Perokok Menolak Takluk

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di berbagai media, framing tentang rokok tidak jauh-jauh dari sesuatu yang jahat dan berbahaya. Minggu lalu, media sosial dihebohkan dengan kasus seorang pria yang meninggal dunia 19 hari sebelum pernikahannya. Menurut kabar yang tersebar, pria itu ditengarai meninggal akibat sakit paru-paru yang disebabkan oleh rokok. Masyarakat pengguna media sosial, khususnya mereka yang anti rokok, dengan cepat melariskan kabar tersebut hingga berantai dari satu akun ke akun lain.

Terlepas dari kebenaran penyebab kematian pria itu, seharusnya masyarakat bisa lebih adil dalam melihat persoalan. Masyarakat seolah tidak butuh lagi penjelasan medis tentang penyebab kematian pria tersebut. Celakanya, rokok dianggap sebagai penyebab tunggal.

Stigma negatif terhadap rokok secara otomatis akan melekat juga pada perokok atau konsumen rokok. Logika masyarakat pada umumnya mengamini rokok sebagai barang berbahaya, maka penggunanya adalah orang yang berbahaya. Pokoknya, segala hal yang berkaitan tentang rokok adalah hal yang buruk. Sepertinya sudah lazim masyarakat kita menilai orang lain berdasarkan subjektivitasnya masing-masing. Sampai kapanpun perokok tetap dipandang buruk.

Baca Juga:  Refleksi Perokok Pada Hari Laut Sedunia

Sebagai perokok, saya terlatih untuk ikhlas. Ikhlas bukan berarti menyerah. Ikhlas saya memahami akan sesuatu yang sulit diubah dari mayoritas. Namun dari sisi lain pandangan positif perokok juga perlu terus dikampanyekan. Masih banyak masyarakat yang belum tahu betul, bahwa rokok dikenakan pungutan pajak sebagaimana barang konsumsi legal lainnya yang ada di negara ini. Artinya, aktivitas merokok adalah aktivitas legal. Belum lagi kalau bicara tentang kontribusi perokok terhadap negara dari setiap batang yang dihisap. Wah, setidaknya saya perlu menghabiskan 2 batang rokok untuk menyelesaikan tulisan ini.

Fenomena tentang diskriminasi terhadap perokok semakin berkembang. Kini, saya tidak hanya dipusingkan dengan sikap diskriminatif masyarakat, mencari tempat untuk merokok saja sudah cukup memancing emosi saya. Jujur, saya kepalang kesal waktu harus menahan asem 10 jam karena gak ada ruang merokok di kereta. Aturan-aturan tentang Kawasan Tanpa Rokok juga semakin mempersempit ruang perokok. Tak ada yang keliru dari aturan tersebut, tapi ya mbok disediakan juga ruang merokoknya sebagai solusi saling menghargai antar hak.

Baca Juga:  FCTC dan Ancaman Kebijakan Pro-modal Asing

Dari semua itu, kita sama-sama tahu masalah-masalah apa saja yang sering dihadapi perokok. Mulai dari framing media, stigma negatif di masyarakat, hingga aturan-aturan yang membebani perokok. Lalu, apa saya berhenti merokok? Ya enggak lah. Masak hanya gara-gara hal sepele saya berhenti berkontribusi buat negara. Lagipula merokok itu hak pribadi kok.

Sudah lumrah rasanya jika setiap perjuangan akan menemukan berbagai hambatan. “Siapa pun yang melanggar hak-hak pribadi akan saya tentang, Bunda.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Minke tentang hak-hak pribadi seorang manusia yang harus terus dijunjung. Menurut saya, seorang perokok harus mampu bersikap seperti Minke dalam novel Bumi Manusia, menolak takluk pada setiap hambatan. Melalui karya Pram, saya mendapat satu nilai; Ikhlas boleh, menyerah jangan!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd