Ketika Kretek Turut Membangun Rumah Sakit

  • 70
  •  
  •  
  •  
  •  
    70
    Shares

Selama ini kretek selalu dianggap sebagai musuh bagi segala hal berbau kesehatan. Kretek adalah penyebab kematian, pelaku jebolnya anggaran kesehatan, dan segala penyakit mematikan tidak lain hanya disebabkannya. Begitu kira-kira orang berkata. Tapi, benarkah begitu hal yang terjadi?

Ada banyak hal yang tidak diketahui publik terkait kretek. Tentang bagaimana kretek terlibat dalam hidup dan penghidupan jutaan orang, tentang bagaimana kretek memberi pemasukan besar pada negara, tentang bagaimana kretek terlibat dalam tumbuh kembangnya bangsa ini. Hal-hal positif macam ini biasanya tidak dilihat karena ‘pembutaan’ massal akan pandangan masyarakat terhadap kretek.

Tidak hanya itu, kretek bahkan terlibat dalam berbagai hal yang membantu urusan kesehatan masyarakat. Tahun lalu, ramai pembicaraan mengenai bakal digunakannya sebagian dana cukai untuk menutup kerugian BPJS Kesehatan. Setelah kebijakan itu disahkan, per tahun ini kebutuhan BPJS Kesehatan untuk melayani publik turut dibantu dengan duit dari kretek.

Di luar persoalan BPJS, ada beragam hal lain yang juga tidak diketahui publik. Seperti turut digunakannya dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) oleh dinas kesehatan di daerah-daerah penerima untuk banyak hal. Ada kota/kabupaten yang menggunakannya untuk memperbarui teknologi kesehatan di rumah sakit daerah, malah ada juga yang digunakan untuk membangun rumah sakit.

Baca Juga:  RPP Tembakau dan Ancaman Kebijakan Pro Modal Asing

Pada tahun 2016, dibangun sebuah gedung layanan kesehatan Jantung di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Loekmonohadi Kudus. Anggaran pembangunan gedung layanan jantung ini dibangun dari DBHCHT dan memakan biaya sekitar Rp 65 Miliar. Selain pembangunan gedung, dana tadi juga digunakan untuk kelepngkapan fasilitas kesehatan di dalamnya.

Di Gresik, Rumah Sakit Ibnu Sina mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 10 Miliar guna menambah kelengkapan fasilitas kesehatan pada tahun 2017. Perlengkapan kesehatan yang dibeli seperti ambulans, brankar alat kedokteran, bedsidecabinet,bedside monitor, emergencytrolly, dan masih banyak yang lain. Selain itu, rumah sakit ini juga mendapatkan bantuan dana dari cukai pada setiap tahunnya.

Sementara itu, belum lama ini baru saja diresmikan sebuah rumah sakit di Pasuruan yang keseluruhan dananya juga diambil dari duit ‘rokok’. Pembangunan RSUD Grati sendiri telah dimulai sejak 2017 dan diharapkan mampu menanggulangi persoalan kesehatan yang banyak terjadi di Pasuruan Timur. Menghabiskan anggaran Rp 30 Miliar, RSUD Grati Pasuruan ini adalah sebuah rumah sakit terbaru yang dibangun dari dana cukai.

Baca Juga:  Sejarah Peraturan Cukai Hasil Tembakau di Indonesia

Melihat beragam ‘bantuan’ kretek dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat, agaknya menjadi bukti bahwa kretek tidak pernah benar-benar bermusuhan dengan dunia kesehatan. Bahwa kemudian kretek memiliki faktor risiko terhadap penyakit tertentu memang benar. Tapi hal ini tidak berarti jika kretek dan dunia kesehatan tidak bisa berjalan beriringan.

Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit