Menyiasati Pengeringan Tembakau di Ruas Proyek Tol

jemur-tembakau

Tepatlah apa yang mendiang WS Rendra pernah sampaikan pada kesaksiannya di Mahkamah Konstitusi pada 2009 silam. Terkait kesaksiannya terhadap budaya kretek serta sektor pertembakauan di negeri ini.  Yang dapat kita simpulkan, bahwa karena bangsa ini memiliki daya kreativitas tinggi serta daya adaptasi itulah yang  patut dihargai. Itulah yang semestinya mendapatkan perhatian lebih.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kemampuan bangsa kita dalam menyiasati persoalannya sehari-hari. Sebagaimana dulu Iwan Dauluk yang lebih dikenal sebagai Mbah Moedjair yang sukses mengembang biakkan ikan laut menjadi ikan tawar—berjuluk ikan Mujair—yang kemudian menjadi konsumsi masyarakat luas.  Ada daya kreativitas yang berangkat dari realitas kehidupan di sekitarnya. Demikian halnya dengan Haji Djamhari, yang berkat kreativitasnya kita jadi mengenal kretek.

Sejurus itu, belakangan ini dapat kita lihat pula kreativitas yang dilakukan petani tembakau di lereng Merapi pada akhir Agustus lalu. Mereka memanfaatkan ruas jalan proyek tol Solo – Semarang di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono, untuk menjemur tembakau hasil panen.

Menurut Didik Setiawan (27), petani asal Cepogo , Ia dan petani lainnya berburu panas matahari di wilayah bawah agar proses pengeringan bisa lebih cepat. Sebab intensitas sinar matahari lebih banyak dibanding di Cepogo yang berada di kaki Merapi.

Selain itu, penjemuran di atas cor beton bisa membuat proses pengeringan tembakau bisa sempurna, sebab permukaan tol lebih panas dibanding di atas permukaan tanah.

Di ruas tol tersebut, ‎lanjutnya lagi, tembakau bisa kering hanya dalam satu kali proses penjemuran saja. “Di sini paling hanya butuh waktu lima jam saja untuk pengeringan,” terangnya.

Tahap pengeringan tembakau ini adalah suatu proses yang cukup vital di sektor hulu pertembakauan. Bagaimana tidak, tembakau yang tingkat kekeringannya di bawah rata-rata tentu akan mendapatkan harga jual yang rendah.

Tidak hanya petani, pihak pabrikan pun sangat menginginkan kualitas tembakau yang baik dan berkualitas. Maka itu petani pun tetap berusaha menjaga agar harga jual hasil panennya tidak anjlok. Hal ini dilakukan semata-mata agar kualitas serta harga jual terjaga.

Tembakau pasca panen yang tak segera dikeringkan bisa membusuk. Harga jualnya pun tentu ikut turun. Saat ini di tingkat petani, tembakau kering‎ dihargai Rp65 ribu/kg. Sementara tembakau yang rusak, bisa karena membusuk atau proses pengeringan yang tidak sempurna, paling-paling hanya dihargai Rp25 ribu/kg.

Usai proses pengeringan, tembakau hasil panenan di wilayah Boyolali ini akan dijual ke gudang tembakau di wilayah Temanggung dan Magelang.

Solikin, menegaskan hal serupa. Baginya sebagai petani tembakau, meski harus keluar biaya tambahan untuk mengangkut tembakau, yang sekira satu jam perjalanan dari rumahnya, Ia mengaku tak keberatan mengambil risiko tersebut. Iya hal itu dilakukan demi menjamin kualitas tembakau tetap terjaga.

Bila sekadar mengandalkan intensitas sinar matahari di lereng gunung‎ yang tak jarang tertutup kabut, kualitas tembakau bisa turun. “Dibanding tahun lalu, hasil panenan tembakau tahun ini lebih bagus karena cuaca mendukung. Jadi sayang kalau rusak karena proses pengeringan,” tandas Solikin.

Dari fakta ini tentu ada dua hal yang dapat dijadikan acuan, terutama dalam hal pemanfaatan tempat pengeringan di ruas proyek tol yang belum selesai. Tentu kita dapat melihat satu daya kreatif petani dari sisi ini. Tak lebih dari 5 jam mereka sudah mendapatkan hasil pengeringan yang sempurna. Namun juga akan muncul satu pertanyaan lanjutan, yakni bilamana proyek ruas tol Solo-Semarang sudah kelar di tahun mendatang. Apakah hal serupa dapat dilakukan kembali? Tentu tidak.

Namun tentu tidaklah keliru untuk kita menilik lagi kesaksian yang pernah disampaikan mendiang WS Rendra bahwa, “…dalam ekonomi kita tidak pernah membangun industri hulu, tidak pernah membangun modal dalam negeri, infrastrukturnya saja tidak ada.” Meski daya kreativitas petani tinggi, tentulah pemerintah tak boleh abai pada pengadaan infrastruktur yang mendukung penuh kehidupan di hulu kretek. Yang dalam konteks ini, seperti yang sudah kita ketahui, konten kretek semuanya berasal dari dalam negeri, termasuk pasar konsumennya. Jangan sampai kita dikalahkan oleh kepentingan lain yang mendiskreditkan sektor kretek ini, sementara dari pendapatan yang jumlahnya triliunan terus diterima.