orangtua merokok
Editorial

Orangtua Merokok, Stunting, dan Kesejahteraan Keluarga

Di Indonesia, menjadi orangtua yang merokok harus siap dengan segala stigma negatif. Mulai dari isu stunting pada anak, hingga isu kesejahteraan keluarga, akan senantiasa menghantui para orangtua yang merokok. Ada kelompok orang yang melabel sumber dari segala sumber penyakit di dunia ini adalah rokok. Kelompok itu bernama anti-rokok.

Dari namanya kita sudah paham, mereka kelompok yang anti terhadap rokok. Pada umumnya, siapapun, kalau sudah anti, ya akan benci. Maksudnya, semua yang terlihat oleh matanya, yang terdengar oleh telinganya, akan senantiasa bernuansa negatif. Demikianlah mata dan telinga antirokok membenci rokok. Hal serupa bisa juga terjadi pada kelompok anti-antian yang lainnya.

Kita pasti sering mendengar, atau setidaknya membaca di internet, rokok kerap dicari kaitannya dengan tokoh atau publik figur yang meninggal dunia. “Si A Meninggal Karena Sakit Jantung, Kenali Penyebabnya”. Lalu apa isinya? Ya kampanye hitam pada rokok. Padahal, penyebab penyakit jantung ya beragam. Pun demikian dengan penyakit lainnya. Tapi, kembali lagi, di Indonesia ini isu antirokok laris dan tumbuh subur, maka harus rokok yang bersalah. Di Indonesia bahkan ada yang menyebut rokok itu kencing iblis, “babi aja kagak mau,” katanya. Parahnya, pandangan itu diklaim sebagai hadits yang belakangan diketahui sebagai hadits palsu.

Kembali ke soal orangtua merokok. Kini semakin banyak klaim bahwa anak balita dari seorang perokok bakalan mengidap stunting atau tumbuh kerdil. Dari beragam faktor penyebab stunting yang signifikan, rokok adalah bulan-bulanan yang paling empuk. Kenapa? Karena rokok adalah benda mati. Tidak bisa melawan. Kira-kira begitu.

Sebagai contoh, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu daerah dengan kasus stunting tertinggi di Indonesia. Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Suardi mengatakan bahwa bapak-bapak perokok lebih mementingkan beli rokok dibanding makanan bergizi.

“Terkait dengan stunting, paling tinggi akibat pola asuh karena pernikahan dini tinggi. Selain pola asuh, jika dikaitkan dengan belanja rokok, itu bisa. Apalagi mereka dengan rumah tangga yang suaminya merokok. Mereka akan mementingkan beli rokok dibandingkan membeli makanan bergizi,” ujar Suardi dikutip dari laman Liputan6.

Bisa kita lihat, betapa empuknya rokok sebagai bulan-bulanan. Apa yang disampaikan oleh Suardi merupakan simplifikasi dari sebuah masalah. Kesan yang muncul itu bukan salah pemerintah, dua hal yang di-highlights adalah kesalahan orangtuanya yang tak mampu mengasuh dan malah merokok. Seorang suami yang merokok dianggap sudah pasti mementingkan rokok dibanding makanan bergizi. Suami macam mana yang pilih rokok dibanding gizi anaknya?

Baca Juga:  Mengenal Pupuk Alami dari Petani Cengkeh di Munduk

Antirokok boleh saja memandang perokok dengan hina dan busuk, tapi, sehina dan sebusuk-busuknya mereka tak akan mengorbankan kesehatan anaknya demi rokok. Maksudnya, kalau punya kesempatan dan sumber daya yang mumpuni untuk membeli penunjang gizi anak, pasti akan dilakukannya. Poin utamanya bukan pada rokok, tapi pada akses kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat miskin sangat jauh dari akses kesejahteraan. Bisa membeli makan saja sudah syukur, boro-boro sempat mengkaji kandungan gizi di dalamnya. Lantas siapa yang bertanggung jawab pada angka kemiskinan dan tingkat kesejahteraan masyarakat? Jawabannya ya negara. Termasuk di dalamnya Dinas Kesehatan setiap daerah sebagai representasi negara di tengah masyarakat. Lompat pada kesimpulan bahwa rokok penyebab stunting adalah upaya lepas tangan negara pada kesehatan publik.

