Menguak Dunia Dalam Anak Petani Tembakau

Agus saat membantu orang tuanya memetik tembakau

Selulus SMA tak terbersit niat Agus untuk kuliah di jurusan keperawatan, namun membahagiakan orang tua adalah bakti yang utama bagi seorang anak. Bagi Agus, inilah salah satu kesempatannya untuk membuktikan diri.

Tak ada yang terlalu mencolok dari pembawaan anak dari pasangan petani tembakau Sugito dan Roini. Lelaki bernama lengkap Agustian Yudi Prasetyo ini berwajah tirus, kulitnya sawo matang, bertubuh kurus, tinggi badannya tak kurang dari 170cm. Tak ada yang terlalu istimewa jika dilihat dari fisiknya. Saya tak henti mencermati cara Ia bersikap, terutama dalam menilai kehidupannya sebagai anak yang lahir dari keluarga petani tembakau. Sejak tulisan ini diketik, genap tiga malam saya dan dua teman menginap di rumahnya.

Rumah kedua orang tuanya terbilang tak terlalu mencolok, bahkan tak jauh berbeda dari rumah rata-rata petani di desa Tlilir maupun desa lainnya. Memiliki ruang lebih di atas rumah utama—yang disebut dak—kerap digunakan sebagai area menjemur tembakau, serta proses produksi yang berkaitan dengan tembakau. Juga sejumlah penunjang kebutuhan produksi, berupa satu unit mesin rajang, mobil pickup, dan tiga motor tua.

Banyak tetangganya yang bilang, Pak Sugito adalah salah satu petani sukses dan kualitas tembakaunya dipercaya banyak grader, itu tercermin dari kehidupannya yang jujur dan telaten dalam memperlakukan tembakau. Tidak neko-neko. Istrinya pun tak sungkan berbagi cerita tentang riwayat keluarga Pak Sugito yang sejak dulu membawa urat emas petani tembakau.

Sebagai anak petani tembakau di Temanggung, hal itu juga yang terwaris pada diri lelaki yang akrab disapa Agus. Mungkin Ia bukan satu-satunya yang memiliki keinginan sama dengan pemuda sebayanya yang hidup di lingkung kaki gunung Sumbing, sebuah daerah penghasil tembakau dengan trek jalan yang cukup menantang, dan cukup menggugah adrenaline orang muda untuk menyalurkan ekspresinya di atas sepeda motor.

Menyalurkan kelincahan berkendara itu hanyalah cara lain untuk merawat emosi. Baginya itu sekadar hobi sampingan, bukan untuk gagah-gagahan apalagi pamer kekayaan orang tua, katanya. Meski diam-diam, ia sudah punya keinginan sejak lama untuk memodifikasi sepeda motor yang dibelinya sendiri dari hasil menabung. Sejak SMA Agus sudah terbiasa menyisihkan uang dari bisnis kecil-kecilan memperbaiki handphone teman maupun tetangganya. Jiwa kewirausahaannya sudah terlatih sejak masih sekolah.

Usianya kini sudah menginjak 20 tahun. Tak banyak pemuda dari keluarga petani tembakau yang seberuntung dirinya. Kedua orang tua Agus mendukung penuh cita-cita anaknya untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Agus juga selalu bertekad keras untuk dapat membahagiakan orang tua. Termasuk pula membantu bapaknya mengurus ladang tembakau jika sedang ada di rumah seperti sekarang.

Berstatus mahasiwa bukan tak menimbulkan pandangan miring dari orang lain. Pernah pada satu kesempatan ia menerima celotehan dari seorang tetangga saat sedang membantu orang tuanya di ladang, “mahasiswa kok ikut metiki mbako”, begitu kenangnya. Dengan lugas ditimpalinya celotehan itu, “lha aku anak petani kok, memangnya kenapa kalo ikut metiki mbako?” Katanya. Sontak saat itu juga yang melempar celoteh cuma bisa diam, enggan menimpalinya lagi. Tutur Agus mengenang masa itu.

Sewaktu saya bersama teman-teman membantu proses petik tembakau, kala itu—di sela istirahat—Agus berkisah kembali bahwa sehabis lulus SMA yang lalu, dia sempat menganggur selama satu tahun. Masa-masa itulah dianggap menjadi masa yang menjenuhkan bagi dirinya. Pak Sugito pun menyambung hal serupa.

