Tembakau Gorila Dan Kontroversi Seputarnya

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Begitu banyak perkara yang cukup menjadi sorotan masyarakat awam belakangan. Salah satunya tembakau Gorila. Ini sebetulnya bukan varietas tembakau untuk dikonsumsi sebagaimana tembakau tingwe. Jika tembakau untuk tingwe yang dijual secara terbuka, itu merupakan tembakau rakyat yang masif dikenal dari berbagai daerah penghasil.

Misalnya tembakau Kasturi, Tambeng, Siluk, Tembakau Soppeng, dan beberapa penyebutan jenis berdasar daerahnya. Secara bahasa pertaniannya terbagi dua, yakni tembakau VO (Voor Oogst) dan NO (Naoogst). Dibedakan menjadi 2 ini berdasar penggunaan dan waktu tanamnya, tembakau musim kemarau atau VO dan tembakau musim hujan itu NO.

Dua golongan tembakau inilah yang nantinya sebagian dibeli pabrikan, sebagian kecil lainnya untuk kebutuhan pestisida alami. Adapun tembakau yang tak terserap pabrikan dijual pula secara bebas di pasar-pasar tradisional atau toko-toko tembakau. Sebagaimana fenomena yang saat ini tengah marak di Jogjakarta dan beberapa kota lainnya.

Nah, kalau soal tembakau Gorila ini diketahui melalui media dan desas-desus di masyarakat dapat memberi efek mabuk bagi penggunanya. Selidik punya selidik, tembakau ini menjadi semacam exit point bagi mereka yang kehabisan cara untuk mendapatkan sensasi dari ganja.

Baca Juga:  Bagaimana Industri Kretek Menyelamatkan Bangsa

Peredaran ganja, sebagai salah satu golongan psikotropika yang terlarang penjualannya termasuk mengonsumsinya, terbilang sulit didapat lantaran berisiko tinggi yang berujung pada perkara pidana. Kemudian, di tengah sulitnya mendapatkan tanaman terlarang itu, muncul produk subtitusi yang disebut tembakau Gorila itu.

Berdasar keterangan beberapa orang yang pernah mengonsumsinya, secara kasat layaknya tembakau tingwe biasa, namun sejatinya sudah diberi tambahan unsur kimiawi tertentu yang dapat memberi sensasi memabukkan. Penulis belum begitu pasti kandungan kimiawi apa yang diracikkan ke tembakau semacam itu.

Namun, ada pihak yang menyebut itu disemproti unsur THC (Tetrahydrocannabinol), adapula yang diberi unsur kimia pembasmi serangga. Penggunaan THC dalam bentuk cair juga terjadi pada beberapa kasus penggunaan vape di AS.

Sebagian kecil, tembakau gorila menjadi pelarian bagi beberapa mereka yang memiliki gangguan psikologis. Berdasar pengungkapan media, barang memabukkan ini banyak tersebar di beberapa daerah dan menyasar anak-anak.

Tidak sedikit masyarakat awam yang terkaburkan dalam memahami barang ini. Tak jarang pula jadi mencurigai produk tembakau yang biasa dikonsumsi oleh para penikmat tingwe. Secara prinsip, Komunitas Kretek yang selama ini concern pada isu konsumen serta produk berbasis tembakau terutama kretek, tidak mendukung advokasi terhadap barang terlarang itu.

Baca Juga:  Ramai-ramai Menolak Kenaikan Cukai 2021

Secara hukum, sudah jelas itu produk ilegal. Dijual tanpa cukai. Salah satu fungsi pita cukai adalah sebagai penjamin bahwa produk tersebut diakui peredarannya dan relatif aman. Namun, untuk barang terlarang yang menggunakan tembakau sebagai bahan dasarnya kemudian diberi unsur tambahan yang membahayakan keselamatan, tentu saja Komunitas Kretek tidak dalam posisi mengadvokasi para pengguna barang ilegal.

Sebagian besar masyarakat, mengetahui peredaran barang ilegal berupa tembakau yang diracik dengan kimia berbahaya ini tentu menjadi persoalan yang meresahkan. Bukan apa-apa, efek buruknya yang diketahui dapat memabukkan. Sehingga tak heran jika, banyak masyarakat yang mencurigai pula para penikmat tingwe yang tembakaunya berstatus legal.

Barang ilegal, baik itu dengan istilah Gorila atau apapun namanya, terbukti membawa dampak buruk. Tentu ini yang perlu turut kita lawan, sebagaimana perlawanan terhadap antirokok yang cacat logika dalam memaknai produk legal berupa rokok.

Jangan sampai peredaran barang ilegal yang meresahkan ini menguat sehingga menjadi pembenaran untuk mendiskreditkan produk tembakau legal. Sebagai konsumen, tentu kita sepakat, bahwa apapun itu jika membahayakan bagi masyarakat jelas kita tolak. Tanpa perlu dibela dengan dalih apapun.

Sumber gambar: pinterpolitik.com
Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara