Dua Hama Cengkeh yang Kerap Mengancam di Munduk

Dua Hama Cengkeh yang Kerap Mengancam di Munduk

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pemeliharaan pohon cengkeh tentu tak semudah yang kita kira. Ada banyak tahap yang harus dilakukan terkait pemeliharaannya termasuk mengatasi serangan hama cengkeh. Di Munduk, Bali, masyarakat yang membudidayakan cengkeh sangat kesal dengan hama Jamur Akar Putih, atau yang biasa disingkat dengan istilah JAP.

Pohon cengkeh yang terserang JAP umur hidupnya sudah bisa dipastikan tidak akan bertahan lama, kehabisan nutrisi dan akan tampak tidak segar. Belum ada cara ampuh untuk membasmi hama tersebut jika sudah menyerang akar. Adapun yang biasa  dilakukan petani cengkeh adalah dengan melakukan upaya preventif.

Salah satunya melalui penyemprotan insektisida secara berkala. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk mencegah datangnya ancaman mematikan dari JAP. Sebagian besar petani amat mencemaskan datangnya serangan hama jenia ini.

Bagaimana tidak mencemaskan, JAP berpotensi menular ke pohon cengkeh lainnya. Untuk mencegahnya ada satu laku pecegahan dari pengalaman Bli Komang, salah satu petani cengkeh yang memiliki disiplin bagus dalam hal pemeliharaan pohon-pohon cengkeh di Munduk selama ini. Ia mendaku pernah mendapatkan pengalaman buruk dari serangan JAP, dari pengalaman itulah Ia kemudian belajar mengolah insektisida organik. Pengetahuan yang didapatnya ini hasil kombinasi dari berbagai sumber. Bahan-bahan yang digunakan pun didapat dari lingkungan sekitarnya.

Cukup dengan memanfaatkan daun tembakau, daun pepaya, daun sirsak, dan buah larak. Ke semua komponen itu tidak semua didapatnya dari membeli. Tentu upaya ini bisa menjadi contoh bagi petani cengkeh lainnya.

Ancaman hama lainnya adalah berupa ulat cengkeh yang kerap membuat lubang di pokok-pokok pohon. Kerja ulat ini sangat luar biasa militan dan masif, salah satu hama yang menjadi momok bagi para petani cengkeh umumnya. Hama ulat ini sudah dikenal sejak dahulu sekali.

Bli Komang biasanya mengatasi serangan hama ini dengan cara menyumbat lubang tersebut menggunakan bilah bambu yang diruncingkan layaknya tusuk sate. Lalu ujung runcingnya itu diberi kapas, kapasnya dicelupkan ke dalam insektisida. Setelah itu barulah dibenamkan ke dalam lubang sampai mentok. Sisa pangkalnya lantas dipotong rata sampai tidak menonjol, kemudian diolesi lem yang paling kuat. Agar awet sebagai sumbatan sih intinya.

Setidaknya gambaran ini dapat menjelaskan bahwa persoalan hama ini dapat ditanggulangi dengan berbagai cara, setiap petani memiliki kreativitasnya sendiri. Boleh jadi di tempat lain di luar Munduk ada cara yang berbeda dan bersesuai dengan persoalan hama yang dihadapi.

Cengkeh sebagai komponen produk kretek tentu haruslah cengkeh yang berkualitas. Yang dari kualitas itulah petani dapat memiliki posisi tawar terkait harga jual, dan lebih utama dari itu tentunya menyangkut pula reputasi. Para pengepul yang membeli cengkeh dari petani cukup selektif dalam pencapaian kualitas yang diinginkan pihak pabrikan.

Baca Juga:  Menolak RUU Pertembakauan, Membiarkan Rakyat Baku Hantam
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara