Buruh Kepik Cengkeh Mendapat Nilai Tambah dari Panen Raya di Munduk

Buruh Kepik Cengkeh Mendapat Nilai Tambah dari Panen Raya di Munduk

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Cengkeh telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat Desa Munduk. Dari komoditas ini tak hanya pemilik lahan perkebunan saja yang diuntungkan. Warga masyarakat lainnya juga mendapatkan nilai tambah dari cengkeh. Salah satunya dari aktivitas ngepik, yaitu proses pemilahan bunga cengkeh dari batangnya.

Sejak memasuki Agustus kesibukan desa yang berada di wilayah Singaraja Kabupaten Buleleng Bali ini menampakkan aktivitas yang berbeda dari dua musim sebelumnya. Pada tahun 2018 ini panen cengkeh terbilang merata di Munduk, masyarakat menyebutnya sebagai panen raya.  

Ngepik adalah kerja sambilan bagi warga. Seperti yang dilakukan Pak Ketut dan istrinya. Sembari berjualan keduanya mengisi waktu dengan ngepik cengkeh. Bunga-bunga cengkeh yang dipilah dari batangnya itu bukan berasal dari kebun Pak Ketut, semua didatangkan dari pemilik kebun yang tengah mendulang keuntungan dari panen raya.

Pak Ketut juga memiliki kebun yang menurutnya tak seberapa luas. Dari aktivitas ngepik dia dapat menghasilkan 40 Kg yang kalau dirupiahkan sekitar Rp 60.000 upahnya, per kilogram dikenai upah Rp 1.500. Bagi bapak 3 anak ini upah dari ngepik cukup memberi nilai tambah yang sangat membantu.

Panen raya tahun ini beberapa pemilik kebun cengkeh mengaku merasa kewalahan karena kekurangan tenaga. Terutama untuk jasa pemetik cengkeh. Keterampilan memanjat dan memetik cengkeh ini tentu bukanlah kerja yang sembarangan. Menurut Pak Ketut, kebanyakan mereka yang menjadi buruh petik di kebun cengkeh berasal dari luar Desa Munduk.

Pak Ketut sendiri tidak punya keterampilan semacam itu. Dari panen raya tahun ini seperti yang sudah-sudah, Ia memilih ngepik saja untuk menambah penghasilan keluarganya. Anak-anaknya sudah tidak lagi bergantung hidup dari Pak Ketut. Semuanya sudah pada bekerja di kota.  

Cengkeh adalah komponen penting yang terserap untuk industri kretek. Sekitar 93% komoditas cengkeh dalam negeri dipakai untuk rokok khas Indonesia tersebut. Dari komoditas cengkeh tidak hanya bunganya saja yang dimanfaatkan. Batang serta daunnya juga memberi keuntungan bagi masyarakat.

Karena itu tak heran jika cengkeh disebut sebagai komoditas perkebunan yang strategis. Selain terserap untuk industri kretek, dari komponen cengkeh juga dapat dimanfaatkan menjadi minyak, persentasenya memang tak seberapa besar.  Namun dipandang dari nilai strategisnya, komoditas ini memiliki manfaat besar bagi pemasukan negara.

Celaka saja jika kepentingan kesehatan global kemudian mendiskreditkan rokok, terutama kretek yang sebagian besar dikonsumsi masyarakat Indonesia. Yang oleh pihak kesehatan digadang-gadang penyebab dari tingginya angka penderita kanker dan penyakit lainnya. Sementara seperti yang kita ketahui, cengkeh juga menjadi penopang perekonomian masyarakat dan negara.

Tentu tak hanya Pak Ketut yang mendapatkan keuntungan dari panen raya tahun ini. Sebagian besar masyarakat Indonesia pun turut menikmati hasilnya. Karena cengkeh sekali lagi dibutuhkan untuk kretek.

Pajak dan cukai dari industri kretek memberi sumbangan yang tidak kecil untuk pembangunan, juga pemanfaatan di sektor kesehatan. Salah satunya dengan dibangunnya rumah sakit paru di Karawang, serta pengadaan fasilitas alat rumah sakit di beberapa tempat lainnya yang disumbang dari cukai rokok.

Baca Juga:  3 Kritik Perokok Terhadap Rilis YLKI
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara