Kepincut Cacak Hanoman dan Secuil Riwayat Mbah Setu Petani Tembakau Legendaris

Cacak Hanoman
Sumaryo, salah satu petani tembakau sedang ngerajang menggunakan Cacak Hanoman

Awalanya tanpa sengaja saya melihat foto profil dari akun Whatsapp Rofi’i. Dia salah satu petani tembakau yang rumahnya pertama kali kami singgahi sebelum kami ke tempat Sugito, tempat kami menginap di Desa Tlilir. Melalui foto profil yang menampakkan aktivitas merajang tembakau menggunakan cacak—alat rajang tembakau tradisional—yang kini sudah kurang diminati kebanyakan petani tembakau.

“Pak, alat rajang seperti itu masih ada ya di sini?”

“Iya masih, cuma petani sekarang lebih milih pake mesin,” jawab Rofi’i.

Dari ngobrol soal cacak itulah Rofi’i kemudian mengirim foto sebuah cacak legendaris melalui Whatsapp. Cacak legendaris bermotif Hanoman. Tokoh dari dunia pewayangan yang dikenal cerdik, rendah hati, dan bisa diandalkan.

Alat rajang legendaris itu milik Mbah Suwarto, yang juga dikenal masyarakat sebagai Mbah Setu. Alat rajang yang bagi saya—makhluk hibrid yang kerap dimanja oleh kerja mesin: kulkas, blender, rice cooker, mesin cuci, dlsb—sebagai sebuah alat produksi yang antik, yang bisa kita maknai pula dari antiknya sosok Hanoman. Namun, yang tak kalah penting lagi ya nilai sejarah dan otentisitasnya.

Semula cacak tradisional itu menggugah perhatian saya untuk dijadikan sebagai oleh-oleh. Meski memang bukan seorang kolektor benda seni. Paling tidak jika saya pajang, bakal punya cerita tersendiri. Rofi’i langsung tanggap dengan hal itu. “Hayo, Bang, kalau mau lihat. Kita ke rumah anaknya,” ajak Rofi’i bersemangat.  “Ayo, Pak!”

Semula saya kira rumah yang kami tuju bakal jauh ditempuh. Ternyata letaknya bersebelahan dengan rumah Sugito, yang secara garis keluarga adalah pamannya. Benda legendaris itu sudah jarang difungsikan. Mungkin tak terlalu berarti bagi teman saya yang lebih gandrung dengan perkembangan gajet terbaru dibanding alat produksi yang tidak mendukung bidang kerjanya.

Jika Anda pernah ke Musium Kretek di Kudus dengan mudah Anda mendapatinya untuk difoto. Bedanya alat rajang di Musium Kretek secara bentuk dan ukuran lebih ramping, dipernis coklat tua tanpa motif, dan bangku penopangnya pun memanjang.

Jujur saja saya bukanlah seorang pengepul benda bersejarah apalagi benda seni karya-karya pesohor seni, bahkan mungkin lebih berbakat dituduh snobis kira-kira. Tentu di mata seorang kolektor maupun pengepul, alat rajang tembakau bermotif Hanoman itu punya nilai lebih. Terutama dari sisi estetika dan sejarahnya, bahan dasarnya yang berasal dari gelondongan kayu nangka dan diproses dengan cara dibobok itulah salah satu unsur yang berbeda dari cacak kebanyakan.

Tanpa banyak basa-basi langsung saja benda peninggalan Mbah Setu itu saya foto. Tak lama kemudian salah seorang cucunya, Angga namanya, menemui saya dan menceritakan sejarah benda legendaris itu. “Di sini bisa dihitung jari orang yang punya cacak sebagus ini, di desa lain ada juga yang motifnya Arjuna,” jelas Angga. Motif Hanoman pada cacak buatan tahun 1994 itu didominasi warna emas dan putih. Mbah Setu adalah penggemar berat Hanoman, sampai-sampai pintu rumahnya pun diukir motif kera putih itu.

