Rokok

Hari Tanpa Tembakau Sedunia dan Pembohongan Terkait Manfaat Kretek Untuk Bangsa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ada dua hal yang paling menyebalkan dari kampanye antitembakau. Pertama, Ia menihilkan peran dan nilai yang dimiliki oleh komoditas ini. Kedua, dan yang paling mengesalkan, kampanye yang dilakukan oleh kelompok tersebut selalu bernada intimidatif dan menakut-nakuti. Ya, menakut-nakuti.

Kedua hal inilah yang kemudian menjadi metode utama mereka untuk membuat masyarakat membenci kretek. Tanpa mau menyebut peran besar kretek bagi bangsa Indonesia, mereka hanya berujar: rokok itu mesin pembunuh dan perokok itu pembunuh. Tidak boleh ada celah buat perokok (juga kretek) untuk bisa tetap eksis di dunia ini.

Karenanya, pada hari yang mereka rayakan sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia, dikeluarkanlah semua upaya untuk memaksa masyarakat dan negara membenci komoditas ini. Dengan segala dalih yang ada, mereka memaksa bangsa ini lupa pada satu produk yang telah hidup bersama dengan masyarakat dalam waktu ratusan tahun.

Satu hal yang perlu kita tolak dari keberadaan hari ini adalah upaya mereka menihilkan peran kretek untuk bangsa kita. Perlu diingat, ada puluhan juta masyarakat yang hidupnya bergantung dari produk ini. Mulai dari sektor hulu seperti petani, hingga sektor hilir layaknya pedagang asongan menggantungkan hidupnya pada komoditas ini.

Baca Juga:  Kretek, Produk Budaya yang Menjadi Penghidupan Masyarakat Nusantara

Kemudian, yang tidak boleh dilupa, tentu saja kebutuhan negara pada pemasukan dari sektor ini. Selain menghasilkan dana besar dari sektor pajak, harus diingat keberadaan cukai yang memberi pemasukan hingga ratusan triliun setiap tahunnya menjadi andalan pemerintah untuk menjalankan program pembangunan. Belum lagi, pemasukan negara dari cukai rokok adalah salah satu jenis pemasukan paling tinggi yang bisa mereka dapatkan.

Bisa jadi, pandangan mereka yang (hanya) dilandasi logika kesehatan membuat mereka buta pikiran kepada kretek. Bahwa kretek menjadi barang konsumsi yang punya faktor risiko penyakit adalah betul. Tapi perlu diingat, hampir semua barang konsumsi yang beredar di pasaran memiliki faktor risiko tersendiri terhadap penyakit. Jadi, tidak bisa kita memaksakan ide bahwa rokok adalah satu-satunya penyebab kematian masyarakat.

Belum lagi cara-cara yang dilakukan kelompok antitembakau untuk meyakinkan dan mendiskreditkan perokok. Beuh, ngeri betul. Perokok dianggap sebagai pembunuh bagi orang-orang disekitarnya. Gambar seram nan menakutkan dipajang di banyak baliho dan iklan televisi. Dan yang paling parah, melalui regulasi yang mereka dorong, perokok benar-benar hendak disiksa oleh para pembenci rokok.

Baca Juga:  Isu Tembakau Bukan Dagangan Politik

Jika memang negara dan masyarakat yakin dan sepakat bahwa rokok itu adalah mesin pembunuh yang tidak punya nilai dan peran untuk bangsa, yasudah. Gampang kok, buat saja regulasi yang melarang keberadaan industri tembakau di negara ini. Paksa petani untuk tidak lagi menanam tembakau, karena tanaman itu telah dianggap sebagai pembunuh. Produk rokoknya, ya ilegal. Kalau tanaman dan industrinya tidak diperbolehkan hadir, rokok dijadikan barang terlarang, tidak bakal lagi ada masalah-masalah yang disangkakan pada perokok.

Namun, jika pemerintah menyadari bahwa keberadaan kretek beserta industrinya adalah penting untuk bangsa ini. Pemerintah memahami betapa besarnya manfaat dari kretek untuk masyarakat (juga kas negara tentu saja). Buatlah satu regulasi yang bisa mengakomodir kepentingan semua pihak.

Karena kita sama-sama tahu, hari tanpa tembakau sedunia hanyalah akal-akalan kelompok antitembakau untuk mendiskreditkan rokok. Untuk itulah, perlawanan terhadap keberadaan hari ini harus digalakkan. Karena hari tanpa tembakau sedunia telah melakukan satu fitnah keji pada kretek dan tembakau: menyatakan produk ini tidak memiliki manfaat untuk negara.

Baca Juga:  Rokok Penyebab Pasti dari Statistik Kebakaran di Jakarta?

Sudah saatnya kita bangkit, melawan segala bentuk kampanye bohong yang diserukan tatkala hari tanpa tembakau sedunia. Dan jika mereka selalu melakukan kampanye negatif nan menakutkan untuk mendiskreditkan kretek, maka yang kita lakukan haruslah penuh dengan kegembiraan. Sama seperti saat kita mengisap kretek dan semua persoalan di kepala menjadi lebih sederhana.

Furqon Nazali

Bergembira sebelum negara api menyerang