Harga Rokok

Harga Rokok di Indonesia Murah, Yakin?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ada beragam model argumentasi yang digunakan oleh antirokok menyoal harga rokok. Argumentasi yang dikedepankan seringkali aneh dan sesat nalar. Misal, mereka membandingkan masyarakat yang bisa belanja rokok hingga Rp 350 ribu per bulan, sedangkan banyak masyarakat yang tidak mampu bayar BPJS yang hanya Rp 25 ribu per bulan hingga negara harus menanggung. Dari argumentasi tersebut, lahirlah sebuah ide untuk menaikkan harga rokok.

Yang saya maksud sesat nalar adalah; pertama, tidak ada data jelas tentang jumlah orang yang belanja rokok hingga Rp 350 ribu per bulan. Kedua, tidak bisa dipastikan ada berapa masyarakat yang belanja rokok Rp 350 ribu per bulan itu yang tidak membayar BPJS. Ketiga, hak atas jaminan kesehatan memang tanggung jawab konstitusional negara. Aneh, bukan?

Kelompok antirokok semakin gencar mengkampanyekan kenaikkan harga rokok. Kampanye ini dilakukan dengan memanfaatkan momentum munculnya wacana kenaikkan cukai. Mereka selalu berdalih bahwa harga rokok di Indonesia itu terlampau murah. Perbandingannya, tentu saja dengan harga sebungkus rokok di luar negeri yang (jika dirupiahkan) mencapai ratusan ribu.

Baca Juga:  Perokok Dinista, Perokok Penyelamat Bangsa

Padahal, harga di Indonesia sebenarnya lebih jauh lebih mahal ketimbang harga rokok yang ratusan ribu rupiah itu. Perhitungannya jelas, bukan dengan mengubah kurs secara sederhana seperti yang dilakukan antirokok. Kalau kita mau lebih serius menghitung, sebenarnya harga rokok di luar negeri, misal di Australia, jauh lebih murah daripada rokok di Indonesia. Dari perhitungan tersebut kita akan sadar bahwa indikator murah atau mahalnya suatu produk tidak bisa disamakan di tiap negara.

Begini hitungannya. Di Indonesia, harga sebungkus rokok setara dengan uang yang kita keluarkan untuk 2 kali makan. Bahkan, untuk sebagian orang, harga sebungkus rokok setara dengan harga 1 kali makan. Sementara di Australia, sebungkus rokok seharga 22 dolar Australia. Nilai tersebut terhitung setara dengan anggaran 2 kali makan di beberapa restoran yang tidak terlalu besar.

Jika menghitung dari perbandingan tersebut, harga rokok di Indonesia bahkan terhitung lebih mahal ketimbang di Australia. Ya memang sih kalau dirupiahkan harga sebungkusnya mencapai ratusan ribu. Tapi hitung-hitungan lebih murah itu jelas tidak valid mengingat harga sebungkus rokok di Indonesia hanya sebanding dengan 1 kali jatah makan orang kita.

Baca Juga:  Hidup Susah Pabrik Rokok Kecil

Kalau mau menghitung dengan yang lebih rinci lagi, mari coba bandingkan tingkat pendapatan masyarakat di Australia dan di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, upah minimum tenaga kerja dibayarkan seharga Rp 3-4 jutaan. Itu ya per bulan. Kalau dihitung per hari, palingan hanya sekitar Rp 120 ribu.

Sementara, Rata-rata gaji di Australia per kapita adalah sekitar USD 6.600 (setara dengan Rp 85 juta) per bulan dan menjadi Rp 2,8 juta per hari. Jika seorang di Australia, berpenghasilan Rp 2,8 juta per hari, membeli rokok seharga Rp 200 ribu sebungkus, itu hanya senilai 1/14 penghasilannya sehari. Sementara di Indonesia, untuk membeli sebungkus rokok yang harganya Rp 20 ribu, kita harus mengeluarkan 1/6 penghasilan sehari.

Direktur Executive Center for Indonesian Taxation Analysis, Yustinus Pratowo, menyebut harga rokok di Indonesia jauh lebih mahal jika dihitung berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative Income (PRI), yaitu rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.

Baca Juga:  Saatnya Pemerintah Melupakan Freeport

Memang, orang yang tak paham hitung-hitungan ekonomi bakal mudah terkecoh dengan perbedaan nominal. Namun jika dilihat dan dihitung dengan cara yang benar, harga rokok di Indonesia malah terbukti lebih mahal daripada harga rokok di negara lain. Sayangnya, orang-orang yang terkecoh itu sudah terlanjur benci dan koar-koar kalau harga rokok murah. Sekalipun salah, seorang yang sudah anti terhadap rokok akan selalu mencari alasan untuk membunuh rokok.

Komunitas Kretek

Komunitas Asyik yang Merayakan Kretek Sebagai Budaya Nusantara