Perokok Bebal Memang Ada, Tapi…

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ini adalah nota pembelaan dari perokok santun, yang sadar bahwa tidak semua orang suka dengan asap rokok, bahwa beberapa perokok memang menyebalkan, bahwa perokok bebal memang ada. Kami menyadari itu semua.

Pembelaan ini disusun dengan sangat terukur. Tidak ada yang berlebihan. Tidak pula munafik dalam memandang realita perokok di tengah masyarakat.

Pertama dan paling utama, kami menghargai kehendak bebas tiap orang. Kami menghargai hak, termasuk di dalamnya perbedaan sikap, pilihan, dan keberpihakan. Kami menghargai non perokok, atau orang-orang yang tidak merokok.

Bahwa dalam perjalanannya perokok kerap distigma negatif, kami pun menyadari itu. Sangat sadar. Sebagai perokok, kami akui kerap lalai dalam menjunjung hak atas kenyamanan orang di sekitar. Tapi, percayalah, sebagai perokok santun, kami pun jengkel dengan tabiat perokok bebal, perokok yang tak sadar akan ruang dan waktu.

Stigma negatif yang paling sering melekat pada perokok adalah orang-orang bebal. Orang-orang yang tidak akan pernah bisa menerima masukan. Denial. Selalu marah apabila ditegur. Stigma itu ada.

Bersamaan dengan ini, kami perokok santun berharap pada kebijaksanaan dan kerendahan hati teman-teman perokok lainnya, di mana pun kalian berada. Tolong ubah perilaku menyebalkanmu. Tolong jangan rusak citra konsumen produk legal. Jangan sampai rokok dan perokok terus-terusan jadi samsak publik, lagi pesakitan.

Baca Juga:  Beberapa Penelitian Terbaru Terkait Bahaya Vape

Pun demikian pada teman-teman non perokok. Tidakkah kalian tahu bahwa perokok yang sadar diri itu ada? Tidakkah kalian tahu bahwa ada banyak perokok yang jengkel pada perokok bebal? Dengan mantap kami tegaskan: kami ada. Kami berusaha membangun dan merawat etiket kesantunan di kalangan perokok. Bahwa faktanya hari ini masih belum sepenuhnya berhasil, ya itulah proses. Kampanye perokok santun masih dan akan terus berkumandang.

Stigma berikutnya tentang perokok adalah orang-orang yang identik dengan kenakalan, kejahatan, dan berbagai ketidak-elokan lainnya. Ini sungguh disayangkan. Segelintir atau sebagian perokok bebal telah dijadikan standar penilaian bagi seluruh konsumen rokok.

Ada pelajar yang merokok, maka perokok identik dengan kenakalan. Ada pemerkosa yang merokok, maka perokok identik dengan kejahatan. Ada pengendara motor yang merokok, maka perokok identik dengan kebebalan. Padahal, kan, banyak juga pemuka agama merokok. Tak sedikit pula bapak bangsa yang merokok. Bahkan ada dokter yang merokok.

Kalau orang yang bekerja di lembaga antirokok, ada yang merangkap sebagai perokok tidak? Tolong bantu jawab, kami kurang tahu. Kami hanya tau antirokok yang merangkap sebagai koruptor.

Baca Juga:  Isu HAM Mengancam Industri Kretek Kecil

Lanjut. Menegur mereka yang ngudud sak karepe dewe adalah hal benar dan sangat diperlukan. Kami juga sering melakukannya. Tapi, generalisir pada semua perokok adalah lain hal. Keliru. Kami tak sepakat jika dipukul rata.

Kami bahkan membedakan non perokok dengan antirokok. Kenapa? Karena ada pula orang-orang yang tidak merokok, tapi tidak membenci perokok. Bisa akrab dan bergaul dengan perokok, juga tidak menerima dana Bloomberg menstigma negatif perokok. Merekalah non perokok.

Di belahan dunia lain, ada antirokok, perbedaan paling mencolok adalah unsur kebencian. Antirokok membenci kami. Perasaan “benci” jadi mesin penggeraknya. Mau yang bebal, mau yang santun, asal konsumen rokok, ya dibenci.

Kepada teman-teman antirokok, kalian boleh membenci kami. Silakan. Kami pun manusia, bisa membenci. Kami membenci kelompok yang senang menebar kebencian.

Oh, iya, kami juga menghargai kalian. Kami bahkan salut dengan semangat kalian dalam memperjuangkan pengendalian konsumsi tembakau di Indonesia. Tapi, kenapa hanya dikendalikan? Kenapa tak memperjuangkan penutupan pabrik rokok, agar tak ada lagi yang perlu kalian benci, agar kalian bisa segera memulai hidup yang penuh cinta? Apa mungkin sebenarnya kalian terjebak pada love-hate relationship dengan kami?

Baca Juga:  Fundamentalisme Anti Tembakau, Membungkam Kebebasan

Terakhir, kepada seluruh pedagang rokok. Ayolah, peraturannya sudah jelas, rokok hanya untuk usia 18 tahun ke atas. Jadi, jangan jual dan berikan rokok dagangan kalian pada anak-anak, apapun alasannya. Anak-anak bukan target pasar kalian. Kalian boleh jual apapun kepada anak-anak, asal jangan rokok.

Jangan hanya karena keinginan meraup seribu dua ribu keuntungan, para antirokok harus kesulitan mengadakan webinar, sosialisasi, diskusi publik, dan forum-forum lainnya. Kasihan mereka, biayanya besar. Mereka lelah, jangan tambah bebannya.

Terlepas dari semua itu, pembelaan ini hanyalah sebuah respon atas fenomena yang ramai belakangan. Media sosial dibanjiri kritik bahkan tak jarang caci maki pada perokok. Kami terbuka pada kritik dan masukan. Tapi, arus kebencian yang dialamatkan secara membabibuta pada seluruh perokok (tanpa kecuali) harus kami redam.

Sebagai insan positif yang tidak bebal, kiranya teman-teman antirokok bisa menerima pembelaan kami ini dengan kepala dingin dan penuh cinta. Semoga ke depannya tak ada lagi istilah “ngomong sama perokok tuh kayak ngomong sama batu”.

Salam sehat.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara