I made Terip, Perokok Berat Tanpa Keluhan

I Made Terip, Perokok Berat Tanpa Keluhan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Aset Munduk tak hanya perkebunan cengkeh yang mengeluarkan wangi khas ketika panen raya seperti sekarang, tak cuma destinasi wisata yang masih terjaga kealamiannya, atau keragaman kulinernya yang juga dikenal luas. Salah satu yang mendunia adalah seorang seniman bernama I Made Terip.

I Made Terip terlahir dengan bakat alam yang sangat istimewa. Tidak sedikit komposisi musik lahir dari bakat alamnya yang cadas itu. Masyarakat Munduk sangat menghormatinya sebagai seniman yang keras dalam mendidik para pebakat baru. Seniman yang mengangkat kekayaan lokal ini tercatat beberapa kali menjadi pengajar tamu di beberapa kampus di Eropa.

Berbagai perhelatan musik skala internasional pun telah kerap menghadirkan seniman yang sudah menginjak usia 66 tahun pada tahun ini. Satu hal yang cukup memberi sumbangsih besar adalah perannya dalam menciptakan karakter gamelan khas Buleleng melalui komposisi tabuh gong.

I Made Terip berasal dari keluarga seniman (pragina). Buyut, kakek,  juga ayahnya adalah seniman tradisional di Munduk. Bahkan, kakek buyutnya, I Wayan Djada, adalah perbekel (kepala) Desa Munduk yang dikenal sebagai penulis lontar dan seniman karawitan. Karya kakek buyutnya, Djada, adalah berupa tabuh Gending Sekatian yang dilestarikan di Munduk.

Selain mahir menabuh rindik bahkan membuatnya, I Made Terip juga handal memainkan gamelan gender wayang. Berbeda dengan rindik dari bambu, gender terbuat dari bilah-bilah logam. Terdiri atas 10 bilah atau lebih, alat musik ini sering dibuat sepasang sebagai pengiring pentas wayang.

Ketika duduk di kelas tiga SD dia sudah dipercaya mengajar gamelan dan tari. Dengan segala prestasi dan kesohorannya itu I Made Terip tetap tampil bersahaja. Di usianya yang sudah tidak muda lagi itu Ia mampu menghabiskan rokok dalam sehari lebih dari tiga bungkus. Bahkan diakuinya tak ada sedikit pun keluhan dari kebiasaannya merokok yang terbilang tak lazim.

Setiap seniman sangat dipengaruhi oleh tanah kelahiran dan ruang tumbuhnya, tak terkecuali I Made Terip. Meski gemar merokok dia tidak pernah mau merepotkan orang lain untuk memenuhi kegemarannya itu. Dia sangat menyukai kretek berfilter, belakangan ini rokok yang dihisapnya adalah jenis kretek mild.

Dedikasinya dalam kesenian tak diragukan lagi, pun halnya dengan kebiasaannya merokok. Rokok tiak membuatnya menjadi buntu berkarya. Rokok pun bukan satu-satunya alasan dia terus berkarya. Meski sebagian besar orang yang melihat dari kacamata kesehatan menilai kebiasan merokok I Made Terip ini amatlah kelewatan. Namun faktanya justru tidak. Ia senantiasa bugar dan terus berkesenian dan memberi sumbangsih besar bagi Munduk juga tanah airnya.

Baca Juga:  Kontroversi Todung Mulya Lubis, Pengacara yang Antirokok Penyambi Jabatan Duta Besar
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara