Hikayat Cengkeh di Ladang Tembakau

Pengalaman selama dua pekan di Bali Utara, melakukan penelitian tentang cengkeh membawa saya pada sebuah kebiasaan; mengenali pohon cengkeh walau dari jauh. Di sana, saya terbiasa melihat hamparan besar kebun cengkeh yang berkilauan merah Karena itu, saat pertama kali melihat Gunung Sumbing dari belakang rumah tempat kami bermukim di Temanggung saya langsung sadar, ada pohon cengkeh di ladang tetangga.

Di Munduk, melihat hamparan luas pohon cengkeh adalah hal biasa. Namun tidak bagi Temanggung. Di sini tembakau lah yang menjadi hidup masyarakat. Melihat hamparan ladang tembakau lah yang menjadi pemandangan biasa di sini. Karenanya, saat melihat cengkeh, saya mencoba mencari informasi terkait komoditas yang sama-sama menjadi bahan baku kretek ini.

Di Desa Tlilir, keberadaan kebun cengkeh pernah menjadi hal biasa. Setidaknya semua itu terjadi berpuluh tahun lalu, sebelum terdengar orang-orang menyebut nama Tommy. Tentu saja yang dimaksud adalah putra mahkota Orde Baru, Tommy Soeharto.

Dulu, sebelum nama itu terdengar di desa Tlilir, ada beberapa petani yang ikut menanam cengkeh di kebunnya. Tidak terlalu banyak memang hamparannya. Karena di sini masyarakat lebih biasa menanam tembakau sebagai komoditas utama mereka. Apalagi musim cengkeh dan tembakau tiba hampir bersamaan. Agak sulit mengurus dua komoditas ini secara bersamaan.

Tapi mereka pernah mengalami masa menyenangkan bersama cengkeh. Sebelum masa suram BPPC hadir, harga cengkeh terbilang tinggi. Setidaknya, dalam perbandingan mereka, panen cengkeh dalam luas kebun yang tidak seberapa cukup untuk membeli sepeda motor.

Sayangnya, cengkeh memang tidak pernah berjaya di Temanggung. Belum berapa lama cengkeh dibudidaya di sana, nama Tommy mulai didengar warga.

Pada masa itu pemerintah mendirikan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang mengelola semua tataniaga cengkeh di Indonesia. BPPC sebagai badan yang didirikan negara bekerja sama dengan perusahaan swasta milik Tommy dan Koperasi Unit Desa untuk membeli cengkeh. Hanya kepada mereka cengkeh boleh dijual, tidak pada yang lain.

Persoalan utama bagi petani cengkeh bukanlah kepada siapa mereka menjual, tapi lebih pada berapa harga jualnya. Kala itu cengkeh memang dihargai murah, hanya Rp2 ribu per kilogram. Perbandingan saat itu, hasil seluruh penjualan cengkeh tidak cukup menutupi biaya petik yang melibatkan pekerja. Itu baru biaya petik, belum pupuk dan lain-lainnya.

Karenanya para pemilik kebun cengkeh memilih untuk menebang pohonnya untuk diganti komoditas lain. Ditanami kembali dengan tanaman semusim bernama tembakau. Buat apa mereka menanam komoditas yang tidak bisa menghasilkan, padahal mereka tertarik menanam karena tahu harga cengkeh (awalnya) tinggi.

Di beberapa ladang, saya masih melihat beberapa pohon cengkeh berdiri. Di setiap ladang jumlahnya beragam. Ada yang 2, 4, bahkan 8 tegakan. Sayang, kebanyakan pohon yang berdiri kurang terawat, tidak produktif, dan terlihat terkena jamur akar putih. Kini, pohon-pohon yang tegak berdiri pun telah berusia lebih dari 30 tahun. Sesuai dengan acuan kalau rata-rata penanaman cengkeh di Temanggung terjadi pada periode 1980an.

Tanpa pernah merasakan jaya, komoditas ini habis karena kebijakan negara yang tidak berpihak pada petani. Hanya bisa menjadi cerita bagi warga. Hal serupa bisa saja menimpa tembakau yang menjadi andalan warga Temanggung. Hancur lebur karena regulasi yang melulu menekan tembakau, hingga akhirnya petani kehilangan pengharapan hidup dari tanaman ini.

(Visited 1 times, 1 visits today)