Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan Terhadap Stigma Buruk Perokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selama ini stigma masyarakat terhadap perokok hampir selalu buruk. Baik rokok ataupun konsumennya, selalu dicitrakan buruk di mata masyarakat. Pandangan yang berkembang di masyarakat kerap menyatakan bahwa: perokok itu jahat, perokok pembunuh, perokok bajingan, dan segala lain yang berkaitan dengan hal buruk.

Karena hal itulah, kemudian dari stigma yang berkembang perlakuan diskriminatif kerap menimpa kita para perokok. Mulai dari dijauhi oleh lingkungan hingga yang paling sahih tentu saja: dihabisi haknya melalui peraturan yang dibuat-buat. Separah inilah citra dan diskriminasi yang dialami oleh perokok di Indonesia.

Memang harus diakui, ada sebagian perokok yang hingga hari ini masih berperilaku tidak santun kepada orang lain. Sebagian yang ini adalah mereka yang tidak bertanggungjawab atas barang yang mereka konsumsi. Mereka inilah yang masih saja tidak menghargai hak orang lain dengan merokok di angkutan umum, merokok saat berkendara, merokok di dekat banyak orang, atau juga mereka yang buang puntung rokok sembarangan.

Baca Juga:  Sebuah Gagasan Menjadikan 3 Oktober Sebagai Hari Kretek

Yang menjadi masalah dari semua perkara tadi adalah, orang-orang yang membenci rokok akan dengan mudah mengajak orang lain untuk ikut tidak menyukai perokok. Semua kelakuan tidak bertanggungjawab macam tadi hanya akan membuat orang jadi semakin tidak suka kepada perokok. Dan ketika makin banyak orang yang membenci rokok, tentu saja hal-hal buruk pada perokok akan terus berlanjut.

Agar persoalan tersebut segera terkendali, ada baiknya kita para perokoklah yang melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap stigma buruk kepada perokok. Tindakan kecil saja, tapi jika itu konsisten dilakukan dan diikuti banyak perokok, niscaya stigma buruk masyarakat akan berkurang seiring berjalan waktu. Itu ya dengan dua catatan tadi: konsisten dan diikuti banyak perokok.

Apa sih tindakan kecil tersebut?

Mudah saja, jadilah perokok santun. Buktikan pada masyarakat bahwa perokok bukanlah orang jahat seperti yang diceritakan dalam dongeng-dongeng antirokok. Merokoklah dengan penuh tanggung jawab, dan hargai hak masyarakat yang tidak merokok.

Jangan lagi merokok di angkutan umum, atau merokok saat berkendara. Jika memang Anda kebelet merokok, merokoklah sebelum Anda menaiki angkutan umum. Jika sedang berkendara, berhentilah sejenak dan cari tempat yang asyik untuk merokok. Tidak sulit, bukan?

Baca Juga:  Cukup Sudah Aturan Anti Tembakau

Berhentilah merokok jika ada anak-anak di sekitar Anda. Jangan merokok di dekat ibu hamil, juga matikan rokok Anda tatkala ada orang yang terlihat terganggu dengan aktivitas ini. Kalau hal ini terjadi di ruang merokok, maka mintalah orang yang terganggu itu untuk pindah ke kawasan dilarang merokok. Minta saja baik-baik, beri mereka pemahaman bahwa ruang merokok adalah tempat orang-orang merokok.

Selain itu, berusahalah untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan. Memang sih membuang puntung rokok sembarangan itu enak betul. Sama seperti membuang sampah sembarangan, enak betul. Asal buang saja tanpa perlu repot memikirkan dampak dan apapun yang terjadi setelahnya. Tapi ya sebagai perokok santun, dan sebagai upaya kita melawan stigma negatif perokok, buanglah puntung rokok yang Anda isap ke asbak ataupun tempat sampah.

Dengan melakukan tindakan-tindakan kecil perlawanan tadi, niscaya masyarakat bakal menyadari bahwa perokok bukanlah penjahat sebagaimana dongeng busuk antirokok. Dengan tindakan-tindakan ini, kita melakukan sebuah upaya untuk meminimalisir stigma buruk terhadap perokok. Dan yang paling penting adalah, dengan tindakan ini kita berupaya menghargai hak orang lain terlebih dahulu sebelum kita menuntut hak kita sebagai perokok.

Baca Juga:  Kenaikan Tarif Cukai Buat Industri Kretek Kian Lesu
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara