perokok-kretek

Kampanye Tolak Pacar Perokok adalah Hal Konyol yang Meledek Kewarasan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Semakin konyol saja usaha antirokok dalam mengolok-olok kewarasan publik. Konyolnya itu sampai pada perkara pilihan orang untuk punya pacar yang bukan perokok. Kekonyolan itu dinyatakan sebagai upaya mewujudkan generasi yang lebih baik, kononnya. Apa iya dengan melariskan kekonyolan itu maka generasi yang lebih baik akan terwujud?

Dulu, Adolf Hitler, diktator paling kejam pada masa Nazi Jerman berkuasa juga pernah membunyikan hal yang senada. Yang olehnya diberlakukan kepada semua perempuan di Jerman. Termasuk kepada Eva Braun, teman hidupnya, serta para personel militernya.

Jika di era demokrasi seperti sekarang masih ada pihak yang mereproduksi kampanye semacam itu, maka itu sama saja menghidupkan kegilaan Hitler di dalam kehidupan masyarakat kita yang majemuk.

Kemajemukan bangsa kita mengisyaratkan adanya keragaman ekspresi budaya. Bahkan dalam soal memaknai jodoh ataupun teman hidup. Yang menyedihkan kampanye “Tolak Pacar Perokok” itu dipaksakan kepada para mahasiwa, yang kita tahu mereka adalah salah satu golongan terpelajar. Apa bukan sebuah pelecehan itu?

Baca Juga:  Prevalensi Perokok Anak dan Larangan Display Rokok

Lagipun perkara pilihan punya pacar dengan kriteria-kriteria tertentu jelas bukan ranah yang boleh diintervensi oleh siapapun. Celakanya, yang dipaksa untuk melariskan kampanye konyol itu adalah orang-orang yang bisa dikata sudah berhak menentukan masadepannya sendiri.

Lebih jauh lagi dilipatgandakan pula dengan kampanye yang berbunyi “Tolak Mertua Perokok”. Makin konyol saja akal-akalan antirokok dalam mengolok-olok kewarasan masyarakat. Memangnya kalau punya mertua bukan perokok lantas menjamin kehidupan yang lebih sehat? Iya kagak juga, Pak Dirjen.

Coba bayangkan, kalau saja anaknya Ibu Susi atau anaknya Pak Hanif Dakhiri—yang kita kenal sebagai menteri yang juga perokok—kena doktrin kampanye macam itu. Sudah pasti bakal tersinggung itu anak. Wong orangtuanya yang perokok saja belum tentu melarang-larang sampai segitunya, eh ini ada orang lain dengan konyol memaksakan kampanye yang mengusili wilayah privasi manusia dewasa. Celaka betul isi kepala birokrat macam itu.

Perkara menentukan siapa yang disukai dan siapa yang tidak disukai itu bukanlah ranah yang berhak ditentukan orang lain. Setiap warganegara dilindungi secara konstitusional, dan sebagai manusia merdeka, setiap orang punya selera dan ketentuan yang tidak berhak diperolok lewat cara-cara kampanye yang demikian.

Baca Juga:  Rokok Bukanlah Penyebab Tindakan Kriminal

Rokok sebagai barang legal serta aktivitas merokok pun dilindungi oleh konstitusi, sungguh itu bukanlah wilayah yang berhak dilecehkan apalagi diatur-atur oleh kepentingan antirokok. Hargailah bahwa orang lain juga punya pilihan merdeka dalam menyikapi siapa yang disukai dan yang tidak disukainya. Sama halnya dengan pilihan orang dalam meyakini nilai-nilai keyakinan yang dianutnya. Kemerdekaan dalam hal ini telah dijamin oleh Undang-undang.

Artinya, jangan sampai ada kepentingan absurd bahkan kebencian kita terhadap suatu golongan lantas dipaksakan kepada orang lain untuk juga menganut  kebencian yang sama. Karena itu sama saja menghina perjuangan para pendiri bangsa ini yang sudah susah payah berjuang mewariskan kemerdekaan kepada kita.

Jibal Windiaz

anak kampung sebelah