4 Hal yang Menyenangkan dari Perokok Santun

  • 479
  •  
  •  
  •  
  •  
    479
    Shares

Saya lahir di lingkungan keluarga yang merokok. Bahkan Bapak saya bisa dikatakan sebagai seorang perokok berat. Beliau merokok dengan merek apapun, asalkan kretek. Sehingga, dari kecil saya pun terbiasa dengan lingkungan orang yang merokok. Dan merasa tidak masalah dengan asapnya.

Soal berada dalam lingkungan kerja perokok, tentu ada beberapa hal yang saya rasakan. Misalnya dengan bekerja bersama para perokok, tentu harus siap menyulap ruang rapat yang ramah bagi perokok alias smoking area. Ataupun ketika sedang tugas di lapangan bersama partner yang merokok, tak jarang kita diajak mampir ke warung demi membeli kebutuhan sebungkus rokok. Persoalan semacam itu tentu sebatas persoalan teknis kerja yang bisa diatasi dengan kesepakatan bersama dan bagi saya tidak pernah mengganggu sedikitpun. Jadi ketika saat ini lingkungan kerja dan pertemanan saya didominasi oleh perokok, saya oke-oke saja.

Justru di luar itu, ada beberapa hal yang menarik bagi saya tentang mereka yang merokok. Yang semakin menjadikan saya tidak merasa ada masalah dengan keberadaan mereka.

Baca Juga:  Alangkah Gawatnya Republik Porno Itu

Pertama, jika ada dari mereka (apalagi yang tidak terlalu sering saya temui) akan merokok di dekat saya, mereka akan meminta izin terlebih dahulu, apakah boleh merokok di dekat saya. Karena takut jika asapnya akan menganggu dan membuat saya tidak nyaman. Dan jika saya membolehkan, mereka baru mulai menyulut rokoknya. Bahkan, setelah meminta izin pun, mereka seringkali akan mengibas-ngibaskan asap yang keluar dari hidungnya agar tidak kena ke arah saya. Perhatian banget kan?

Kedua, dari hasil pengamatan saya, rata-rata dari mereka adalah orang-orang yang santai dan nyaman untuk diajak ngobrol banyak hal. Saya tidak ingin membahas detail tentang bagaimana korelasinya. Namun, yang saya rasakan, ketika saya mengobrol dengan teman-teman yang merokok, saya merasa lebih diterima dan tidak dijudge. Oh ya, menurut saya rokok juga seringkali membuat suasana menjadi lebih akrab dan hangat. Uuuww~

Ketiga, seringkali saya perhatikan, banyak di antara mereka yang kemudian menjadi teman hanya karena sama-sama merokok. Misalnya, ketika berada di tempat umum, salah satu di antara mereka tidak punya korek, kemudian pinjam ke orang lain (yang sebelumnya belum kenal) yang kebetulan terlihat memiliki korek. Dan jeng jeng jeng, dari interaksi sederhana itulah kemudian berlanjut basa-basi dan tak jarang bahkan bisa saling curhat berkeluh kesah tentang susahnya kehidupan. So sweet abis kan?

Baca Juga:  Inilah Alasan Mengapa Kemenkes Menolak CPNS Perokok

Keempat, mungkin mereka juga bisa dibilang sebagai orang-orang yang belajar untuk selalu setia. Minimal dengan setia pada pilihan rokok mereka, dan sulit untuk mengalihkan seleranya kepada merek rokok yang lain. Kecuali, jika mereka kehabisan rokok dan terpaksa meminta teman yang lain, yang kebetulan saat itu tidak ada yang merokok merek sepertinya.

Intinya sih, saya merasa nyaman-nyaman saja bergaul bahkan bekerja dengan orang yang merokok, karena saya merasa mereka menghargai keberadaan saya dan selalu berusaha untuk membuang asapnya dengan tidak seenaknya sendiri.

Oh ya, ngomong-ngomong saya tidak paham, kenapa orang yang merokok dianggap nakal, apalagi jika itu perempuan. Merokok dan sikap nakal, saya kira adalah sesuatu yang berbeda.

PS: Saya pernah mencoba merokok, kenapa? Karena pingin saja. Dan sekarang sudah tidak lagi, kenapa? Ya karena pingin saja.

Audian Laili

Pencerita. Tinggal di Yogyakarta.