Pertemua KPAI, PB Djarum, dan Kemenpora

Sebuah Catatan Atas Pertemuan KPAI dan PB Djarum di Kemenpora

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebenarnya pertemuan antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Persatuan Bulutangkis Djarum di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga kemarin tidak perlu terjadi. Bukan, bukan karena kami suka keributan. Namun, seandainya sejak awal KPAI bersikap moderat, kericuhan dan risakan massal oleh netizen tidak perlu dan tidak akan terjadi.

Menurut kami, ada beberapa salah paham yang terjadi oleh media dan masyarakat atas pertemuan itu. Agar tidak timbul polemik di kemudian hari, kami kira catatan atas pertemuan itu harus dibuat dengan tujuan memberi pemahaman yang lebih tepat terkait hasil pertemuan kemarin. Berikut adalah catatan kami atas pertemuan KPAI-PB Djarum-Kemenpora.

Pertama, semua hal yang menjadi ujung dari pertemuan itu sebenarnya sudah pernah dibahas dan ditawarkan PB Djarum. Bahwa PB Djarum telah mengusulkan pergantian nama audisi dan meniadakan kaus bertuliskan Djarum Badminton Club untuk peserta, itu semua sudah pernah diajukan. Hanya saja, sebelum ditimpa kemarahan masyarakat, KPAI menolak mentah-mentah usulan itu hingga akhirnya PB Djarum bilang tidak akan mengadakan audisi untuk tahun depan.

Baca Juga:  Fundamentalisme Anti Tembakau, Membungkam Kebebasan

Kemudian, yang juga penting dipahami, audisi bulutangkis untuk tahun ini (2019) memang akan dan terus berlanjut sekalipun tidak ada pertemuan di Kemenpora. Pada konferensi pers di Purwokerto, PB Djarum telah menyatakan itu. Mereka akan pamit dari penyelenggaraan audisi tahun depan, tapi untuk tahun ini tetap akan berjalan walau dihadang KPAI. Show must go on, audisi jalan terus dengan meniadakan kaos peserta dan mengganti nama audisi.

Di posisi itu, sebenarnya PB Djarum sudah paham kalau KPAI tidak punya kuasa untuk menghentikan audisi mereka. Hanya, agar polemik tidak berkepanjangan, PB Djarum memutuskan untuk mengganti nama audisi, tidak memakai kaos peserta, dan tidak mengadakan audisi untuk tahun depan.

Terakhir, dalam pertemuan di Kemenpora, disebutkan bahwa PB Djarum bakal melanjutkan audisi. Ya, betul, PB Djarum akan melanjutkan AUDISI UNTUK TAHUN INI. Di pertemuan itu, PB Djarum mengatakan kalau terkait persoalan audisi tahun depan mereka masih pikir-pikir dulu.

Sialnya, hampir semua media menyatakan kalau pertemuan tersebut berakhir membahagiakan. PB Djarum akan melanjutkan audisi dengan mengganti nama, KPAI cabut tuntutan, Menteri Pemuda Olahraga senyum-senyum di antara mereka. Padahal. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kemajuan dari pertemuan sebelumnya. Selama KPAI masih meminta pengurus dan pelatih PB Djarum untuk tidak menggunakan kaos klub mereka, selama itu pula audisi bulutangkis tahun-tahun ke depan bisa jadi tidak berjalan.

Baca Juga:  Menghakimi Para Perokok

Karena sejak awal yang menjadi persoalan buat PB Djarum adalah tidak dibolehkannya pengurus dan pelatih mereka menggunakan identitas klub. Kalau soal ganti nama audisi dan peserta tidak pakai kaos sih, memang PB Djarum telah inisiatif dari awal. Dan kalau setelah pertemuan di Kemenpora KPAI masih tidak membolehkan pelatih dan pengurus klub gunakan identitas, ya kemungkinan besar audisi bulutangkis tahun-tahun ke depan tidak akan berjalan.

Kami kira, catatan ini perlu dipahami agar orang-orang tidak lantas mengira kalau audisi bulutangkis bakal terus berjalan di tahun-tahun selanjutnya. Karena keputusan melanjutkan audisi bulutangkis yang dihasilkan dalam pertemuan di Kantor Kemenpora hanya berlaku untuk audisi tahun ini. Jangan sampai, harapan sudah melambung tinggi tiba-tiba jatuh karena KPAI, sekali lagi, melarang penggunaan identitas klub PB Djarum oleh pelatih dan pengurus klub.

Satu lagi deh, tambahan catatan, sedikit saja. Kami kira, keputusan KPAI mencabut surat terkait tuntutan mereka menghentikan audisi PB Djarum itu patut diabadikan dalam kenangan. Boleh jadi, inilah kali pertama lembaga negara sebesar KPAI mencabut surat resmi mereka karena blunder dan kemarahan masyarakat. Mungkin mereka lelah dirisak oleh netizen, ingin semua cepat selesai, tapi ya tetap saja blunder adalah blunder. Kalau dari awal mereka tidak bersikap menjengkelkan, polemik ini tidak akan menjadi besar dan membuat mereka dibenci masyarakat Indonesia.

Baca Juga:  Menaikkan Cukai Rokok Lebih dari 5% Sama Dengan Pemerintah Membunuh IHT Perlahan-Lahan
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara