kretekindonesia

Ide Mulia Para Peserta Pilkada Menyoal Rokok

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Guru Besar Antropologi Universitas Gajah Mada, Prof. Dr. PM Laksono, MA, pernah mengatakan bahwa tembakau sejak zaman kolonial menjadi komoditas primadona andalan. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi dan telah memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi pemerintah Hindia Belanda. Karena nilai ekonomis yang tinggi, tembakau sering disebut dengan istilah emas hijau. Dengan fakta itu, tidak heran jika segala hal ihwal yang berkaitan dengan tembakau sarat akan kepentingan.

Isu tembakau ternyata berkembang menjadi isu yang selalu ‘seksi’ untuk dibahas. Dalam suasana politik seperti hari ini, tidak sedikit politisi, terutama mereka yang berkompetisi di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap pelestarian tembakau. Banyak di antara mereka juga yang menunjukkan keberpihakannya pada kesejahteraan setiap pihak yang terlibat dalam industri hasil tembakau (IHT).

Pada perhelatan Pilkada Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul memilih pabrik pengolahan tembakau sebagai lokasi yang dikunjungi di hari pertama kampanye. Gus Ipul menilai bahwa industri padat karya seperti pengolahan tembakau telah menjadi tulang punggung banyak keluarga di Jawa Timur, beliau pun berjanji akan mempertahankan industri pengolahan tembakau serta meningkatkan kesejahteraan para pekerjanya.

Baca Juga:  Mendiskreditkan Rokok Melalui Deklarasi Antinarkoba

Tak hanya Gus Ipul, pasangan Ana dan Wawan juga menjadikan isu tembakau sebagai salah satu program unggulan dalam kampanye pemilihan Bupati di Kabupaten Bojonegoro. Mereka bahkan mewacanakan bantuan tunai Rp 10 juta untuk modal tanam bagi para petani termasuk petani tembakau di Bojonegoro dengan alokasi yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Para petani dan pekerja tembakau kembali dihadapkan pada janji kesejahteraan.

Dua pekan yang lalu, Khofifah Indar Parawansa (yang juga calon gubernur Jawa Timur) mengunjungi pabrik rokok Sampoerna. Selesai berdialog dengan jajaran manager PT Hanjaya Mandala Sampoerna, beliau mendapatkan data bahwa selama dua tahun terakhir terjadi penurunan konsumsi untuk sigaret kretek tangan (SKT) sebesar 2%. “Ada penurunan SKT ke sigaret kretek mesin (SKM). Padahal SKT ini adalah produksi rokok yang padat karya sedangkan SKM adalah padat modal, ada pesan bahwa saat ini SKT dinilai old fashion dan beralih ke SKM,” katanya pada awak media.

Mantan Menteri Sosial ini menilai bahwa industri padat karya harus mendapat perhatian khusus dalam bentuk jaminan perlindungan. Ada dua alasan yang dikemukakan; pertama, masih ada 800 ribu lebih pengangguran di Jawa Timur dan industri pengolahan tembakau menyumbang rekruitmen pegawai yang cukup besar. Kedua, hampir 100% tenaga kerja yang diserap adalah perempuan dan mayoritasnya adalah tulang punggung keluarga.

Baca Juga:  Budidaya Tembakau Lokal di Kabupaten Bangli

Khofifah menegaskan komitmen keberpihakannya pada industri padat karya. Ia paham, bahwa selain menjadi warisan budaya bangsa, kretek juga menjadi sumber penghidupan banyak keluarga khususnya di Jawa Timur.

Ide mulia para kontestan Pilkada memang bukan hal yang baru. Mereka yang berkompetisi dalam kontestasi electoral memang membutuhkan simpati publik yang akan menjadi konstituen. Namun, apapun alasan di balik ide-ide mulia tersebut, sesuatu yang menghasilkan manfaat perlu rasanya untuk diapresiasi. Semoga para calon kepala daerah dapat memanifestasikan janji dan gagasan mulianya dalam bentuk kebijakan riil kelak. Semoga!

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd