Agar Korek Api Aman dari Dendam Sosial Curanrek

Kata orang tua, kehilangan sesuatu apapun itu janganlah terlalu disesali. Kehilangan sesuatu yang berharga dalam kehidupan kita tentu akan selalu menuntut sifat legowo. Apalagi itu yang dialami adalah kehilangan benda yang sangat berarti, terutama dalam melengkapi kebutuhan ibadah udud bagi teman-teman yang merokok.

Untuk mencapai keluhuran sifat legowo itu agaknya perokok adalah golongan yang terlatih menghadapinya. Bagi Anda yang susah legowo, bisa belajar dari korban-korban curanrek ini lho. Pasalnya, sampai sekarang belum pernah ada delik gugatan yang diadukan ke PN, PTUN, atau Mahkamah Konstitusi terkait kehilangan sebuah korek api. Sejauh ini sih mungkin belum ada korban atau penggugat yang merasa dirugikan banget oleh perilaku curanrek sesamanya.

Harus diakui memang tidak semua orang, baik perokok maupun bukan perokok, mampu legowo dalam menyikapi problem kehilangan. Pasti ada secuil kecewa, atau paling tidak mengumpat: Taek! Apalagi hilangnya korek api itu karena tercuri, bukan karena jatuh atau lupa. Termasuk saya.

Malah tak jarang persoalan kecurian korek api ini justru menciptakan dendam sosial yang berkepanjangan antar perokok, yang kerap dianggap jamak alias lumrah. Nah loh. “Mencuri kok jadi lumrah.” Kata diri saat ngaca di spion motor.

Sebaiknya memang korek api yag kita miliki diberi sistem proteksi sederhana agar teman kita sesama perokok tak terjerumus dalam tindak pencurian korek. Entah pencurian itu dilakukan secara sengaja maupun tidak. Agar tak ada rasa kecewa atau umpatan taek lagi setidaknya. Beberapa trik di bawah ini patut dipertimbangkan, boleh dicoba boleh juga dianggap remeh, tetapi siapa tahu ada dari Anda merasa perlu menerapkannya, ya monggo.

Pertama, beri tanda nama dan tanda kota kelahiran Anda pada korek api.

Semacam memberi keterangan identitas kepemilikan. Misalnya dengan menuliskan pada permukaan korek pakai spidol atau tipex: Punya Rizqi—Indramayu. Syukur lagi kalau Anda punya nama tongkrongan yang cukup disegani manfaatkan saja nama tongkrongan itu. Asal jangan ditulisi: Punya Jokowi—Solo. Bisa heboh nanti, ekstrimnya bisa dianggap pencemaran nama baik nanti Anda.

Kedua, ikat korek api Anda agar bisa dikalungkan.

Jika ada teman yang butuh api untuk menyalakan rokoknya, jangan sekali-kali Anda melepas korek api dari leher Anda. Hal ini akan mencipta satu keintiman tersendiri antara Anda dan teman yang sedang butuh api. Cobalah perhatikan beberapa warung rokok pun melakukan hal yang sama, mengikat korek apinya lalu menggantungkannya di depan warung. Dengan demikian setidaknya agak sulit orang untuk membawa korek api itu jauh dari penglihatan pemiliknya.

Ketiga, beri tambahan pemberat pada korek api yang Anda punya.

Misalnya dengan mengikatnya pakai solasi pada ujung botol kosong. Dulu, di beberapa warung kopi kelas gurem juga melakukannya. Tetapi bukan dengan korek gas, melainkan korek api gejres/gesek. Pentol-pentol korek apinya di dalam botol, sementara kertas untuk geseknya ditempelkan pada badan botol. Nah, kalau untuk korek gas Anda bisa juga meniru cara serupa. Masukkan pantat korek ke mulut botol lalu disolasi deh.

Oke ya, sementara tiga itu saja dulu trik dari saya. Sekali lagi ini pada prinsipnya untuk memutus dendam sosial antar perokok. Setidaknya trik ini jika diterapkan akan mengurangi bertambahnya pelaku curanrek.

(Visited 1 times, 1 visits today)