Melihat Lebih Dekat Lingkungan Industri Kecil Kretek di Kudus

lik-kretek

Tangan-tangan perempuan itu begitu cepat bekerja. Satu demi satu bahan baku kretek selesai menjadi lintingan, lalu berpindah ke tangan perempuan pekerja lainnya meneruskan proses membatil, yakni merapikan tembakau yang tak rata pada ujung lintingan. Dalam sebuah pabrik berukuran 200 meter di Lingkungan Industri Kecil (LIK), kami melihat para perempuan tangguh bekerja, melestarikan warisan budaya agar terus terjaga.

Agenda Wisata Kretek 2017 ini membawa kami ke Lingkungan Industri Kecil di Kudus, Kota Kretek. LIK di sini berdiri sejak tahun 2010, sebanyak 11 pabrik rokok unit kecil menengah menempati gudang produksi yang telah disediakan. Adanya LIK ini sebenarnya imbas dari keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi, kini terpaksa harus memiliki pabrik sendiri sesuai dengan Permenkeu tersebut.

Ketika menginjakkan kaki di LIK, kami melihat beberapa gudang produksi pabrik rokok masih tertutup, entah karena memang sedang tidak beroperasi atau mungkin memang sudah kosong ditinggal pemilik usaha. Saat kami disana hanya ada dua pabrik yang sedang beroperasi, pabrik rokok milik PT. Djambu dan PT. Seroja.

Kunjungan pertama kami adalah pabrik PT. Djambu, saat melangkahkan kaki masuk ke pabrik, aroma khas kretek yang sangat wangi seakan menari-nari di hidung. Disana sekitar 40 pekerja perempuan sudah duduk rapi bekerja memproduksi kretek Djambu. Mereka menyapa kami dengan ramah seraya mengumpan senyum yang hangat.

Proses demi proses mulai dari meracik bahan baku kretek dengan menghaluskan tembakau dan cengkeh, melinting bahan baku kretek dengan kertas papir, membatil, hingga proses packaging dan pengepakan produk. Dengan senang hati si empunya pabrik mempersilakan kami untuk melihat dan mempelajari proses produksi kretek Djambu. Meski tengah bekerja para perempuan tangguh itu tetap melayani pertanyaan-pertanyaan kami, tangan-tangan gesit mereka sungguh mengagumkan.

Salah seorang perempuan pekerja diperkenalkan kepada kami, Sarinah namanya, usianya sekitar 40 tahun. Si empunya pabrik memperkenalkan kepada kami bahwa Sarinah adalah pekerja yang paling cepat melinting rokok di pabrik PT. Djambu. Dalam seharian ia bisa melinting rokok kretek hingga 7.000 batang. Itu pun tidak sepenuhnya seharian, jam kerja terhitung dari pukul 6 pagi hingga pukul 1 siang.

Kepada Bu Sarinah kami mengulungkan beberapa pertanyaan. Salah satunya menyoal pekerjaan produksi rokok yang didominasi oleh perempuan. Kenapa tidak ada laki-laki yang melakukan pekerjaan ini? Kira-kira begitulah pertanyaan yang kami lemparkan. Dengan santai Bu Sarinah menjawab, “kalau laki-laki gak secepat dan serapih kami dalam pekerjaan ini,” Lalu terdengar celetukan dari perempuan lainnya, “ini sudah tradisi mas, laki-laki kan bisa cari pekerjaan yang lain.” Mendengar itu kami melepas gelak tawa bersama.

Puas melihat-lihat proses produksi rokok kretek PT. Djambu, kami terlibat obrolan singkat dengan si empunya pabrik. Beliau menceritakan bahwa industri kretek kecil menengah sedang mengalami masa sulit. Kebijakan-kebijakan pemerintah selalu tidak berpihak kepada industri kecil. Selain harus mengongkosi sewa gudang produksi, pabrikan juga dibebani dengan membeli pita cukai secara kontan. Belum lagi setiap tahunnya harga cukai selalu mengalami kenaikan. “Jelas itu sangat memukul industri kecil seperti kami,” jelasnya.

Pabrikan rokok kretek seperti PT. Djambu dan PT. Seroja ini memang hanya memproduksi rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT). Postur pasar SKT setiap tahunnya memang cenderung menurun. Pergeseran tren konsumsi rokok SKT ke Sigaret Kretek Mesin (SKM) turut mempengaruhi terpuruknya industri rokok kretek kecil menengah. Pemilik PT. Djambu mengakui bahwa mereka agak kesulitan melempar produknya ke pasar. Sampai-sampai harus bekerja keras membuka pasar ke tanah Sumatera. Semua dilakukan agar industri ini tetap bertahan dan memberikan penghidupan bagi mereka yang bekerja.

Kunjungan kami di LIK harus diakhiri ketika mas Nidu, Korlap Wisata Kretek berpamitan dengan pemilik PT. Djambu karena harus melanjutkan rangkaian Wisata Kretek lainnya. Tak lupa kami berpamitan dengan para ibu-ibu pekerja yang sudah mau meladeni berbagai pertanyaan dan mengajari kami proses memproduksi SKT. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Lalu bus pun melaju meninggalkan LIK bersama doa dan tekad kami untuk terus memperjuangkan kretek agar terus bertahan.