Bob Marjinal dan Pengalaman Merokoknya di Jepang

Marjinal dan Bob adalah dua hal yang hampir tak bisa dipisahkan. Karena Bob adalah Marjinal, dan Marjinal pun hidup dan berkembang bersama Bob. Marjinal, sebagai sebuah band punk yang terkenal dengan lagu-lagu perjuangan, memiliki banyak kisah tatkala harus manggung dari luar negeri. Dan dari Bob inilah, kiranya tulisan ini bakal tercipta untuk Anda.

Satu waktu Bob bercerita tentang pengalaman Marjinal sewaktu melakukan tur di luar negeri. Mulai dari cerita tentang pohon ganja yang tingginya sekitar 4 meter di Berlin yang dijuluki sebagai “ibu”, bercerita juga tentang pengalaman Bob bekerja di studio tato di Jepang di sela-sela tur musiknya.

Khusus tentang pengalaman manggung di Jepang pada tahun 2013 silam, Bob mengaku salut dengan sikap respek masyarakat Jepang terkait aktivitas merokoknya. “Di sana pada jam-jam tertentu, jam anak-anak sekolah seliweran, nggak ada mereka (orang dewasa) yang terlihat merokok di jalanan.” Perlu diketahui juga, di Jepang yang namanya tempat-tempat khusus merokok itu tersedia cukup di ruang publik; di stasiun, terminal, taman, maupun pusat-pusat perbelanjaan. “Sikap saling menghargai satu sama lain itu masih terjaga baik,” ungkap Bob pada saya.

Ada beberapa hal yang juga membuat teman-temannya di Jepang juga menaruh kagum akan budaya orang Indonesia. Misalnya sewaktu menerima bayaran dari bekerja selama 4 hari jadi tukang tato, ia merasa kaget, bagi Bob nilai uangnya terbilang besar, cukup untuk membeli impiannya punya laptop Macbook Pro. Namun, bukannya dipakai untuk beli impiannya, duit itu justru dipergunakannya untuk membeli oleh-oleh buat orang sekampungnya. Di Jepang tidak ada budaya membawakan oleh-oleh buat orang sekampung, paling hanya untuk orang yang memesan oleh-oleh saja, itu pun kalau bukan keluarga ya teman dekat. “Buat mereka itu satu hal yang aneh, kalau kita kan biasa ya, kayak orang-orang yang baru balik dari haji gitu,” papar Bob.

“Lucunya lagi, waktu gue di bar, kebiasaan gue kan suka naro rokok di tongkrongan tuh, mereka kaget, iya gue terangin kalo di Indonesia etika perokoknya begitu,” kisah Bob sembari menderaikan tawa dari kami yang mendengarkan ceritanya. “Nggak tau kenapa mereka jadi ikut-ikutan ngeluarin rokoknya juga, diumbar di meja.”

Obrolan guyub dengan Bob ini justru bagi saya membuat saya tercerahkan. Bukan apa-apa sih, lebih ke romantisme pergaulan saja. Antar kami sesama orang panggung dan perokok. Tak kurang.

Saya mengambil hikmah dari pengalaman Bob. Ternyata di di luar sana masih ada orang-orang yang mengapresiasi sikap etik yang kita punya, misalnya tadi soal menaruh rokok di meja pergaulan. Yang boleh jadi, di Indonesia bakal semakin ditinggalkan—lantaran semakin mahal belinya—sementara di lain tempat sikap etik itu justru (bakal) membudaya.

(Visited 2 times, 2 visits today)