Merayakan Hari Kemenangan Dengan Senantiasa Memberi Teladan Kesantunan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hari kemenangan bagi umat islam telah tiba. Hari yang ditandai dengan kumandang takbir yang menggema dari berbagai pelantang masjid. Menjadi tanda berakhirnya pula aktivitas berpuasa di bulan Ramadhan. Ramadhan adalah bulan penempaan diri bagi umat islam sedunia, sekaligus pula menjadi bulan pembuktian bagi perokok yang kerap kali dicap sebagai konsumen yang kecanduan. Seperti yang kita sering rasakan atas tudingan-tudingan bahwa rokok itu bikin orang kecanduan. Namun tidak faktanya. Saat berpuasa para perokok mampu memuasakan diri dari aktivitas merokok.

Hari lebaran merupakan hari yang penuh kegembiraan bagi semua kalangan. Tua muda melebur dalam suasana yang penuh khidmat. Suasana silaturahmi yang demikian meriah berlangsung di banyak tempat. Di saat-saat seperti inilah sejatinya ‘people power’ dapat kita rasakan penuh keharmonisan. Bukan seperti makna ‘people power’ yang tempo hari dibajak oleh kepentingan politik kekuasaan.

Merayakan kemenangan di hari lebaran merupakan kesempatan emas bagi kita untuk berkumpul bertemu keluarga yang datang dari berbagai tempat. Di saat-saat seperti ini biasanya obrolan-obrolan klise berulang bunyi, dari yang terkesan privasi maupun yang bersifat umum. Kalau yang masih menjomblo biasanya akan disinggung soal kapan nikahnya, dan kita para perokok tak jarang juga kena singgung soal kebiasaan merokok kita. Namun terkadang itu hanyalah sebatas obrolan pelengkap suasana belaka.

Bagi perokok santun, di saat kumpul lebaran seperti ini tak pelak menjadi ruang pembuktian diri, bahwa kita yang perokok ini tidaklah seperti yang kerap digadang-gadang oleh para pembenci rokok. Dengan mengedepankan sikap penuh kesantunan kita dalam mengonsumsi rokok niscaya menjadi teladan bagi yang lain.

Misalnya, jika ada keluarga yang membawa anak, dan saat itu kita kebelet untuk merokok tentu kita tak lantas seenaknya merokok di dekat anak-anak. Perokok santun sangat paham betul bahwa merokok di dekat anak-anak bukanlah sikap yang menggugah simpati pihak lain. Kesadaran untuk mencari posisi atau tempat yang layak, yakni dengan sedikit menjauh dari anak-anak adalah cara yang cukup elegan. Bukan mustahil hal itu akan menjadi contoh bagi sesama perokok lainnya.

Hari kemenangan yang penuh kegembiraan ini dapat kita jadikan pula sebagai sarana untuk membangun interaksi yang harmonis antar golongan, yang mungkin selama ini terdampak oleh berbagai isu yang memecah. Seperti makna dasarnya, Idul Fitri merupakan hari bagi umat islam kembali ke fitrah. Fitrah di sini adalah hakikat kita sebagai manusia. Bersapaham dengan apa yang dikatakan Multatuli, bahwa secara hakikat tugas manusia dalah menjadi manusia. Bukan berlomba-lomba mengunggulkan hasrat-hasrat kebinatangan. Hasrat untuk memangsa satu sama lain.

Melalui hari yang fitri inilah rasa kebersamaan serta rasa saling menghormati antar sesama anak bangsa perlu terus dibina. Tak perlu lagi memperuncing perbedaan atas kepenganutan. Bahwa sesungguhnya tiada yang lebih unggul antar kita manusia yang sama mengidap cela dan dosa, sungguh pun di mata kemanusiaan kita semua sama. Untuk itulah, bertolak dari hari kemenangan ini kita berusaha untuk saling memberi teladan.

Mohon maaf lahir dan batin.

 

Baca Juga:  Benar Bu, Rokok Lebih Bahaya dari Narkoba
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara