Panorama Tembakau dan Replika Menara Eiffel di Boyolali

Wisata-Alam-Sutra-Boyolali

Menara Eiffel sejak dua abad silam merupakan salah satu ikon prestisius yang berdiri mentereng di kota Paris. Terdaftar pula sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru. Meski berbeda nilainya dengan candi Borobudur di Indonesia, yang juga tak kalah ajaib dan prestisusnya jika mau ditelisik lebih dalam. Terutama dari sisi kesejarahan serta kebudayaan yang melingkupinya.

Tak dipungkiri memang, setelah menara Eiffel dibangun dengan penamaannya diambil dari nama belakang si perancang yakni Gustave Eiiffel pada tahun 1889. Hal serupa terkait penyebutan zat nikotin pada tembakau pun berlaku sama. Penyebutan yang diambil dari nama seorang diplomat Perancis, Jean Nicot.

Menara yang dibuat setinggi 320 meter dari konstruksi baja ini telah menjadi inspirasi banyak pihak untuk menirunya, baik dalam bentuk model, miniatur, souvenir, bahkan replikanya. Di Tianducheng, di pinggiran Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China terdapat replika menara Eiffel setinggi 180 meter.  Nilai yang khas bukan semata pada replikanya, melainkan pada panorama yang kontras di kawasan tersebut. Selain terdapat perumahan bernuansa barat, di sekitarnya terdapat juga kawasan pertanian yang sejuk.

Mungkin Tasikmalaya—salah satu kota di Indonesia—merupakan kota pertama yang membuat replikanya dari material non baja. Dengan tinggi 40-50 meter yang disusun dari bambu. Replika ini dibangun pada tahun yang sama (1889), diprakarsai seorang pengawas air Van Bebber sebagai penghormatan atas dinobatkannya Ratu Wilhemina sebagai penguasa kerajaan Belanda. Di negeri Belanda sendiri juga ada replika serupa, tingginya hanya 15 meter.

Lain di Tasikmalaya lain lagi di Boyolali. Meski memiliki kesamaan bahan baku dari bambu, namun terdapat kreasi dan nilai panorama yang berbeda dari replika yang ada di Tasikmalaya maupun di negara lain. Menara dari konstruksi bambu ini berada di satu titik yang kita dapat melihat hamparan tanaman tembakau, yang dikenal pula sebagai emas hijau, dengan pesona alam pegunungan nan memukau di sekelilingnya.

Posisinya persis berada di Desa Samiran, Kecamatan Boyolali. Destinasi pelesir Alam Sutra di Dukuh Pojok ini terbilang memiliki keistimewaan yang memberi nilai potensi baru. Khususnya dalam hal pariwisata, tanpa menggusur potensi pertanian yang ada. Dusun yang berada di radius 10 kilometer puncak berapi teraktif di Indonesia itu telah menyedot banyak wisatawan domestik maupun para traveler untuk mengabadikan pengalamannya di tempat wisata ini.

Di antara hamparan ladang tembakau, menara pandang setinggi 15 meter itu berdiri menjulang. Warna kuning cerahnya membuat menara ini sudah bisa dikenali dari kejauhan. Instalasi bambu apus yang kuat membuatnya dapat dinaiki hingga tingkatan tertinggi. Tepat di puncaknya, bendera merah putih berkibar.

Ada tiga tingkat menara yang bisa dipijak pengunjung yang datang ke tempat ini. Tingkatan pertama setinggi enam meter menjadi titik favorit berswafoto. Setelahnya tingkatan kedua setinggi empat meter di atasnya disusul tingkat terakhir setinggi 12 meter.

Sedianya menurut kabar dari harian setempat, replika menara Eiffel ini dirancang bangun oleh Paguyuban Muda-Mudi Dukuh Pojok, yang disingkat Pamipo. Kabarnya kreasi replika Eiffel dari bambu ini dibuat memakan waktu sekira tiga bulan. Jika Anda masuk area Wana Wisata Alam Sutra yang berada di tepian tebing daerah aliran sungai (DAS) kering Merapi. Maka dari titik ini, Anda dapat menyaksikan kemolekan Merapi tua alias Gunung Bibi, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu. Saat cuaca cerah, puncak putih Merapi tampak jelas. Begitu pula dengan hijaunya puncak Merbabu.

Seperti yang sudah kita ketahui, tanaman tembakau umumnya tumbuh di daerah lereng pegunungan. Keberadaan hamparan tanaman ini pula yang memberi arti kesejukan dan keindahan bagi pengunjung yang menikmati sektor wisata di daerah ini.

Tak hanya itu, tembakau sebagai salah satu komponen baku pada rokok, yang besar terserap pada industri kretek telah memberi nilai kemakmuran tersendiri bagi masyarakat tani di sekitar lereng Merapi. Dengan adanya destinasi wisata tersebut, tentu kawasan ini mendapatkan nilai tambah, yang tak melulu diartikan sebagai pendapatan daerah. Lebih terpenting dari itu adalah nilai intrinsik dari pesona alam yang dimiliki, sehingga kemudian dapat menggugah orang-orang untuk melestarikan nilai yang terkandung di dalamnya, yakni harkat petani serta harkat komoditas pertanian di area wisata itu.