Agus mengakui semasa menganggur itu ia selalu enggan jika diminta orang tuanya membantu di ladang. Malas katanya. Ia lebih memilih main dan tidur. Namun seiring waktu Agus menyadari, sebagai laki-laki yang sudah dewasa, juga anak pertama dari keluarga petani, yang artinya kelak bakal menggantikan tumpuan hidup di keluarganya. Terlebih lagi Ia memiliki adik perempuan yang kini sedang mondok di sebuah pesantren. Agus menyadari masa depan yang gemilang tak bisa dimodali dengan kemalasan.

Awal Oktober nanti, Agus kembali menjalani aktivitas perkuliahan di Magelang. Tepatnya di Universitas Muhammadiyah Magelang. Bulan September ini masih masa-masa libur semester. Ia tak pernah terlalu ambil pusing dengan celotehan orang lain tentang dirinya, “apalagi soal hubungan asmara dengan pacar saya yang satu desa,” ungkapnya disertai tawa sumringah. Baginya hal itu sudah biasa. “Pacar saya anak SMA, dan saya juga sering dimintai bantuan untuk menyelesaikan tugas di rumahnya, dia anaknya manja, dan suka mencucu”, ungkapnya bangga.

Sebagai mahasiswa semester tiga jurusan keperawatan, ia tak pernah merasa malu atau minder. Meski, banyak temannya yang tahu kalau orang tuanya adalah petani. Terlebih lagi bertani tanaman tembakau yang sering dicap haram oleh rezim kesehatan.

Di situlah keistimewaan Agus, jika diminta untuk menceritakan kehidupan keluarganya dari bertani tembakau, Ia dengan lancar dan percaya diri menjelaskan. “Apa yang dilakukan bapak saya bukan perbuatan ilegal, wong negara juga dapat pemasukan besar toh dari tembakau,” terangnya seraya membubuhkan cengkeh pada lintingan rokoknya.

Agus bukan tipe pemuda yang senang menghambur-hamburkan uang orang tua. Bapaknya adalah petani yang memiliki ladang seluas 2,5 hektar. Menurutnya, ladang itu mampu menghasilkan uang lebih jika musim sedang berpihak, tidak hanya dari tanaman tembakau, termasuk juga dari bawang dan cabe. Keseharian bapaknya tampak penuh kesederhanaan, tak  terlihat gaya hidup yang serba berlebihan dari keteladanannya sehari-hari. Sikap itu pula yang menjadi guru berharga bagi Agus, sehingga dia pun terbiasa hidup sederhana.

“Ini rokok, Gus. Melinting melulu.”

“Ada kok, Bang, kalo lagi senang tingwe ya gini.”

“Kenapa sudah punya rokok masih juga melinting, Gus?”

“Biar irit, Bang. Iya kalau lagi mau merokok, saya bakar rokok,” tandasnya pada suatu malam.

Selalu ada kisah dan nilai kearifan yang terkandung dari setiap hal yang dikisahkan keluarga petani, sebab yang menggugah perhatian bagi kami tak sebatas perkara tembakau. Itikad untuk mempelajari tata laku kehidupan masyarakat pun setara maknanya: keteladanan. Terutama pengalaman batin masyarakat yang harus hidup menghadapi berbagai gempuran serta perlakuan dari dalam maupun dari luar. Paling tidak, dari Agus dan Pak sugito saya bisa mendapat gambaran.

Masih banyak folk lore yang hidup di masayarakat yang masih perlu digali dari beberapa sumber lain di lingkung masyarakat yang hidup dari bertani, terutama pula dari keluarga di tempat kami menginap. Banyak hal bernilai yang saling berkait melingkupi daya hidup masyarakat tani dengan realitas pertembakauan yang di luar sana dipandang berbahaya.

Mahasiswa calon perawat ini menyatakan sepenuh pasti, “Meski nanti saya bekerja sebagai perawat, saya juga akan melanjutkan kerja-kerja bertani yang diajarkan bapak.” Baginya, hidup sebagai petani tembakau tak sekadar membawa nilai-nilai warisan. Lebih utama dari itu adalah marwah kita sebagai bangsa petani.