Mengapresiasi Kerja Keras Istri Petani Tembakau

roini
Roini melakukan aktivitas nganjang.

Sejak hari pertama mengikuti agenda belajar tentang tembakau di desa Tlilir—Temanggung, salah satu pertanyaan yang menghinggapi saya adalah terkait apa yang dilakukan istri petani dalam mendampingi kerja-kerja suaminya. Kebetulan tempat yang kami singgahi di sini adalah rumah milik keluarga Sugito. Sosok perempuan dan berstatus ibu di keluarga petani tentulah mengambil peran kunci yang tak kalah penting.

Di tempat ini saya belajar banyak hal, terutama mengenai tembakau yang dibimbing langsung oleh Sugito. Mulai dari mempelajari budidaya tembakau sampai mengikuti alur tata niaga pertembakauan yang berlaku di sini.

Sehari sebelum saya meninggalkan desa ini, rasa penasaran akan kerja-kerja para istri petani tembakau terus menghinggapi saya. Karena tempat yang kami singgahi adalah rumah milik Sugito, tentu saja aktivitas istri Sugito bernama Roini yang lebih dekat untuk dipelajari.

Suatu hari saya bangun lebih dini dari biasanya, tepat pukul 02.30 waktu setempat. Saya bergegas menuju dapur untuk memastikan kalau Roini sudah berada di dapur. Lantaran pernah pula pada jam yang sama saya mendapatinya sedang melakukan aktivitas di dapur.

Ternyata benar adanya, sepagi itu Roini sudah terlihat sibuk membuat adonan pisang goreng.

“Masih pagi kok ibu sudah terlihat sibuk?”

“Iya, Mas, ini sebentar lagi orang-orang yang mau nganjang bakal datang,” jawabnya tenang.

Tak jauh dari dapur, saya melihat Sugito dan dua orang pekerjanya sedang mempersiapkan tempat untuk proses perajangan. Terlihat juga Agus, anak sulungnya turut serta menyiapkan tembakau untuk dirajang.

“Berarti ibu bangun lebih dulu ya?” Tanya saya lagi.

“Iya, karena harus bangunin bapak dan orang yang bekerja di sini,” tukasnya.

Di sela obrolan, Roini menawarkan saya teh hangat supaya tidak merasa kedinginan. Cuaca pagi itu memang terasa lebih dingin dari biasanya. Saya tengok dari jendela dapur, tampak kabut menyelimuti suasana di luar. Jaket yang saya kenakan pun tak mampu membendung dingin yang menggigit.

Roini bersiap menggoreng adonan pisang goreng.

“Monggo mas, dimakan pisang gorengnya,” kata Roini seraya menyodorkan sepiring pisang goreng.

“Iya, Bu, terimakasih,” jawab saya ramah.

Deru mesin rajang sudah terdengar. Saya bergegas menuju tempat perajangan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari dapur. Secara pembagian ruang, dapur di area dak (bagian atas rumah yang dikonsentrasikan sebagai area produksi) ini praktis dibuat berdekatan dengan ruang peram sekaligius tempat merajang, agar mudah dijangkau jikapun Roini harus bolak-balik membantu suaminya, pula sebaliknya.

Sugito dan beberapa pekerjanya menyambut saya dengan senyum. Tangan Sugito terlihat sibuk memasukkan daun-daun tembakau yang sudah diperam itu ke dalam mesin rajang.

“Sudah bangun, Mas?,” tanya Klumpu, salah seorang pekerja yang sejak awal tak mengindahkan kemunculan saya.

“Sudah dong, Pak,” jawab saya dengan senyum.

Tanpa aba-aba saya mulai merekam aktivitas perajangan tembakau itu. Roini yang semula berada di dapur, turut nimbrung di tempat proses perajangaan. Roini membantu melepaskan pengikat tali tembakau-tembakau yang daunnya terlihat kecoklatan dan agak basah itu.

Bau tembakau yang sudah diperam sangatlah menyengat. Tak ada bau lain yang menandingi di ruangan itu. Untuk menangkal bau yang menyengat, Roini terlihat menggunakan masker penutup hidung. Dengan telaten satu persatu dilepasnya tali pengikat tembakau. Aktivitas ini Ia lakukan tak lebih dari setengah jam. Kadang tergantung pula seberapa banyak jumlah ikatan tembakau yang bakal dirajang.

Setelah membantu di tempat perajangan, Roini kembali ke dapur. Melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Deru mesin rajang terus beroperasi. Sugito dan Agus serta dua pekerjanya terlihat khusyuk menyuntuki daun-daun tembakau.