Orangtua dan perilaku merokoknya

Kita sama-sama tahu, memang masih ada orang yang terkategori tidak mampu secara ekonomi namun masih bisa merokok. Persoalannya, mereka merokok pun bukan dengan mengorbankan lambungnya, bagaimanapun mereka tidak memilih rokok dibanding nasi. Terkait mereka yang merokok pun kemungkinannya ada banyak; bisa saja mengisap rokok teman atau kerabatnya, mungkin juga hasil pemberian orang, atau bisa jadi hasil ngamen dari lapak ke lapak–ada banyak orang yang memberi rokok ke pengamen, alih-alih uang.

Kendati begitu, teguran pada perokok tentu tak bisa juga dinihilkan. Komunitas Kretek kerap menyuarakan kampanye perokok santun, yakni ajakan pada para perokok agar bertindak dan berlaku secara bijaksana di tengah ruang publik, termasuk di tengah keluarga. Bahasa sederhananya harus punya adat. Jangan merokok saat berkendara, di dekat anak kecil dan di dekat ibu hamil.

Mengapa kita tidak boleh merokok di dekat ibu hamil? Ya karena ibu-ibu hamil tergolong manusia yang harus diberikan perhatian khusus. Saat sedang duduk diam pun, ibu hamil bisa mendadak mual dan ingin muntah, apalagi jika terpapar aroma yang kuat seperti asap rokok. Ya itu alasan kenapa perokok harus jauh-jauh dari ibu hamil. Kelak, setelah sang bayi lahir, kita (perokok) tetap harus jaga jarak dengan ibu dan anak. Maksudnya, tidak merokok di depan si ibu. Jangan merokok di depan anak. Kita tentu sepakat bahwa produk olahan tembakau bernama rokok (beserta asap yang dihasilkan) memang bukan diperuntukkan bagi anak-anak, apalagi balita. Dengan berpegang pada kesepakatan itu saja sudah cukup bagi kita untuk tidak merokok di sekitar mereka.

Baca Juga:  Cukai Rokok 2023 dan 2024 Naik 10 Persen, Dosa Sri Mulyani Abadi

Narasi yang menyebut bahwa rokok dan orangtua perokok adalah penyebab stunting masih perlu dielaborasi lebih kompleks. Maksudnya, diagnosa itu tidak bisa sesuka hati, harus ada penjelasan ilmiah dan bisa diterima akal sehat. Kenapa demikian? Karena faktanya ada banyak anak yang tumbuh kembang secara normal meski terlahir dari pasangan yang merupakan perokok.

Ada kok yang dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu perokok. Bahkan, kini sudah punya tiga anak hebat yang bebas dari ciri-ciri stunting. Salah satu anaknya bahkan sudah punya anak lagi. Sudah tiga garis keturunan dari seorang ibu perokok ternyata bebas dari stunting. Hal semacam itu umum terjadi di desa-desa. Kita sama-sama tahu itu. Lalu antirokok mau menjelaskan fenomena dengan cara apa?

Tanggung jawab negara pada kesejahteraan rakyat

Beberapa waktu lalu, pernah ada menteri yang mengimbau pada semua ayah di Indonesia agar berhenti merokok demi mencegah stunting. Alasannya, agar para ayah mengalokasikan uang rokoknya untuk pemenuhan gizi anak. Lagi-lagi, ini simplifikasi namanya.

Seorang level menteri menekan stunting dengan mengambinghitamkan rokok. Wajar saja masyarakat kita banyak yang masih jauh dari kesejahteraan, lha pejabatnya begitu. Ingat, kekurangan gizi disebabkan oleh ketidakmampuan mengakses penunjang gizi, pangkalnya adalah kemiskinan. Faktor ekonomi ini terlepas dari seseorang merokok atau tidak. Ada juga korban stunting dari keluarga non perokok. Jadi gizi si anak tidak bisa terpenuhi ya karena secara ekonomi gak sanggup memenuhi. Ada yang begitu. Banyak!

Orangtua merokok itu satu hal. Pemenuhan gizi serta kesehatan rakyat itu hal lain. Jangan dicampur aduk. Penuhi kewajiban negara untuk memastikan dan menjamin akses kesejahteraan dan kesehatan rakyat. Jangan kabur.

Meski begitu, perokok tetap perlu mawas diri dan berlaku santun. Menjadi perokok di Indonesia itu berat; tidak salah pun bisa dipersalahkan, apalagi berbuat salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.