dana bloomberg

Dana Bloomberg Memang Menarik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dana Bloomberg terbukti ampuh menjadikan pemimpin daerah semacam Anies Baswedan memperlihatkan watak politiknya. Terbukti dengan dikeluarkannya Seruan Gubernur DKI No.8/2021 yang kemudian ditindaklanjuti dengan aksi menutup display rokok di Jakarta.

Upaya gubernur Jakarta ini menjadi gebrakan yang cukup membuat banyak pihak bereaksi. Perkaranya, Sergub tersebut telah menimbulkan dampak ekonomi di masyarakat yang hidup dari sektor rokok.

Sementara dari sisi konstitusi, aksi gebrakan Anies melalui Sergub-nya bertentangan dengan amanat hukum di atasnya. Yakni UU Kesehatan No.36/2009 dan PP 109/2012 yang mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok.

Kemudian publik dibuat melek dengan diketahui adanya surat Anies Baswedan kepada Michael Bloomberg. Di dalam surat tersebut, Anies menyatakan komitmen untuk berkolaborasi, menjadikan Jakarta 100% bebas asap rokok.

Namun, cara yang ditempuh Anies ini sungguh telah mengangkangi semangat demokrasi ekonomi. Terlebih di masa pandemi yang membuat lesu banyak sektor usaha. Gubernur DKI Jakarta ini malah menggunakan  kewenangannya untuk memerangi sektor yang menghidupi banyak orang.

Baca Juga:  Ramai-ramai Menolak Kenaikan Cukai 2021

Sejak viralnya surat Anies tersebut, ada beberapa pihak yang menyanggah bahwa yang dilakukan Anies melalui suratnya adalah itikad berkolaborasi. Bukan jurus minta jatah.

Padahal sudah jelas, implikasi dari surat Anies kepada Michael Bloomberg bukan sekadar untuk menyatakan niat kolaborasi, namun juga target dan tujuan kolaborasinya. Publik sudah banyak yang paham, bahwa di balik agenda memerangi rokok ini terdapat kepentingan politis. Apalagi ini ada kaitannya dengan orang terkaya  di dunia yang juga punya posisi penting di WHO.

Lebih lanjut dinyatakan oleh peneliti Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Gurnadi Ridwan. Bahwa dalam konteks menerima dana hibah asing ini harus memenuhi ketentuan yang berlaku. Baginya, jika itu tidak memenuhi ketentuan, berarti dana yang diterima ilegal.

Artinya, dalam hal ini gubernur Jakarta berpotensi tersangkut perkara hukum di persoalan menerima dana hibah asing. Ini yang ditunggu kejelasannya dari Pemprov DKI. Terkait geger surat Anies tersebut, kalangan antirokok maupun buzzer Anies membantah berbagai cuitan maupun opini masyarakat tentang adanya gelontoran dana besar di balik agenda Anies memerangi rokok.

Baca Juga:  Beda Perlakuan Pada Dua Jenis Rokok

Sementara, Vital Strategies, entitas bisnis dari The International Union Against Tubercolusis and Lung Disease (The Union), salah satu penerima dana terbesar Bloomberg Philanthropies untuk gerakan antitembakau, mengaku memberikan dana ke sejumlah pemerintah daerah di Indonesia, termasuk DKI Jakarta.

Sokongan dana tersebut disebut sebagai kontribusi Vital Strategies untuk mendorong terbentuknya regulasi larangan promosi rokok. Hal tersebut terungkap dari dokumen pajak (Form 990) Vital Strategies kepada Internal Revenue Service (IRS) yang merupakan otoritas pajak di Amerika Serikat.

Total dana yang dikucurkan untuk program ini senilai US$ 18,60 juta, di mana US$ 13,19 juta diberikan dalam bentuk hibah di sepuluh negara, termasuk Indonesia untuk mempengaruhi kebijakan terkait larangan promosi dan iklan rokok.

Jadi, dalih Anies menutup display rokok sebagai upaya mencegah ketertarikan anak terhadap rokok. Tak lebih hanyalah upaya melayani kepentingan politik antitembakau melalui skema filantropi. Padahal, jika kita berkaca pada negara lain dalam mengatur perkara rokok dan anak, iya didasarkan pada mekanisme pengawasan. Konkretnya melalui cara memeriksa kartu identitas calon konsumennya.

Baca Juga:  Simplifikasi Cukai Harus Berorientasi Pada Kepentingan Rakyat

Jika konsumen ternyata masih di bawah umur, jelas tidak dilayani. Jika ada ritel yang bandel maka akan menerima sanksi yang berlaku. Lalu, kenapa Anies memainkan jurus antagonis dengan menekankan pada 3 poin di dalam Sergub-nya. Ini tentu watak permusuhan yang disukai Bloomberg terhadap rokok, kalau Bloomberg sudah suka, urusan ongkos maju menjadi presiden di 2024 iya entenglah. Gitu kan ya, Pak Gubernur?

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara