Brand, Souvenir, dan Konsumen

Mungkin hanya sedikit orang yang tertarik mengoleksi ragam souvenir dari perusahaan rokok. Apalagi souvenir yang hadir dalam bentuk kalender. Kita yang perokok saja bakal memilih asbak atau korek api jika diberi tiga pilihan bersama kalender. Meski pada akhirnya kebanyakan kita bakal memilih korek api yang rawan dimangsa teman kita para curanrek itu.

Sejak babak awal industri kretek, Nitisemito memanfaatkan berbagai cara untuk mempromosikan produk kreteknya. Pada tahun 1930-an, untuk memasarkan produknya Ia sampai menyewa pesawat Fokker untuk menyebarkan pamflet Kretek Tjap Bal Tiga. Nitisemito pula yang mempopulerkan hadiah dalam setiap pembelian rokok, baik hadiah piring, cangkir, sepeda, dan lain sebagainya.

Mungkin sebagian Anda pernah mengalami momen-momen semacam ini. Dulu ada masa-masa saat brand sabun colek turut memanfaatkan minat orang Indonesia terhadap souvenir gratisan. Tentu Anda akan merasa geli sendiri jika tiba-tiba menemukan gelas promosi itu lagi.

Belakangan ini, agaknya tren menjadikan souvenir sebagai alat promosi muncul lagi. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Indomie pada toothbag edisi vintage-nya. Edisi jadulnya.

Selera zaman yang terus berubah mempengaruhi pula media promosi yang kian mengikuti perkembangan. Di era milenial, kecenderunganya pun disesuaikan dengan target segmentasi konsumennya. Misalkan untuk menyasar kalangan orang kantoran, cendera mata berupa flashdisk maupun alas mouse komputer begitu biasa kita dapati. Sarung laptop pun menjadi barang yang lazim dijadikan media promosi.

Bagi sebagian yang fanatik terhadap satu brand, sebuah souvenir dari brand kesayangannya itu tentu memberi nilai kebanggaan tersendiri. Apalagi barang itu bisa dibawa dan digunakan di berbagai kesempatan. Seperti yang pernah saya alami dua tahun lalu, sewaktu mendapatkan wadah rokok berbahan mika dengan warna dominan merah dan hitam. Di awal-awal punya selalu saya gunakan dan saya bawa ke mana-mana.

Biasanya setelah membeli sebungkus rokokĀ  akan saya pindahkan segera isinya ke dalam wadah rokok berbahan mika tersebut. Kebiasaan ini tak berlangsung lama, setelah itu ya malas pakai wadah itu lagi. Lebih sering pula karena lupa membawanya.

Beberapa merek rokok memang mengeluarkan edisi spesial wadah rokok berbahan mika. Menyenangkan, tentu saja bagi konsumen. Namun yang paling utama jelas saja pengaruh merek rokok bagi konsumennya telah melekat. Malah ada beberapa teman yang bersedia merogoh koceknya demi cendera mata macam ini.

Ada juga yang dulu berjaya namun kini mulai jarang terlihat, kalender dinding. Dahulu, biasanya kalender dari merek-merek rokok menempel di dinding-dinding rumah makan ataupun ruang tamu. Memang, di era ini kalender dinding tidak lagi terlalu diminati. Kalau mau lihat tanggalan cukup buka ponsel maka semua urusan selesai.

Kecenderungan menggemari souvenir yang mudah dibawa dan dipamerkan, tentu saja, turut mempengaruhi brand dalam melakukan promo. Maka barang semacam korek, asbak, juga wadah rokok adalah rebutan bagi para kretekus yang membutuhkan barang-barang tersebut untuk menunjang aktivitas ngududnya.