Melawan Logika Kanker Paru Pada Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun ini belum beranjak dari logika ngawurnya yang mengaitkan rokok sebagai penyebab tunggal dari penyakit kardiovaskuler. Kanker paru disebut-sebut sebagai penyakit yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok. Asap rokok melulu dituding sebagai pencemar udara yang mematikan. Padahal asap yang disumbang asap kendaraan bermotor menurut WHO sendiri jauh lebih membunuh dibanding asap rokok.

Masyarakat internasional, tak terkecuali Indonesia, terus saja dipaksa dan dijejali isu-isu kesehatan yang selama ini menjadi tameng rezim antitembakau. Meski tidak sedikit hasil penelitian para ahli yang menyatakan manfaat tembakau, namun tetap saja kampanye kesehatan yang menyerukan bahaya rokok yang bertolak dari logika ngawur antitembakau dilesakkan ke benak publik.

Masyarakat perokok bukan tidak tahu, bahwa kampanye kesehatan yang selama ini mendiskreditkan rokok tak lain hanyalah akal-akalan dagang. Karena faktanya kini di Indonesia produk tembakau alternatif dilariskan dengan dalih untuk mengentaskan kecanduan pada rokok. Artinya, industri farmasi yang menyokong gerakan antitembakau sudah secara terang-terangan menampakkan sisi muka duanya. Keberadaan rokok terus digempur sementara produk tembakau alternatif didorong untuk merebut pasar perokok.

Baca Juga:  Ada Apa dengan Ahok?

Keberadaan industri hasil tembakau di Indonesia kini menghadapi ancaman baru yang tak kalah mengerikan dari tahun-tahun sebelumnya. Rezim kesehatan di negeri kita sendiri bahkan semakin masif memainkan gerakan yang mendistraksi pasar perokok. Ruang perokok semakin dipersempit. Lewat berbagai Perda tentang KTR yang acap diskriminatif. Namun cukai rokok tetap saja menjadi andalan bagi pemasukan negara bahakan turut menyumbang berbagai kepentingan kesehatan di Indonesia.

Masyarakat perokok dipaksa percaya bahwa penyakit kanker paru disebabkan semata oleh rokok. Padahal risiko yang ditimbulkan dari unsur kimiawi pada produk konsumsi lainnya telah pula merenggut kesehatan masyarakat. Orang yang tidak merokok dan terindikasi kanker paru kerap dihubungkan akibat terpapar asap rokok. Artinya, rezim kesehatan yang selama ini memusuhi rokok tidak pernah hadir memberi pandangan yang lebih definitif. Bahwa ada pola hidup masyarakat yang tidak seimbang dalam hal konsumsi sehingga memicu munculnya berbagai penyakit.

Pihak kesehatan tetap saja menggunakan jurus kebenciannya terhadap rokok. Nikotin pada tembakau didiskreditkan sebagai gurita menakutkan yang merebut nyawa banyak orang. Jika kita menelaah kembali pernyataan Dr Toto Sudargo, peneliti dari Universitas Gadjah Mada, disebutkan pada daun tembakau terdapat senyawa bioaktif seperti flavonoid dan fenol. Dua senyawa itu menjadi antioksidan yang dapat mencegah penyakit kanker, anti-karsinogen, anti-proliferasi, anti-flamasi, serta memberikan efek proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler.

Baca Juga:  Aplikasi Untuk Berhenti Merokok Tak Berarti Menjawab Persoalan Kesehatan

Indonesia memiliki produk khas bernama kretek. Produk yang kontennya menyerap dua komoditas perkebunan di Indonesia secara signifikan. Indonesia terbilang kaya dari sektor ini. Tembakau dan cengkeh menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat serta industri rokok di Indonesia. Ratusan triliun rupiah diraup dari sektor kretek tiap tahunnya. Industri kretek telah hidup bertahan lama dan menjadi identitas kemakmuran masyarakat. Indonesia tentu sangatlah berkepentingan untuk melindungi keberadaan sektor strategis tersebut.

Namun berdasar kenyataan yang selama ini menjadi sorotan, pemerintah kita sendiri belum sepenuhnya berpihak terhadap keberadaan perokok. Terbukti dengan tidak mengindahkan kebutuhan masyarakat atas ruang merokok sabagai bagian dari asas keberpihakan. Ruang yang menjadi solusi untuk menjawab rasa keadilan bagi semua lapisan masyarakat.

Hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, kita konsumen produk kretek tak akan berhenti melawan upaya-upaya ngawur yang didengungkan kepentingan rezim antitembakau. Bahwa rokok memiliki faktor risiko itu tentu, namun jika dikaitkan semata dengan persoalan kanker paru itu jelas ngawur. Karena penyakit itu sendiri juga menimpa orang yang tidak merokok. Artinya, konsumen rokok di Indonesia harus mampu membantah logika ngawur semacam itu. Kepentingan kita sebagai orang Indonesia jelas, membela kelangsungan sektor kretek, indentitas bangsa yang selama ini digempur oleh kepentingan farmasi yang ingin merebut pasar dalam negeri.

Baca Juga:  Selamat Musim Tanam Tembakau
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara