Mengenal Pupuk Alami dari Petani Cengkeh di Munduk

Mengenal Pupuk Alami dari Petani Cengkeh di Munduk

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Cengkeh sebagai komoditas perkebunan yang terserap lebih dari 90%-nya untuk industri kretek ini telah lama menjadi tumpuan hidup masyarakat Munduk. Cengkeh telah melewati berbagai suka duka sejarah di desa yang subur tanahnya ini. Selain dari cengkeh, dari komoditas kopi masyarakat juga mendapatkan penghasilan.

Tak heran jika ada beberapa wilayah perkebunan di Munduk yang ditumbuhi pohon kopi. Dataran Munduk yang berada pada ketinggian 600-1200 dpml memang sangat mendukung untuk menghasilkan kopi-kopi berkualitas. Panen cengkeh dan panen kopi bergantian terjadi sekali dalam setahun di Munduk.

Menurut seorang tenaga penggarap, Kadek Koko, tanaman kopi terbilang lebih manja perawatannya ketimbang cengkeh. Namun bukan berarti cengkeh tidak membutuhkan perhatian lebih. Perawatan terhadap rempah-rempah khas Indonesia ini juga harus dilakukan secara berkala.

Sebagian besar petani cengkeh di Munduk hanya memberi pupuk satu kali dalam setahun. Pupuk yang dipakai pun umumnya pupuk jadi, bukan pupuk buatan sendiri. Setelah diberi pupuk itu kemudian dibiarkan saja kebun cengkehnya, pemilik kebun biasanya sibuk mengurusi komoditas yang lain.

Bahkan tak jarang juga dari mereka yang memberi ‘doping’ kimiawi agar pohon cengkehnya tetap kuat dan mengalami percepatan pertumbuhan. Biasanya dari jenis pupuk merk Phonska, yang pada tahun 2016 lalu beredar produk gadungannya dari Sukabumi.

Namun ada hal menarik yang ini jarang dilakukan oleh petani kebanyakan di Munduk, yakni perlakuan intensif yang dilakoni Komang Armada terkait perawatan terhadap pohon-pohon cengkehnya.

Ia sangat perhatian terhadap komoditas perkebunannya. Untuk itu Ia menyediakan tangki air di tiap kebunnya serta media pembuatan pupuk organik. Berbeda dari kebun cengkeh milik petani cengkeh lainnya. Itu semua Ia fasilitasi sendiri untuk memudahkan proses pembuatan pupuk di kebunnya.

Dia membuat sendiri pupuk organiknya di kebun bersama beberapa tenaga penggarap, yang dianggapnya pula sebagai teman belajar dalam hal tata kelola kebun. Komang armada memanfaatkan beberapa jenis buah, salah satunya Kakao, dan untuk pestisidanya Ia juga memanfaatkan buah Lerak yang diakui ampuh membasmi hama cengkeh. Menurutnya ini sangat efesien alias hemat biaya, meski beberapa orang menilai apa yang dilakukannya itu tidaklah praktis.

Bagi Komang Armada, apa dilakukannya melalui pemberian pupuk organik dapat membantu meningkatkan nutrisi yang dibutuhkan pohon-pohon cengkehnya. Hara tanahnya pun menjadi lebih bagus dengan pemberian pupuk organik.

Terkait itu ada masa-masa yang cocok dalam pemberian pupuk, Komang Armada menghitungnya berdasar weton (penanggalan Bali), biasanya dilakukan ketika memasuki musim penghujan. Pada masa kemarau dan pasca panen, tentu membutuhkan pula perhatian yang lebih intens. “Iya karena seluruh bunganya sudah kita ambil, sebanyak apa kita ambil sebanyak itu pula yang harus kita berikan.” Begitulah prinsip Komang Armada dengan segala laku hidupnya yang sederhana.

Satu hal yang juga menarik, setidaknya bagi saya yang awam, petani panutan ini juga kadang memanfaatkan dedak kopi untuk dijadikan pupuk. Dedak yang biasa digunakan biasanya didapat dari sisa penggilingan kopi milik kerabatnya. Dedak kopi oleh para petani biasanya juga dijadikan pakan ternak.

Dedak kopi tersebut cukup kaya akan kandungan nutrisi (NPK) yang dibutuhkan pohon cengkeh. Tak heran jika kemudian cengkeh-cengkeh yang berasal dari kebun miliknya cukup berkualitas dibanding dengan cengkeh-cengkeh yang tidak mendapatkan perawatan intensif.

Nah, dari sisi ini kita dapat mengambil satu kesimpulan bahwa komoditas kopi, tidak hanya apa yang dihasilkan dan terserap oleh pasar. Kopi tidak hanya menjadi teman merokok kita di kesempatan apapun. Ternyata dedaknya yang berasal dari cangkang kopi, juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang pertumbuhan pohon cengkeh serta dapat memberi hasil yang menggembirakan.

Artinya, sebagai sama-sama komoditas strategis, kopi di Munduk tidak hanya terserap untuk memenuhi kebutuhan pasar penikmatnya. Namun juga ada nilai lain yang bisa dimanfaatkan petani cengkeh, iya dengan catatan asal petaninya mau lebih perhatian terhadap pohon-pohon cengkehnya.

Kalau saja semua petani di Munduk berlaku seperti Komang Armada dengan segenap kreatifitasnya itu, memberi waktu lebih untuk meningkatkan kualitas hasil cengkehnya, boleh jadi pupuk di pasaran yang lumayan mahal harganya bagi petani bakal mangkrak saja di gudang para suplier, alias tidak laku.

Baca Juga:  Wur: Aneka Rempah dalam Kretek
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara