Orang-merokok

Perokok Bukan Pecandu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Saya teringat sebuah kutipan dari Adolf Hitler, bahwa propaganda yang efektif dan berkelanjutan dapat membuat seseorang mengira surga adalah neraka, dan neraka adalah surga. Pernyataan Hitler tersebut terbukti benar dan terjadi, setidaknya bagi mereka yang meyakini bahwa rokok bisa menyebabkan kecanduan.

Dulu, saya sempat mempercayai bahwa rokok akan menimbulkan rasa candu bahkan sejak isapan pertama. Pada titik tertentu, kecanduan rokok dapat menyebabkan kematian. Tapi itu dulu, sebelum kenal internet. Informasi yang saya terima hanya bersumber dari orang tua dan guru. Kini, saya sadar kalau pandangan-pandangan tersebut tidak hanya absurd, tapi juga berlebihan.

Anti rokok sengaja mempropagandakan isu dengan redaksi yang lebay dan mengerikan untuk menimbulkan rasa takut seseorang pada rokok. Propaganda tersebut ternyata efektif dan terus direproduksi. Sebagai akibatnya, publik kesulitan membedakan surga dengan neraka. Betapa tidak, kita terlalu sering mendengar propaganda semacam ini di media massa, televisi dan nasihat-nasihat kesehatan.

Hingga saat ini belum pernah ada penelitian ilmiah yang mampu menjelaskan secara komprehensif kebenaran tentang rokok yang menyebabkan candu. Tapi saya bukan ingin membahas penelitian. Saya hanya agak terganggu dengan frasa ‘candu’ yang digunakan.

Baca Juga:  Saya Merokok, Saya Menabung, Saya Bisa Beli barang Mahal

Candu, dalam kalimat ‘rokok menyebabkan candu’ diartikan sebagai sifat ketagihan. Artinya, perokok dianggap sudah ketagihan bahkan ketergantungan mengonsumsi rokok. Jika memang demikian maksudnya, menggunakan kata ‘candu’ dalam kalimat ‘merokok menyebabkan candu’ sangat tidak tepat. Candu memiliki arti dalam kelas nomina sehingga hanya digunakan untuk menyatakan kata benda atau sesuatu yang dibendakan, bukan kata sifat.

Dalam sejarah bangsa China, candu (kata benda) sudah dikenal dan dikonsumsi masyarakat sejak abad ke-15. Pada tahun 1729, candu kemudian dilarang oleh pemerintahan feodal Dinasti Qing kala itu karena efeknya yang merusak. Konsumen candu akan terilusi dengan khayalan kebahagiaan yang sebenarnya tidak terjadi. Konsumen candu tersebut yang kemudian disebut sebagai pecandu.

Jumlah pecandu di China saat itu sangat besar. Para pedagang asing mulai menyelundupkan candu ke daratan China melalui pelabuhan di Guangzhou sebagai satu-satunya pintu masuk perdagangan ke daratan China. Dinasti China saat itu sangat anti terhadap intervensi dunia luar terutama dalam sektor ekonomi.

Pecandu di China semakin besar. Banyak orang yang rela menyerahkan harta benda pada pedagang asing untuk ditukar dengan candu. Keadaan tersebut memang sengaja diciptakan oleh pihak asing, terutama Inggris, lantaran kesulitan menembus pasar China yang saat itu mengisolasi diri dari dunia luar. Puncaknya, seorang Pangeran bahkan turut menjadi pecandu. Ekonomi China melemah. Kaisar geram. Perang Candu terjadi.

Baca Juga:  Ketika Pemkot Bogor Membangkang Terkait Perda KTR

Sejarah tentang Perang Candu di China bisa kita temukan di internet. Dari gambaran singkat di atas, setidaknya kita jadi tahu bahwa candu memiliki efek negatif yang pada titik tertentu bahkan bisa menyebabkan terjadinya perang. Oh, saya garisbawahi ini: yang dimaksud pecandu adalah konsumen candu.

Distorsi dari efek negatifnya berdampak pada makna kata candu yang kita serap ke bahasa sehari-hari hingga mengandung konotasi yang negatif. Konotasi negatif inilah yang selalu disematkan pada perokok. Saya curiga, frasa ‘candu’ sengaja dipilih oleh anti rokok untuk dipropagandakan agar banyak orang terilusi dengan dongeng bahaya rokok.

Kita masih bisa mendebat pandangan yang menyebut rokok bersifat adiktif. Tapi, istilah ‘pecandu rokok’ rasanya terlalu bodoh untuk diterima. Kalau seorang perokok sudah mampu menolak label pecandu, percayalah, Ia sudah mampu membedakan surga dengan neraka.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd