simplifikasi cukai

Simplifikasi Cukai Harus Berorientasi Pada Kepentingan Rakyat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dari banyaknya berita tentang simplifikasi cukai, ada begitu banyak komentar yang diberikan oleh pengamat ekonomi. Tidak hanya pengamat ekonomi, juga pengamat kebijakan dan tokoh-tokoh lainnya. Namun, dari sekian banyak komentar itu, tak ada satu pun yang membincang tentang keberpihakan mereka pada nasib petani dan stakeholder ketika simplifikasi cukai diterapkan.

Dulu, ketika pertama kali belajar tentang media dan pers, ada satu hal fundamental mengenai jurnalisme yang saya patenkan di kepala dan hati saya. Satu elemen dari sembilan elemen jurnalisme yang ditelurkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, yakni keberpihakan pada rakyat. Bahwa media dan jurnalisme tidak boleh netral, harus berpihak, dan keberpihakan itu diberikan kepada rakyat.

Hal ini kemudian tetap terpatri dan menjadi jalan hidup yang saya terapkan. Ketika ada satu pembahasan yang menyangkut kepentingan banyak pihak, tentu kepentingan rakyat lah yang harus didahulukan. Dan pada konteks simplifikasi cukai ini, keberpihakan pada petani dan stakeholder lainnya harus didahulukan.

Baca Juga:  Rokok Membahagiakan, Budaya Konsumerisme yang Memiskinkan

Dari sekian diskursus tentang perkara ini, kebanyakan membahas soal potensi pendapatan negara. Mulai dari celah struktur hingga kerugian negara. Sayangnya, tidak satu pun dari mereka kemudian yang membahas kerugian yang dialami petani serta pihak lain jika simplifikasi cukai diterapkan. Padahal, ketimbang kerugian negara, kerugian yang dialami petani dan stakeholder jauh lebih besar.

Memang betul, jika struktur tarif cukai disederhanakan, negara akan mendapatkan potensi pemasukan yang lebih besar. Hal ini berbeda dengan masih ada golongan tarif cukai yang saat ini berlaku. Dimana tarif untuk setiap golongan berbeda, maka pendapatan negara dari setiap golongan pun tak sama.

Tapi perlu diingat, tidak semua pabrik rokok memiliki kuota produksi dan kekuatan kapital yang sama besar. Ada begitu banyak pabrikan kecil yang tak mungkin membayar tarif cukai yang sama besar dengan pabrikan raksasa. Apalagi pita cukai itu dibayar di muka, jadi pabrikan harus bayar dulu baru produksi, kalau tidak laku ya bukan urusan negara.

Karena itulah, cara berpikir dan pandang yang bertentangan dengan kepentingan rakyat ini harus ditentang. Biar bagaimana pun, satu-satunya pihak yang harusnya memang kita bela adalah rakyat. Dan pada konteks simplifikasi sini, mereka yang harus kita bela adalah petani dan stakeholder.

Bayangkan, jika kebijakan ini benar dijalankan, maka petani bakal merugi karena jumlah pembelian hasil panen mereka akan terus merosot. Semua terjadi seiring pabrikan yang mengurangi jumlah produksi, tentu juga akan mengurangi jumlah pembelian bahan baku. Pada konteks ini, petani tembakau dan cengkeh bakal merugi.

Baca Juga:  4 Cara Perokok dalam Menawarkan Rokok dan Itikad Baik di Baliknya

Tidak hanya itu, pabrikan kecil yang menghidupi banyak orang juga bakal bangkrut. Mana sanggup mereka membayar tarif cukai yang sama dengan pabrik besar. Pilihan kemudian tentu adalah menutup pabrik dan memecat karyawan. Ujung-ujungnya, buruh pabrik yang menderita, bukan negara.

Maka, jika terus berpikir tentang kerugian negara tapi abai dengan kerugian rakyat, sesungguhnya orang tersebut tidak pantas disebut pengamat, ahli, tokoh, atau apa pun yang diidentikkan kepada mereka. Mereka lebih pantas disebut penjilat pantat penguasa, atau setidaknya penghamba pada kekuasaan.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara