Menyelami Proses Penanaman Tembakau di Temanggung

Mritil, proses menghilangkan daun-daun kecil yang yang tumbuh di antara daun dan batang

Bagi masyarakat Temanggung,  tembakau adalah jantung kehidupan. Semakin bagus musimnya, semakin meningkat pula tingkat kesejahteraannya. Begitu pun sebaliknya, semakin sering cuacanya tak mendukung, semakin merosot pula kehidupan masyarakatnya.

Fenomena seperti itu menjadi fakta yang terjadi di Temanggung. Musim adalah hal vital. Karena musim memang sangat menentukan baik buruknya kondisi tembakau. Setidaknya jika hujan turun saat penanaman atau panen tiba, itu menjadi tanda bahwa kerugian akan datang di depan mata.

Di sinilah pentingnya para petani tembakau mengetahui kondisi musim yang akan terjadi. Karena musim yang bagus akan menjadi kabar baik bagi petani dan menjadi penentu kualitas tembakau itu sendiri. Memang musim buruk tidak berarti tidak panen. Panen tetap dilakukan, hanya saja kualitas tembakaunya akan jelek dan harganya otomatis akan turun. Begitulah penuturan salah satu petani di Temanggung bernama Sugito.

Meski begitu, pembibitan adalah perkara yang lain. Entah musim baik atau buruk nantinya, pembibitan akan terus dilakukan. Karena tembakau adalah sumber utama penghidupan mereka. Sampai sekarang petani masih mempercayai kalau bulan Februari sampai Maret adalah waktu yang tepat buat pembibitan.

Proses Pembibitan

Bibit tembakau didapat dari serbuk bunga pohon tembakau. Letak bunga tembakau yang digunakan untuk pembibitan adalah yang ada di pucuk. Biasanya pada musim panen, bunga-bunga tersebut dipotong, dikeringkan, dan diambil serbuknya untuk kemudian disimpan guna masa pembibitan di musim selanjutnya. Dari serbuk itulah para petani tak perlu lagi membeli bibit.

Saat memasuki masa pembibitan tiba, serbuk-serbuk itu di diambil dan dicampur dengan abu hasil pembakaran kayu. Hal ini dilakukan supaya bibitnya lebih merata. Setelahnya, dimulailah penyemaian bibit yang telah disiapkan.

Pembibitan tidak bisa dilakukan sembarang di sembarang tempat. Diperlukan tempat khusus yang tidak terkena matahari secara langsung. Biasanya agar bibit tidak begitu, para petani membuat pelindung dari kerangka bambu yang atapnya dilapisi plastik. Tujuannya agar bibit punya kualitas yang baik.

Ada dua tempat model pembibitan yang dilakukan oleh para petani tembakau di Temanggung. Jika pembibitannya dilakukan di area rumah, bibit-bibit tersebut ditanam di atas meja panjang yang sudah diberikan tanah. Jika pembibitannya dilakukan di ladang, bibit langsung disemai di tanah. “Keduanya tetap sama-sama diberikan atap plastik agar tidak terkena matahari secara langsung,” kata Sugito.

Kapan waktu yang dibutuhkan untuk pembibitan? Menurut keterangan Sugito, waktu yang dibutuhkan untuk proses pembibitan ini memakan waktu sekitar 40 hari. Perawatan dilakukan rutin dua hari sekali dengan menyiram bibit-bibit tersebut.

Setelah bibit dirasa cukup atau sekitar sudah berusia 40 hari, bibit-bibit tersebut sudah siap digunakan dan ditanam di ladang.

Proses pemunggelan untuk menyiapkan bibit musim depan

Menyiapkan Ladang Pada Musim Tanam

Sebelum bibit dibawa dan ditanam di ladang, para petani harus sudah menyiapkan area tanah yang dibuat untuk penanaman. Para petani membuat semacam gundukan-gundukan kecil yang diberi jarak. Tiap gundukan dilapisi mulsa, semacam plastik yang bakal melapisi gundukan tadi dengan kondisi telah dilubangi sebagian. Guna dari plastik mulsa ini supaya rumput-rumput kecil tidak tumbuh. Untuk area lahan dengan luas 1,5 hektar milik Sugito, membutuhkan sekitar 6 gulung plastik mulsa.

Setelah gundukan-gundukan kecil dibuat, pupuk kandang ditaruh di jarak antara gundukan. Biasanya pupuk kandang didapat dari hasil membeli. Untuk mendapatkan pupuk kandang, para petani di sini biasanya membeli dari daerah Boyolali. Ada juga yang membeli dari Semarang. Untuk ladangnya yang seluas 1,5 hektar, Sugito membutuhkan sekitar 10 truk pupuk kandang. Tiap truknya memuat sekitar 1 ton.

Selain membeli pupuk, petani harus merogoh kocek lagi untuk jasa angkut pupuk ke ladang mereka apabila lokasi ladangnya jauh dari jalan. Mereka mempekerjakan orang untuk mengangkut pupuk menggunakan alat pikul. Para pemikul inilah yang akan membawa pupuk ke lokasi ladang.

Jika jumlah pupuknya mencapai 10 ton berarti para pemikul ini harus berkali-kali mengangkut pupuk ke ladang. Untuk Lahan milik Sugito yang berada di ketinggian 1500mdpl saja, tiap orang bisa bolak-balik sampai 8 kali dalam sehari. Sugito biasanya melibatkan 3 orang pemikul.

Setelah pupuk kandang telah diberikan, barulah kemudian bibit tembakau ditanam di ladang. Masa tanam biasanya memakan waktu sampai 4-5 bulan. Untuk menjaga kualitas tanaman, biasanya para petani menggunakan 3 jenis pupuk yakni Fertila, KNO3 dan ZA. “Ketiga pupuk itu digunakan supaya kualitas dan beratnya bisa bertambah,” kata Sugito.

Proses pemupukan dilakukan setelah bibit ditanam sekitar 5-10 hari dengan menggunakan pupuk jenis Fertila. Pupuk ini berfungsi untuk memperkuat akar. Setelah pemupukan fertila dilakukan, 25 hari kemudian dilakukan kembali pemupukan dengan pupuk jenis KNO3 dan ZA. Kedua jenis pupuk ini diberikan untuk meningkatkan kualitas daun tembakau saat masa pertumbuhan.

Pemberian dua jenis pupuk ini sangat penting, jika hanya diberikan pupuk jenis ZA saja maka daun akan mudah rontok. Sehingga pemberian dua jenis pupuk ini sangatlah penting terhadap kualitas daun. Untuk lahan seluas 1,5 hektar diperlukan pupuk jenis ZA sebanyak 4-5 kuintal. Sedangkan untuk pupuk jenis KNO3 membutuhkan 2-3 kuintal.

Setelah selesai diberi pupuk, proses merawat tanaman terus dilakukan para petani. Ada istilah ‘mritili’ atau memisahkan daun-daun kecil yang tumbuh di sela-sela antara daun dan batang. Ini fungsinya agar daun punya kualitas yang baik. Proses ini dilakukan secara rutin setiap 10-15 hari satu kali.

Sebenarnya, proses ini bisa dilakukan hanya sekali apabila petani menggunakan herbisida ketika melakukan “mritil” yang pertama. Namun karena tahun ini Sugito kurang modal, Ia tidak menggunakan herbisida untuk musim tanam kali ini.

Dalam hal perawatan, selain proses yang sudah disebutkan, ada proses penyemprotan pestisida. Hal ini dilakukan agar tembakau tidak diserang hama seperti ulat, wereng dan berbagai jenis hama lainnya.

Menjelang musim panen, ada proses yang menurut petani Temanggung disebut dengan ‘pemunggelan’ atau proses pemotongan tangkai pucuk dari tanaman tembakau. Tangkai pucuk ini mengandung bunga yang di dalamnya berisi serbuk bibit. Maka bunga-bunga yang ditangkai pucuk ini akan dipotong kemudian dibawa, dikeringkan, dan serbuknya disimpan untuk bibit di musim tanam selanjutnya.

Setelah tiba saat panen, proses pemetikan daun dalam satu pohon tidak dalam waktu bersamaan. Daun yang layak petik tentunya daun yang tua. Daun yang tua biasanya letaknya paling bawah, berarti proses pemetikan dilakukan dari daun paling bawah ke atas. Perlu kejelian dari pemetik untuk urusan ini, paling tidak si pemetik harus tahu mana daun yang layak petik.

Pemetikan tembakau saat panen tiba

Ada 3 istilah dalam proses pemetikan: Ampadan, Tenggok, dan Protol. Ampadan adalah proses awal pemetikan yang dilakukan dari daun paling bawah. Tenggok, pemetikan dari tengah. Proses ini dilakukan setelah ampadan. Sebelum ke tenggok biasanya pemetikan akan dilakukan ketika daun sudah matang pohon.

Kemudian ada istilah Protol, yakni pemetikan daun sampai habis atau sering disebut metik penghabisan. Pemetikan dari tenggok sampai protol pun sama, dilakukana ketika daun sudah sudah matang pohon. Intinya dalam proses pemetikan tembakau selalu dilakukan dari bawah, karena kematangan daun terjadi dari bawah.

Jika musim panen tiba, Sugito akan meminta beberapa orang untuk bekerja padanya untuk memetik tembakau. Pada musim ini Sugito melibatkan empat orang, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Untuk dua orang perempuan hanya diminta untuk memetik saja, sedangkan dua orang laki-laki selain memetik, mereka juga harus memikul daun tembakau dari atas ke bawah beberapa kali. Para pemetik mulai bekerja dari jam delapan pagi sampai menjelang zuhur. Proses pemetikan tembakau ini bisa memakan waktu sampai 8 hari, bahkan bisa lebih.

Tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun yang cukup baik bagi para petani tembakau. Sugito adalah satu dari sekian banyak petani yang merasakan seperti itu. Tentu saja, panen kali ini setidaknya bisa mengembalikan kebahagiaan yang tahun sebelum tidak dirasakan lantaran hasil panen tahun lalu tidak bagus karena hujan sepanjang tahun.