai debut musim ini dengan sangat cerah. Meskipun dalam beberapa laga ujicoba meraih hasil minus. Die Roten sukses meraih DFL Super Cup 2017, menang lima gol atas Chemnitzer di DFB Pokal, dan terakhir menggasak Bayer Leverkusen dengan skopr 3-1.

Sampai kini kebiasaan merokok Ancelotti ini tidak hilang. Dan Carlo Ancelotti termasuk satu dari sekian orang yang secara jujur mengakui dirinya adalah perokok. Meski terkena sanksi demikian apa lantas Ia membenci rokok atau mendakwa semua perokok itu buruk. Tentu tidak.