Satu persatu ibu-ibu yang akan nganjang mulai berdatangan. Suasana guyub terjalin menyenangkan pada proses ini. Kelenturan tangan-tangan perempuan itu adalah pemandangan yang menarik buat saya. Terkesan sangat mudah untuk melakukan hal ini, bagi orang awam seperti saya. Sekadar menata hasil rajangan tembakau pada ruas-ruas yang diberi pembatas gatak. Saya tergugah untuk mencoba. Tetapi tetap saja, melihat kelenturan tangan-tangan mereka jauh lebih terampil ketimbang tangan orang awam seperti saya.

Saya belum melihat ada tanda-tanda Roini akan istirahat setelah melakukan pekerjaan di dapur. Melihat kesibukan ibu-ibu, yang rata-rata adalah tetangga serta kerabat dekat. Roini tak mau ketinggalan ambil bagian. Sesaat Sugito terlihat tenang mengepulkan asap rokok lintingan, disusul menyantap pisang goreng buatan istrinya.

Usai nganjang, Roini kembali ke dapur, mengurus sarapan untuk Sugito dan kedua pekerjanya sebelum nanti berangkat memetik daun-daun tembakau. Melanjutkan tahap pemetikan daun atas. Sambil menunggu sarapan tersaji, saya, Sugito dan kedua pekerjanya mengisi waktu dengan obrolan. Roini masih bersibuk dengan perangkat dapurnya. Sesekali ikut menyahut apa yang kami obrolkan. Jika tidak ada kami, atau kami tidak ikut ke ladang, biasanya Roini akan ikut memetik tembakau di ladang.

Selama Sugito pergi ke ladang, Roini akan sibuk membolak-balikan tembakau yang di jemur. Aktivitas ini sebenarnya tidak dilakukan setiap hari, tergantung hari itu ada proses merajang atau tidak. Kalau sedang tidak ada proses itu, Roini akan terlibat membantu nganjang tembakau tetangga maupun kerabatnya. “Kalau hari ini bapak ndak ngerajang, gantian saya yang bantu tetangga nganjang, wong mereka juga bantu kita toh,” ungkapnya.

Roini sempat bercerita sebelum musim panen tiba, ia melakukan yang juga suaminya lakukan, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan sampai pemetikan. Bahkan saat penyemprotan, Roini sanggup menggendong alat semprot yang bebannya cukup berat untuk dibawa ke ladang. “Saya kuat bawa alat seberat itu,” ujar perempuan yang sudah menginjak usia 39 tahun itu.

Sebagai suami, Sugito mengaku sangat bersyukur memiliki istri setangguh Roini. Meski tahun lalu diterpa gagal panen, Roini tetap tabah dan tetap mendukung penuh sumber penghidupan keluarganya itu. Masih segar dalam ingatan Roini tatkala tahun lalu harus menghadapi masa sulit. Selain panen gagal, kedua anaknya harus melanjutkan pendidikan dan butuh biaya yang lumayan. Anak pertama baru masuk kuliah, anak yang keduanya harus masuk pesantren. “Ya terpaksa harus pinjam sana-sini dulu, kalo ndak gitu ya mereka ndak sekolah,” kenang Roini.

Dalam urusan bisnis tembakau, Roini selalu mengingatkan Sugito untuk mengedepankan kejujuran dalam berbisnis. Dalam kondisi apapun, tidak ada keinginan sama sekali untuk melakukan cara curang dalam bisnis tembakau. Ini sudah menjadi prinsip di keluarganya. Bagi Sugito, selain menjaga nama baik orang tua, istrinya sering mengingatkan agar tidak neko-neko dalam berbisnis.

Kejujuran Sugito kerap diakui masyarakat Tlilir. Lantaran kejujuran dan ketekunannya itulah Ia hasil tembakaunya dipercaya selalu berkualitas bagus . Koh Yopi salah seorang grader dan pemilik gudang untuk Djarum, sempat mengunjungi rumahnya melihat langsung proses pengolahan tembakau milik keluarga Sugito.

Apa yang dilakukan Roini mengingatkan pada figur Nasilah, istri raja kretek Nitisemito, yang digambarkan sebagai sosok Dasiyah dalam novel Gadis Kretek karangan Ratih Kumala. Dalam novel itu sosok Dasiyah adalah sosok yang punya andil penting dalam menyukseskan perusahan kreteknya.

Sangat mungkin, sosok macam Roini ini tidak hanya ada satu di Temanggung, jika kita mau menelusuri lebih luas lagi. Akan ada sosok serupa yang perannya bahkan bisa melebihi sosok Roini. Dan kita harus mengakui, bahwa di balik kesuksesan bisnis tembakau ada tangan-tangan perempuan yang tak bisa diremehkan andilnya.