Layaknya seorang gitaris yang kepincut melihat gitar Jimmi Hendrix ataupun gitar holow-nya Chuck Berry. Saya lantas menanyakan harganya, Angga menimpali dengan senyum, lantas menjelaskan arti sebuah peninggalan bagi keluarganya. Jawaban itu sudah saya duga. Baik Angga maupun Rofi’i justru menyarankan untuk memesan saja dari seniman ataupun pengrajin di Temanggung kota, bisa juga di Muntilan, yang belakangan saya ketahui ternyata pengrajin alat rajang itu sekarang lebih sering membuat mesin rajang modern ketimbang cacak tradisional. Hukum pasar bekerja seturut peradaban. Petani saja sudah banyak yang beralih ke mesin. Membuat cacak tradisional itu tentu sudah tak lagi terlalu diminati, kecuali untuk kebutuhan koleksi.

Kepalang kenal dengan Angga, saya akhirnya lebih menggali sejarah Mbah Setu yang punya jasa-jasa besar terhadap kemajuan desa Tlilir. “Di gudang tembakaunya Djarum, kode mbakonya ST, pamor tembakau mbah saya ini sangat diakui, bahkan sampai sekarang.” Jelas Angga antusias.

Sewaktu desa Tlilir belum masuk listrik, Mbah Setu orang pertama yang mengusahakan sumber penerangan untuk warga desanya. Dua mesin diesel sekaligus dibelinya, yang satu difungsikan untuk penerangan warga, yang lebih kecil digunakan untuk lingkung keluarga saja. Dia dikenal sebagai petani tembakau sekaligus pedagang yang cukup royal. Terutama untuk kebutuhan sosial di lingkungan desanya.

Dari tembakau juga Mbah Setu mampu membangun jembatan sendiri. Tanpa mengharap swadaya dari warganya. Yang sampai kini jembatan tersebut masih digunakan, memudahkan lalu lintas masyarakat dalam mengurusi tembakau, dari rumah ke kebun maupun ke pasar, kerja produktif masyarakat menjadi lancar berkat keberadaan jembatan itu.

Tahun 1983 adalah tahun pertama kali listrik masuk desa Tlilir. Menurut cerita Angga pula, berkat jasa Mbah Setu melalui koleganya yang seorang pensiunan Perusahaan Listrik Negara, desa Tlilir mendapat kemudahan dalam pengadaan listrik. Sejak tahun itulah listrik sudah bisa dinikmati seluruh warga desa untuk penghidupan dari bertani tembakau.

Sambil tetap pasang kuping mendengarkan Angga menuturkan riwayat mbahnya yang mewariskan keteladanan. Sesekali saya melirik ke letak cacak Hanoman itu bertengger. Persis berada di pojok ruang tamu. Sejenak cacak Hanoman itu melambungkan ingatan saya pada keampuhan Aji Mundri yang dimiliki Hanoman untuk mencoba jembatan udara yang dibangun oleh Wibisana dalam lakon Rama Tambak. Karena kesaktian Aji Mundri-nya jembatan tersebut hancur ketika digenjot oleh Hanoman, yang kemudian oleh Sri Rama, Hanoman diberi nama Ramadayapati. Selain itu karena kesaktiannya pula, Hanoman dapat mendarat di Matahari dan melakukan perjalanan Alengka kurang dari setengah hari.

Atas ingatan tentang kesaktian Hanoman itu lantas saja saya mengaitkan andil cacak legendaris itu dalam merajang tembakau, menjadi bagian dari alat produksi yang sangat penting pada masanya. Sebagaimana kita ketahui, selain cengkeh pada kretek, tembakau menjadi komoditas yang juga sangat diandalkan pendapatannya untuk negara. Terutama keterserapannya untuk idustri rokok.

Layaknya Hanoman. Alat rajang tembakau dimaknai sebagai benda yang sangat berjasa pengabdiannya dalam memuluskan kerja petani tembakau, seperti Mbah Setu, Sugito, Angga dan keluarganya, serta seluruh petani tembakau lainnya. Seturut kerja-kerja mulia petani yang memberi manfaat untuk kelangsungan tanah, air, sumber penghidupan, dan segala yang tumbuh bersamanya. Demikian pun jasa-jasa Mbah Setu untuk desa kelahirannya.