pengendalian tembakau
Editorial

Bloomberg dan Manuver Pengendalian Tembakau di Indonesia

Beberapa waktu lalu telah digelar sebuah webinar terkait agenda pengendalian tembakau di Indonesia. Acara tersebut terselenggara atas inisiatif Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia (Adinkes) bekerja sama dengan Bloomberg Philanthropies dan The Union.

Webinar tersebut mengusung tajuk “Indonesia Tobacco Control Strategic Roundtable 2022: Menerjemahkan Komitmen Pemerintah ke dalam Aksi”. Dihadiri oleh pejabat publik dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, juga sejumlah lembaga anti tembakau baik lokal maupun internasional. Dari komposisinya jelas forum ini merupakan bagian dari kampanye kelompok mereka.

Intinya, lembaga asing tersebut meminta pemerintah Indonesia untuk memperketat regulasi soal tembakau di Indonesia. Lembaga asing meminta kepada pemerintah Indonesia. Padahal, kurang ketat apa regulasi pertembakauan di Indonesia? Belum lagi bicara regulasi cukai dan harga jual rokok yang tiap tahun selalu naik secara gradual.

Agenda pengendalian tembakau, seperti yang sudah banyak dibahas, memang agenda asing. Maksudnya, pihak yang paling berkepentingan pada gerakan ini ya “dermawan” dari luar negeri. Disebut dermawan karena memang sering memberi derma pada kelompok yang mau menyukseskan agenda mereka di berbagai negara. Catat, mereka hanya ingin mengendalikan. Sekali lagi, mengendalikan.

Mengapa disebut agenda asing? Ya, setiap agenda pengendalian tembakau di Indonesia itu hanyalah adopsi atau terjemahan dari agenda global, di mana Bloomberg jadi salah satu dermawan terbesarnya. Jadi, Indonesia merupakan negara yang ditargetkan oleh para bos besar di isu ini. Kenapa? Iya, karena Indonesia jadi salah satu negara dengan sumber daya tembakau yang besar, selain juga histori serta ketahanan industri hasil tembakau dalam negeri. Dan mereka ingin mengendalikan tembakau. Buku Nicotine War karya Wanda Hamilton telah memblejeti skema di belakang agenda global ini.

Baca Juga:  Mengapa Revisi PP 109/2012 Dikebut Kementerian Kesehatan?

Agenda webinar Adinkes dengan Bloomberg bukanlah keterlibatan pertama Bloomberg di Indonesia. Mantan walikota New York ini sudah sejak lama menyalurkan dana segar ke berbagai lembaga antirokok di Indonesia. Salah satu lembaga yang pernah merasakan manisnya gelontoran dolar dari Michael Bloomberg adalah Dinas kesehatan Provinsi Bali yang mendapatkan US$ 159.621 dari Bloomberg pada Maret 2012. Tugas mereka adalah mengawal implementasi Perda kawasan Bebas Rokok yang sudah disetujui DPRD.

Selain itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan juga ikut kebagian uangnya Bloomberg, tepatnya pada September 2008 menerima US$ 315.825. Tujuannya adalah untuk melatih tim khusus kontrol tembakau di sedikitnya 7 provinsi. Pada November 2011, Ditjen itu kembali menerima US$ 300.000 dengan tujuan memperkuat kontrol tembakau melalui peraturan.

Lembaga lainnya adalah Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menerima US$ 455.911 pada Mei 2008 untuk mengeluarkan larangan iklan, promosi, dan kegiatan sponsorship oleh industri terkait tembakau. Pada bulan yang sama, sebesar US$ 142.543 kembali dikeluarkan. Pada Maret 2011, US$ 200.000 dicairkan Bloomberg ke KPAI untuk lebih mendorong agenda pelarangan iklan-iklan rokok.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga tercatat menerima aliran dana Bloomberg sebesar US$ 454.480 pada Mei 2008 untuk mendorong Perda Bebas Asap Rokok di empat daerah di Pulau Jawa. Setelah itu, dana US$ 127.800 dikucurkan lagi pada Januari 2011.

Baca Juga:  Kenaikan Cukai Rokok di Masa Krisis Hanya Rugikan Negara dan Masyarakat

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (National Commission on Tobacco Control-NCTC) bekerja untuk Bloomberg demi melawan industri tembakau yang mensponsori industri musik dan film di Indonesia. Atas jasanya, mereka menerima US$ 81.250 pada Desember 2009. Pada Februari 2011, sebesar US$ 112.700 dikeluarkan Bloomberg bagi lembaga ini.

Itu adalah beberapa contoh, masih ada banyak lembaga lain di Indonesia yang menerima dolar Bloomberg (selengkapnya baca di sini), itu juga yang menjadi salah satu alasan isu antirokok lestari di Indonesia—ada yang merawatnya. Dengan dana yang sangat besar (atau mungkin tidak terbatas), Bloomberg bisa dengan mudah merangkul banyak pihak untuk menghajar habis industri hasil tembakau di Indonesia.

Sekitar bulan Oktober tahun lalu, sempat ramai diperbincangkan menyoal Seruan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang diikuti dengan beredarnya surat dari Anies untuk Bloomberg di mana di dalam surat itu Gubernur DKI menyatakan komitmen menjadikan Jakarta 100% bebas asap rokok. Lagi-lagi nama Bloomberg yang muncul dalam isu pertembakauan Indonesia. Karena kali ini melibatkan sosok populer (Anies Baswedan), maka publik geger. Pro kontra bermunculan.

Hal itu semata-mata hanya untuk menunjukkan bahwa memang Michael Bloomberg punya kepentingan besar dalam isu pengendalian temabakau di Indonesia. Siapa Michael Bloomberg? Ya orang asing. Output dari segala suntikan dana tersebut ya program-program seperti seminar, kampanye, hingga dorongan pembentukan regulasi di Indonesia. Bayangkan, ada regulasi di Indonesia yang lahir atas suntikan dana orang asing.

Iya, bayangkan saja.

Penulis di Komunitas Kretek