Cukai rokok 2021

Tarif Cukai Naik, Siapa Bersuka Siapa Berduka?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Petani, buruh, pengusaha, penyalur, pedagang, hingga konsumen telah menyatakan sikap. Segenap elemen pertembakauan dari hulu ke hilir menolak wacana kenaikan tarif cukai rokok. Tetapi, akan selalu ada yang bersuara sebaliknya. Akan selalu ada kelompok yang tersenyum di balik perih para stakeholder pertembakauan.

Cukai rokok harus dinaikkan setinggi-tingginya. Dengan demikian para perokok akan berfikir ulang untuk membeli rokok, hingga akhirnya berhenti dari kebiasaan merokok, masyarakat akan sehat. Dan pada akhirnya negara akan untung karena anggaran pelayanan kesehatan akan berkurang.

Kira-kira begitu narasi yang terus dipropagandakan oleh antirokok.

Bimsalambim. Melalui Menteri Keuangan, tarif cukai rokok akan segera naik per tahun 2022. Kabar ini sudah santer tersiar sejak beberapa bulan terakhir. Belakangan berembus semakin kencang, nampak hampir pasti terealisasi. Akhir bulan ini kita akan mengetahui angka pasti kenaikannya.

Ada banyak lembaga antirokok yang sejak lama kerap menggaungkan kenaikan cukai rokok secara konsisten. Alasan mereka seragam; eksistensi rokok membahayakan eksistensi manusia. Narasi yang tentu berlebihan mengingat rokok dari tembakau sudah turun temurun ada di negeri ini. Dan fakta bahwa rokok adalah donatur APBN juga tak bisa dikesampingkan begitu saja.

Baca Juga:  Semangat Hari Pendidikan Nasional, Semangat Memberi Teladan Kesantunan Bagi Perokok

Narasi yang paling umum dikampanyekan antirokok untuk mengemas kebijakan cukai jadi sesuatu yang terkesan positif adalah dengan menyebut kenaikan cukai rokok berefek domino yang akan mengurangi beban negara membiayai orang sakit. Pola pikir semacam ini yang tidak bisa diterima, seolah rokok adalah sumber dari segala penyakit yang ada di negara ini.

Dengan logika semacam itu, kreatifitas pemangku kebijakan akan terbatas karena hanya akan terfokus mencari cara mengurangi jumlah perokok, sambil—tanpa disadari—membunuh penghidupan petani tembakau, cengkeh, dll, tanpa mau mencari cara untuk menjaga stabilitas perekonomian.

Cukai rokok, pada titik tertentu, wajar saja naik. Penentuan tarif dan berbagai kebijakan fiskal memang harus mengikuti eskalasi perekonomian seperti inflasi dan lain-lain. Tapi, angka yang dipatok harus tetap rasional.

Kenaikan cukai memang terus terjadi setidaknya dalam satu dekade terakhir, kecuali di tahun politik tahun 2019. Kita akan lihat pada tutup buku akhir tahun ini, berapa besar pemasukan negara dari sektor cukai rokok dalam kondisi pandemi, krisis ekonomi dan tarif cukai yang tetap dipaksa naik.

Baca Juga:  22,3 Juta Anak Indonesia Merokok, Percaya?

Yang menjadi persoalan adalah, alasan seputar wacana kenaikan cukai lebih didominasi dengan argumentasi kesehatan. Sedangkan, program JKN juga menyerap dana dari cukai rokok. Cukai rokok sekaligus jadi donatur besar bagi BPJS Kesehatan. Bisa dikatakan, lubang-lubang defisit anggaran BPJS akan tetap menganga tanpa kontribusi duit rokok. Selain itu, efek langsung rokok pada kesehatan juga masih menemui perdebatan panjang. Bahkan, menaikan cukai tak serta merta menurunkan prevalensi perokok. Jadi, argumentasi soal efek domino pun gugur.

Tak sampai di situ, kalau sudah terpenuhi, antirokok akan mengejar hal lain. Mereka akan menuntut pemerintah menaikkan Harga Jual Eceran (HJE), lalu mencoret perokok dari daftar penerima bantuan sosial, kemudian peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok juga harus diperbesar, dan sebagainya. Argumentasinya apa? Demi menekan prevalensi perokok. Ah, ini lagi.

Sejarah soal bungkus rokok sendiri selalu dibumbui kontroversi. Berkali-kali lahir regulasi bungkus rokok baru, cacat logika tetap ada. Gambar-gambar luka yang menjijikan pada bungkus rokok terbukti tak mengurangi jumlah perokok. Kok masih saja diulang-ulang?

Baca Juga:  Selamat Hari Kretek Nasional

Ada banyak propaganda anti rokok yang berhasil dikonversi jadi regulasi. Tapi, mereka sadar, perokok tetap istiqamah dan selalu punya cara memperjuangkan haknya. Karakter perokok yang kuat inilah yang membuat antirokok semakin membabi buta melakukan segala cara. Tidaklah heran kalau mereka (akhirnya) menggunakan dalil agama dalam kampanyenya. Namanya juga sudah anti, apa pun akan dilakukan.

Sedih sekali, pada akhirnya regulasi kita justru menjadi senyum sukacita bagi segelintir antirokok, sebaliknya menjadi duka bagi para petani, buruh, dan jutaan orang di sektor padat karya.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara