3 Kebiasaan Kreatif Perokok yang Masih Lazim Terlihat

perokok1

Jika kita cermati, selalu ada yang menarik dari kebiasaan perokok dalam kenikmatan aktivitas legalnya itu.  Kebiasaan itu memang tidak sepenuhnya memiliki penjelasan mutlak. Sebab setiap perokok punya alasannya masing-masing dalam menjelaskan kebiasaan. Dalam menjalankan kebiasaan ini, ada juga perokok yang memang melakukannya sekadar untuk mengikuti kelaziman yang berlaku. Tanpa mau meninjau lebih jauh pula kenapanya. Hal ini sengaja saya hadirkan sebagai usaha untuk menafsir sisi kreatif dari kehidupan perokok. Tak kurang.

Memang tidak semua perokok melakukan kebiasan yang sama, bahkan tiga kebiasaan di bawah ini boleh jadi bukan hal yang awesome lagi di masa kini. Mungkin bagi generasi Z, hal ini tidak lagi dianggap penting. Tak dipungkiri setiap zaman membawa ciri dan spirit yang mewakili masyarakatnya. Betapa pun itu, “memang baik menjadi orang penting, namun jauh lebih penting menjadi orang baik.” Begitulah quote yang dulu sering dilariskan mendiang Ebet Kadarusman, seorang maestro talkshow Indonesia. Siapa itu orang baik? Setidaknya dapat kita temukan cirinya dari sisi kreatif perokok dalam menyikapi sarana rekreatifnya itu. Berikut adalah tiga kebiasaan itu.

Memukul-mukulkan bungkus rokok ke telapak tangan.

Beberapa perokok mengakui kebiasaan semacam itu dilakukan sebagai cara untuk memadatkan batang-batang rokok sebelum bungkusnya dibuka. Lazimnya, itu dilakukan untuk jenis rokok putih. Sedikit informasi, rokok putih adalah rokok tanpa campuran cengkeh, berbeda dengan kretek. Tetapi ada juga perokok yang melakukan hal yang sama terhadap jenis kretek mild. Saya pernah beberapa kali melihatnya. Padahal kretek mild tiap batangnya bagi saya sudah cukup padat.

Untuk rokok putih yang diperlakukan begitu biasanya ujung rokok akan terlihat ada ruang sedikit. Akibat tembakau di dalamnya memadat. Tapi boleh jadi itu dilakukan semata-mata karena kebiasaan saja, suatu yang reflek dilakukan tanpa penjelasan apapun. Bahkan boleh jadi semacam isyarat tersendiri, bahwa si perokok memiliki kemampuan membeli rokok jenis tertentu.

Membuka bagian belakang bungkus rokok selebar kuku.

Tentu kebiasaan ini dilakukan sebagai cara alternatif untuk mengeluarkan rokok. Ada sebagian perokok yang percaya dengan cara demikian si perokok dapat membatasi keluarnya rokok. Meski secara implisit cara itu menimbulkan keriskanan tersendiri bagi perokok lain yang tidak biasa dengan cara serupa. Boleh saja ditafsir kalau ia ingin terlihat beda dari kalangannya. Kita akan melihat layaknya seorang panitia arisan mengeluarkan pipet berisi kertas dari kocokan gelas arisan sewaktu rokok itu harus dikeluarkan, apalagi itu tinggal beberapa batang lagi.

Sengaja membakar bagian ujung filter rokok sebelum dihisap

Beberapa perokok umumnya melakukan itu lantaran ada serabut filter yang tidak rata, kuatir tertelan. Ada juga yang tidak ingin ada rasa manis yang tercecap dari filter rokok.  Maka cara itu yang ditempuh. Namun sebagian lainnya ada yang percaya dengan membakar ujung filter dapat mengurangi asupan nikotin yang masuk. Walah.

Tentu saja tak semua perokok meyakini hal yang sama. Melalui tulisan ini saya tidak pula mengarahkan pembaca untuk melakukan ketiga kebiasaan di atas. Namun ada sisi kearifan yang bisa disimpulkan dari ketiga kebiasaan tersebut, bahwa umumnya perokok memiliki dimensi kreatif yang dapat dibahasakannya melalui sebungkus rokok. Bahkan untuk urusan menjaga kebersihan lingkungan dari abu rokok, sebagian perokok mampu membuat asbak dari bungkus rokoknya sendiri. Dimensi inilah kiranya yang saya nilai sebagai salah satu ciri kreatif perokok di Indonesia.

(Visited 1 times, 1 visits today)