Nicotine War
Berita

Membedah Buku Nicotine War: Ini Perang Bukan Tawuran

Acara bedah buku Nicotine War di UGM pada Jumat siang (4/3) mengangkat beberapa poin penting dari para Nara Sumber, berpijak dari fakta-fakta yang ada di buku Wanda Hamilton. Setelah acara dibuka oleh penampilan grup musik kampus. Pemaparan diawali oleh Muhidin M. Dahlan yang biasa disebut sebagai Gus Muh, menyajikan slide makalah bertajuk; Ini Perang Bukan Tawuran.

Tajuk makalah tersebut berangkat dari analisa Gus Muh untuk membuktikan bahwa perang nikotin itu nyata terjadi. Bukan sebatas pertempuran yang sifatnya pendek bukan pula tawuran antar kelompok yang pro dan kontra yang bersifat baku lempar dan asal tuding saja.

Sebagai penulis cum arsiparis, Gus Muh seakan mengajak peserta acara—yang mayoritas dihadiri kalangan mahasiswa—untuk menemukan bukti-bukti dari data yang diungkap Wanda Hamilton terkait adanya kepentingan politik dagang yang bermain lewat isu kesehatan dan rezim standarisasi, dengan memperbandingkan perubahan yang ada pada iklan-iklan rokok dari masa ke masa.

Yap. Baginya, pada bungkus rokok itu kita dapat menemukan kode-kode visual yang mampu memantik penalaran agar dapat mengetahui apa-apa saja faktor pemicu perubahan simbol visual tersebut. Pelacakan data berdasar sistem tanda ini disebutnya sebagai metode genealogi.

Bagai seorang saksi ahli di persidangan yang tengah mengungkap bukti-bukti kejahatan, fakta-fakta otentik terjadinya perubahan simbol pada bungkus rokok itu tentu berkat etos kerja pengarsipan yang telaten. Selama ini sebagai arsiparis, beliau memang dikenal memiliki keuletan dalam mengkliping beragam informasi dan beragam kronik sejarah di Indonesia.

Terkait acara ini, difokuskannya mulai dari menilik perubahan simbol iklan yang sudah tak lagi menampilkan objek produk (rokok) & model perokok, hilangnya lembar iklan rokok di majalah dan koran. Hingga era penggunaan tanda peringatan kesehatan pada bungkus rokok.

Baca Juga:  RPP Tembakau adalah Pembodohan Publik

Ia mengungkapkan, semula merokok adalah akvitas yang normal, namun seiring waktu berubah menjadi pembinasaan manusia, penyebab kemiskinan dan memperluas pengangguran. Kampanye perang terhadap rokok berdampak serius terhadap regulasi dan penyempitan ruang Industri Hasil Tembakau.

Dimana hal itu tak lepas dari desakan rezim kesehatan global yang bermain melalui politik regulasi. “Perubahan itu tidak alami, ada desakan besar yang membuat itu semua berubah.” Kemudian, perang nikotin ini juga bagi Gus Muh dapat dilihat dari bursa saham industri rokok yang dari waktu ke waktu mengalami penurunan, akibat sentimen pasar yang terus negatif terhadap rokok.

Kemudian pemateri kedua, Abhisam Demosa, kembali mengungkap fakta penting dari peta perang bisnis nikotin itu dipandang dari sisi industri kretek. Dimana industri kretek selama ini, merupakan sektor strategis yang pada gilirannya terus terpukul oleh skema perang tersebut.

Selama ini Komunitas Kretek, dalam konteks advokasi bukan melulu menyoal rokok dan tidak merokok yang remeh temeh saja. Ini lebih kepada persoalan kedaulatan bangsa yang terancam direcoki politik dagang industri farmasi, melalui isu kesehatan dan beragam regulasi yang berdampak serius pada ekosistem kretek yang merupakan simbol kedaulatan kita. Papar Abhisam Demosa.

Sementara pada sesi Bung Abe, dosen sosiologi yang cukup eksentrik ini. Mengungkap praktik-praktik kampanye antirokok yang bermain melalui narasi kesehatan, adanya pola-pola kuasa pengetahuan yang berupaya merebut nalar waras publik.

Baca Juga:  Pegiat Anti-Tembakau Dipertanyakan Nasionalismenya

Rezim kesehatan global menggunakan istrumen politik pegetahuan itu untuk melancarkan tujuan penguasaannya. “Rezim kesehatan global ini bermain lewat politik pengetahuan. Dan ditegaskan pula oleh Bung Abe, “bahwa tembakau memiliki kandungan emas, ini satu hal yang sedang diperebutkan.” Bahkan, kemudian ia pun mengajak peserta acara untuk membaca perang ini tak sebatas persoalan rokok dan target penguasaan paten nikotin.

Lebih dalam lagi, Bung Abe juga menukil beberapa hal dalam kehidupan sosial dari keseharian masyarakat. Di antaranya terkait percekcokan antar pasangan yang dipicu oleh pilihan konsumsi, dalam konteks ini rokok tentunya. Stigma negatif tentang rokok yang terus direpetisi oleh antirokok sehingga menimbulkan keterbelahan. Hingga perkara polarisasi antar Ormas keagamaan yang diidentikkan preferensinya, oleh sebab keberpihakan terhadap sektor pertembakauan.

Setelah melewati proses pembedahan, dengan menggunakan pisau analisis masing-masing nara sumber. Selanjutnya, acara bedah buku yang memakan waktu 2 jam itu dipungkasi oleh Mas Alit Jabang Bayi melalui sesi Kretekus Talk.

Beberapa bentuk kelakar dari pengalaman pribadinya sebagai kretekus mengalir secara saksama, mengundang tawa renyah peserta di ruangan ber-AC dan terlarang untuk ngebul itu. Acara yang dilaksanakan di gedung UC UGM itu, terbilang kali pertama terselenggara dilakukan pada masa pasca pandemi di kampus. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 2 siang tersebut berjalan dengan saksama dan tetap menjalankan protokol kesehatan standar.

Penulis di Komunitas Kretek