Para Perokok dan Kampung Buku Jogja

Bukan sekali-dua Komunitas Kretek diajak mengisi perhelatan yang melibatkan beragam komunitas. Begitu pun sebaliknya. Kali ini, sebuah perhelatan yang diinisiasi oleh para penerbit buku indie. Digelar di Lembah UGM, satu kawasan food park yang berada di lingkung kampus ternama di Jogja.

Sedari tanggal 4 sampai 8 Oktober Komunitas Kretek menjadi bagian dari perhelatan bertajuk Kampung Buku Jogja jilid 3. Ini tahun ketiga kegiatan gelar lapak buku itu diselenggarakan. Beragam buku dari jejaring penerbit indie marak dihadirkan, menggugah hasrat pembaca untuk berbelanja. Mulai dari buku-buku yang terbit secara terbatas, maupun buku-buku lawasan yang terbilang langka, semua turut andil memeriahkan.

Tentu yang tak kalah menarik adanya sesi obrolan seru maupun diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh lintas disiplin. Dari sastrawan, penulis, peneliti, seniman, dll. Semua menghadirkan wawasan baru bagi para penikmat acaranya.

Karena acara ini berlangsung di ruang terbuka yang berhubungan langsung dengan udara, tak heran jika beberapa narsum terlihat merokok. Tak perlu ditanya kenapa boleh semerdeka itu, sebab manusia dan buku pada hakikatnya saling memerdekakan. Begitupun asap rokok yang dikepulkan oleh manusia-manusia yang berpikiran merdeka.

Kretek dan buku adalah produk kebudayaan dunia, yang menjadi bukti pencapaian manusia dalam mengangkat derajatnya sebagai makhluk (yang bercita-cita) beradab. Geliat keinginan masyarakat untuk menjadi bagian dari dunia literasi terlihat dari maraknya kehadiran mereka yang berasal dari berbagai latar belakang. Tua maupun muda, pelajar, mahasiswa, maupun akademisi. Tak terbatas itu perokok ataupun bukan perokok. Buku adalah milik semua insan.

Khusus di lapak Komunitas Kretek terpampang buku-buku yang selama ini kerap mengungkap tentang realitas produk kretek. Semua buku itu bisa diunduh di bukukretek.com. Mulai dari buku tentang hasil penelitian cengkeh–sebagai bagian dari komponen kretek, Ensiklopedia Kretek, buku Hikayat Kretek, serta buku lainnya yang mengupas persoalan ekonomi politik yang melatari kenapa kretek dianggap penting untuk diketahui publik luas.

Satu aktivitas unik yang terlihat selalu selama lima hari itu terjadi di lapak yang kami, Komunitas Kretek meriahkan. Untuk mengajak teman-teman pengunjung Kampung Buku Jogja bergembira, kami menghadirkan dua seniman cethe dari Rembang. Setiap harinya kedua seniman ini memperkenalkan seni membatik di atas sebatang rokok. Keberadaan rokok yang dicethe dengan ampas kopi itu menjadi perhatian tersendiri bagi para pengunjung. Tak terkecuali.

Tidak sedikit yang bukan perokok pun ingin mengetahui seluk beluk seni cethe. Bahkan terlibat untuk ambil bagian. Cethe yang di daerah asalnya sana, Tulung Agung, Lasem, maupun Rembang, adalah pemandangan umum yang kerap berlangsung di warung-warung kopi.

Para pengunjung dipersilakan terlibat ambil bagian untuk menunjukkan keterampilannya. Ada yang hanya sekadar ingin tahu, ada juga yang sampai berbatang-batang rokok dicethe dengan saksama. Semua boleh turut andil.

Bukan hanya itu, mereka yang terlibat berkarya bareng itu juga diperbolehkan untuk menikmati hasil karyanya. Ada pula yang ingin praktis saja membakar rokok-rokok yang sudah dibatik oleh dua seniman asal Rembang itu.

Untuk menunaikan ekspresi merokok para pengunjung lapak, oleh Komunitas Kretek disediakan pula satu ruang khusus yang diberi tanda Area Boleh Merokok. Pada area berasap itulah percakapan demi percakapan berlangsung. Mulai dari yang bertanya seputar kretek, menanyakan isi materi infografis yang terpampang di lapak.

Ada juga pengunjung yang setelah keliling mencari buku sengaja mampir untuk ngaso, sekadar ngebul lalu pergi. Atau pula yang betah berlama-lama berbagi pengalaman mereka seputar aktivitas merokok. Seputar realitas ruang merokok yang mereka alami.

Area ini sengaja dihadirkan sebagai salah satu cara untuk mengedukasi perokok agar tak sembarangan ngebul. Karena tidak semua orang tentunya yang suka dengan asap rokok.

Meski panitia Kampung Buku Jogja sendiri tidak secara khusus membatasi ataupun melarang aktifitas legal tersebut. Inisiatif Komunitas Kretek justru memberi satu nilai tersendiri, terutama bagi perokok yang sadar bahwa barang konsumsinya itu pun memiliki risiko lain.

Perhelatan Kampung Buku Jogja sudah rampung diselenggarakan. Tentu ada beberapa catatan sebagai koreksi untuk menjadikannya lebih baik di masa datang, terutama bagi kami. Namun secara prinsip, perhelatan ini menjadi wahana silaturahmi yang mempertemukan berbagai kalangan, penerbit, pecinta buku, perokok, maupun bukan perokok, semua berhak untuk beradab bersama buku dan kretek.

(Visited 6 times, 1 visits today)