bea cukai

Membayangkan Pegawai Bea Cukai Merayakan Idul Fitri di Kampung

Lebaran tahun ini begitu ganjil bagi Walid. Pegawai Bea Cukai golongan III ini merasa sikap teman kecilnya, Imron, begitu aneh. Lulus SMA, Imron menetap di kampung. Walid lanjut kuliah di Jakarta. Banyak romansa masa lalu membekas di ingatan keduanya. Termasuk saat pertama kali merokok.

Dulu, sigaret kretek filter kesukaan mereka kerap dibeli dengan cara patungan. Satu bungkus tak selalu habis satu atau dua hari, bisa sampai seminggu baru habis. Tak jarang pula, sebatang rokok mereka nikmati joinan. Lebaran di kampung halaman yang dulu dirasa begitu menyenangkan, kini tak lagi sama.

Sorot mata dan gestur beberapa teman yang dulu begitu ramah, vibesnya kini berubah. Seusai shalat Ied di masjid yang penuh kenangan masa kecil, tatkala terakhir ia mudik sebelum wabah pandemi mengubah banyak hal. Masjid itu selalu menyisakan keharuan di sanubarinya. Tapi di hari lebaran kali ini lain.

Saat silaturahmi lebaran pertama, keganjilan terlihat dari hambarnya obrolan dengan beberapa teman rantau yang juga lagi mudik. Tak ada suasana hangat yang guyub. Orang-orang yang masih dikenalnya, baik tetangga maupun teman kecil serasa menyembunyikan sesuatu yang tak terkatakan, beda dari biasanya.

Dari balik senyuman mereka, terselip nuansa ambigu yang  tak terjelaskan. Anak istrinya yang turut mudik pun tak lagi dipedulikan seperti dulu. Kalaupun ada, ya basa-basi dari beberapa saudara dekat.

Satu hal yang paling kentara, saat di hari kedua lebaran, Imron berkunjung ke rumah Walid. Tepatnya rumah orang tua Walid. Rumah yang tak lagi sesederhana dulu. Pasca tahun politik, rumah induk itu dipugar total. Ciri kesederhanaan rumah kampung telah tergantikan segala unsur modern.

Semua orang di kampungnya melihat perubahan yang luar biasa pada keluarga Walid. Ditandai sejak ia bekerja sebagai pegawai Bea Cukai, Walid banyak berinvestasi untuk menyenangkan kedua orang tuanya. Termasuk membeli beberapa aset usaha saudaranya yang bangkrut akibat dihantam pandemi, rumah, tanah, kebun, pula tambak ikan yang dibeli dari teman sekolahnya yang kalah bertarung di pemilihan Lurah.

Baca Juga:  Operasi Pasar Bea Cukai Terhadap Rokok Ilegal Tidak Bermanfaat

Saat nyonya Walid tengah seru bercerita tentang koleksi tas dan jam tangan impor dengan istri teman suaminya di ruang tamu. Walid mengambil kesempatan itu untuk ngopi di pekarangan. Sebagai sesama perokok, pekarangan cum taman berkonsep mediterania itu bagai area merokok yang terasa luas. Tempat yang sangat kontras dengan pekarangan Imron yang dihiasi kandang ayam dan kandang burung merpati. 

“Wah, rokok kesayanganmu berubah, Im.”

“Rokok Corona, Lid.” Timpal Imron. Tangan Walid sigap meraih bungkus rokok dari genggaman Imron

“Hmm, rokok tanpa cukai ini,” Walid mengamati saksama, membolak-balik bungkus rokok itu.

“Iya, seketemunya aja, buat pantes-pantes.” Ujar Imron, agak menahan malu. 

Naluri Walid sebagai abdi negara yang paham tentang arti cukai sebagai devisa bagi negara, membuatnya  merasa berkewajiban menceramahi Imron. Bahwa rokok tanpa cukai itu produk berbahaya, jauh lebih berbahaya dari rokok bercukai. Sebagai konsumen bijak, membeli rokok bercukai itu membuktikan kontribusi kita buat negara.

“Itu kamu buang aja, ini A Mild-ku buat kamu.” Walid menyodorkan rokoknya.

“Gak ah, aku lebih bangga ngisap ini.” Air muka Imron berubah, segera ia siasati. Dikepulkannya asap rokok polosan itu. Walid merasakan jawaban yang ganjil ketika Imron mendaku lebih bangga dengan rokok yang jelas-jelas merugikan.

“Ehiya, aku juga ada rokok tanpa asap nih. Iqos. Lebih aman.” Walid mengeluarkan benda kecil seukuran flashdisk dari sakunya, lalu dipamerkan lantas segera dinikmatinya. Imron bukan tidak tahu tentang jenis rokok itu. Bagi dirinya yang pekerja serabutan, rokok tanpa asap adalah rokok mahal yang dikonsumsi orang-orang berkelas saja. Pastinya, bukan kelas dia yang tak tentu kerjanya. Imron berusaha mengalihkan topik bahasan.

“Belakangan banyak pegawai pajak dan cukai yang tersangkut masalah ya, Lid”

“Ah biasa itu, Im, politis. Mau dekat 2024, banyak yang cari muka.”

“Orang kampung sudah banyak yang tahu, Lid.”

“Maksudmu, aku termasuk orang kayak Eko Darmanto dan Andhi Pramono, gitu?”

Baca Juga:  Betapa Mudahnya Membeli Rokok Ilegal di Warung Madura

“Aku paham betul kamu, Lid, kamu itu orang lurus. Tapi, tidak sedikit orang lurus tersandera oleh lingkungan yang korup.” Imron seperti balik menceramahi Walid. Gelagat Walid mulai tidak tenang. Dibakarnya batang rokok yang tadi ditawarkan kepada temannya yang dikenal juga sebagai merbot kampung. Imron menyeruput kopi yang tadi dibawanya dari ruang tamu.

Dari dalam ruang tamu, istri Walid berseru kepada suaminya untuk mengecek sebuah pesan di gawai. Walid tak mau ambil peduli dengan kode yang diulungkan istrinya.

“Aku ngerasa semua orang di sini terasa lain, Im.”

“Wajar Lid, dunia memang makin canggih, budaya kasak-kusuk punya cara kerjanya sendiri.”

“Iya, sekarang ini kita makin sulit membedakan mana hoax mana bukan.” Ujar Walid.

“Tapi, aku percaya hasil temuan Pak Mahfud MD, itu membuktikan adanya permainan yang selama ini disembunyikan oleh pemerintah, terlebih lagi…” Penjelasan Imron di bagian ini terhenti seketika. Sebab Walid akhirnya merespon panggilan yang terus bergetar di sakunya. Tiba-tiba, mata Walid membeliak seperti kaget bercampur panik. Imron tak mau terpancing perubahan ekspresi Walid.

Tak lama kemudian tubuh Walid seperti tersengat sesuatu dalam keadaan masih menggenggam smart phone. Imron bergerak cepat berusaha memberi pertolongan taktis. Meraih tubuh Walid untuk mendapatkan letak berbaring yang kondusif. Imron memanggil istrinya, kedua perempuan dan anak-anak mereka berhambur mendekati posisi Walid yang tak berdaya. 

“Pah! Pah! Papah! Banguuun, iiih, udah mau buka loooh.” Seru istrinya berusaha membangunkan Walid. Tampilan layanan pemesanan tiket pesawat terlihat pada monitor smartphone-nya, seraya dari gawai itu pula suara azan terdengar. Walid tersontak bangun dari tidurnya dan gelagapan.